
.......
.......
.......
.......
...♥️♥️♥️♥️♥️...
Beberapa saat setelah itu mereka berdua pun telah sampai di desa tempat tinggal Tasya. Tasya dan Alhan,pun berjalan perlahan menuju ke rumah Tasya, tampak suasana desa lumayan ramai penduduk.
"Mas,hari ini kita tidur di rumah aku dulu aja ya?."
"Iya dek."
Mereka berdua berjalan perlahan menuju ke rumah Tasya yang sudah lumayan dekat dari keberadaannya saat ini.Namun tiba tiba ada yang memanggil mereka dari belakang mereka,Tasya tidak asing dengan suara itu sehingga Tasya pun menoleh dan ternyata itu adik satu satunya yang paling Tasya sayangi.
"Adek."panggil Tasya.
"Kakak." setelah itu adiknya menghampiri Tasya dan memeluknya.
Tasya begitu bahagia bisa bertemu lagi dengan adiknya yang paling dia sayangi.
"Adiknya kakak udah gede ya sekarang." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian Arda melepaskan pelukannya.
"Iya dong kak." Arda tersenyum.
"Pasti udah punya pacar kan." ledeknya dengan tersenyum.
"Nggak punya kakak." Arda tersenyum.
"Itu ada jerawatnya." Tasya tersenyum.
Kemudian mereka bertiga melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah.
"Jerawat aja kak." Arda tersenyum, "Tapi kakak makin tua makin cantik."
"Iya dong,kakaknya siapa dulu nih." Tasya tersenyum
"Kakak aku lah." Arda tersenyum.
Kemudian setelah itu ada seorang cewek menghampiri Arda,cewek itu adalah Diva teman sekolah Arda, wajahnya terlihat begitu marah.
"Arda kamu harus tanggung jawab."
Tasya dan Alhan yang mendengar itu pun langsung kaget.
"Hah tanggung jawab." ucap Tasya.
Kemudian Diva menoleh ke Tasya, "Eh mbak Tasya udah pulang,gimana kabarnya mbak?."
"Baik kok Va." jawabnya, "Tapi kamu minta tanggung jawab apa ke Arda?, kamu di hamilin Arda ya."
Seketika Arda menatap wajah kakaknya dengan mata yang melotot, "Kakak ngomong apaan sih?."
"Gak kali mbak,jadi Alhan tadi waktu di sekolah itu janji kalau kalah mau bantu Diva,eh malah gak datang datang ke rumah Diva."
"Oh gitu,kirain ngehamilin kamu." Tasya tersenyum.
"Kakak aku ternyata pikirannya mesum banget ya." Arda tersenyum.
"Ih kamu ngomong apaan sih dek, bisa bisanya bilangin kakak pikirannya mesum." Tasya tersenyum.
Kemudian Diva menggeret tangan Arda,"Gak usah alasan lagi kamu Da."
"Iya Va,tapi gak usah tarik tarik gini juga kali."
Melihat kelakuan adiknya itu,Tasya dan Alhan pun tertawa,sementara Arda dan Diva pun meninggalkan mereka berdua.
"Ada ada aja deh mereka mas." Tasya tersenyum.
"Iya ya,lucu banget adek kamu itu."
Kemudian mereka berdua melanjutkan perjalanan,hingga akhirnya mereka sampai di rumah Tasya.Tempat Tasya di besarkan dengan kasih sayang orang tuanya, dia tidak sabar bertemu dengan kedua orang tuanya.
"Asalamualaikum."
"Siapa ya?." suara ibunya dari dalam.
Kemudian ibunya pun keluar dari dalam rumah,betapa bahagianya ibunya melihat anak perempuan yang paling di sayanginya sudah pulang ke rumah, setelah dua tahun anak perempuannya itu tidak pulang.
"Anak ibu sudah datang."
Kemudian Tasya memeluk ibunya dengan penuh kasih sayang,air matanya menetes ketika kini dia melihat wanita yang telah melahirkannya tepat di depan matanya, setelah dua tahun tidak bertemu langsung.
"Maaf ya bu,Tasya baru bisa pulang sekarang." Tasya menangis bahagia.
"Gak opo opo nduk,ibu seneng banget anak ibu masih bisa pulang dengan selamat."
Kemudian Tasya melepaskan pelukannya,setelah itu dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya di depan ibunya,dia seketika langsung menangis layaknya anak kecil.
"Maaf ibu,Tasya belum bisa memberikan ibu cucu pertama." tangisan penyesalannya.
Kemudian ibunya memeluk Tasya dengan penuh kasih sayang mencoba menenangkan anak perempuannya yang kini telah tumbuh besar.
"Udah jangan nangis nduk,ibu gak apa apa kok,kan kamu masih muda, masih ada kesempatan lagi dan juga itu sudah takdir jadi kita harus ikhlas menerimanya."
"Nggeh bu."
"Sekarang anak ibu gak boleh nangis ya."
Kemudian ayahnya pun pulang ke rumahnya dengan wajah kaget serta bahagia bisa melihat anak perempuannya yang kini telah kembali pulang ke rumah.
"Ayah." Tasya langsung memeluk laki laki yang paling di sayanginya itu.
"Ayah sehat kan?."
"Alhamdulillah nduk sehat."
"Alhamdulillah kalau gitu yah."
Kemudian Tasya melepaskan pelukannya.
"Anak ayah makin cantik aja sekarang." ucapnya dengan tersenyum.
"Ayah bisa aja deh." Tasya tersenyum.
Kemudian Alhan mencium tangan ibu dan ayah mertuanya.
"Terima kasih ya nak,udah jagain anak ibu." ibunya tersenyum.
"Itu kan udah kewajiban aku Bu sebagai suami."
"Ibu,aku sama mas Alhan tidur di sini nanti malam gak apa apa ya."
"Kok pakek nanya sih nduk,ya gak apa apalah ibu sama ayah malah seneng loh rame biar gak kesepian." ucap ibunya.
"Makasih ibu."
"Yaudah sekarang ayo masuk dulu,ibu udah masakin makanan yang spesial buat kamu." ucap ibunya.
"Masak apa tuh bu?."
"Pokoknya spesial banget buat kalian berdua." Alhan tersenyum.
Kemudian mereka masuk segenap melepas kerinduan mereka setelah dua tahun tidak bertemu.
..................
Paginya mereka telah sampai di depan rumah Alhan,setelah mereka tidur semalam di rumah Tasya.Tak lama setelah itu tiba tiba kedua keponakan Alhan pun keluar dari rumah yaitu Rizal yang kini telah berumur 8 tahun dan Rifqi yang telah berumur sekitar 4 tahunan.
Kemudian Rizal berlari ke dalam rumah memberitahukan kepada semua orang yang ada di dalam jika mereka berdua telah sampai di rumah, sementara Rifqi berlari menghampiri mereka berdua.
"Mama di sini ya Rif?." tanya Alhan.
"Iya mas."
Kemudian Rizka,Via,Edo (suami Via) Dio(suami Rizka),Resya,bapak dan emaknya Alhan pun keluar dari dalam rumah.Setelah melihat mereka semua keluar,Alhan pun langsung memeluk bapak dan emaknya, sementara Tasya menghampiri Rizka dan juga Via.
"Adik ipar aku makin tua makin cantik ya." Via tersenyum.
"Iya mbak ya makin cantik aja." saut Rizka.
"Mbak bisa aja deh." Tasya tersenyum.
"Aslinya Tasya udah gendong anak ya tapi,yang sabar ya dek." ucap Via.
"Iya mbak,aku udah mencoba untuk bersabar walaupun dulu sempat terpukul." Tasya tersenyum.
"Pasti sakit banget ya Sya." Rizka tersenyum.
"Iya mbak."
"Aku yang jadi saksi kesedihannya mbak,di suruh makan sulit kalau gak aku paksa setiap hari ngelamun mulu." saut Alhan.
"Mas." Tasya tersenyum.
"Gak apa apa nduk." emak Alhan tersenyum.
Kemudian Tasya memeluk ibu mertuanya yang ada di samping suaminya.
"Maaf ya mak, belum bisa ngasih Mak sama bapak cucu." ucapnya dengan air mata yang menetes.
"Gak apa apa nduk."
Kemudian Tasya melepaskan pelukannya.
"Yaudah sekarang ayo kita masuk ke dalam,kita makan bersama sama." ajak emaknya Alhan.
Semuanya pun masuk ke dalam rumah.Baru saja mau masuk,Tasya di hentikan oleh kedua kakak iparnya.
"Sini dulu Sya." ucap Rizka dengan tersenyum.
"Ada apa mbak?." Tasya tersenyum.
"Kita duduk di luar aja Sya." jawab Via.
Kemudian mereka bertiga duduk di teras rumah untuk membicarakan sesuatu.
"Mau apasih kita mbak?." tanya Tasya.
"Gak tau nih,mbak Via." jawab Rizka.
"Gimana Sya pernah di jahatin gak sama Alhan?." tanya Via.
"Gak pernah sih mbak, cuma waktu itu dia salah faham jadi aku di marahin mbak."
"Masalah apa emang?."
"Aku ke restoran sama teman kuliah cowok aku,tapi dia cuma minta bantuan gitu tapi aku lupa gak beritahu mas Alhan jadi ngiranya aku selingkuh sama dia,tapi besoknya langsung baikkan kok mbak."
"Gimana kalau marah serem gak?." tanya Rizka.
"Serem banget mbak,aku tak ingin itu terjadi untuk kedua kalinya." Tasya tersenyum.
Kemudian Alhan tiba tiba datang dari belakang mereka bertiga.
"Ngomongin aku ya?."
Tasya pun kaget,"Mas ngagetin aja."
"Iya nih,kamu ngagetin aja." ucap Via.
"Maaf mbak."
Kemudian Alhan duduk di samping Tasya.
"Tapi setelah itu aku gak pernah lagi kok mbak di marahin sama dia." ucap Tasya tersenyum.
"Awas aja kamu apa apain Tasya,aku tonjok muka kamu." ucap Via dengan tersenyum.
"Aku juga ikut mbak." saut Rizka.
"Kejam kejam banget sih kalian berdua." Alhan tersenyum. "Tapi tunggu deh,mbak Via makin tua makin cantik aja deh." ledeknya.
"Gak usah ngejek kamu Han." Via tersenyum.
"Emang bener kok,iya kan mbak Rizka." ucap Alhan dengan tersenyum.
"Iya dong."
"Muka banyak kerutannya gini di bilang cantik,rambutnya juga udah ada yang putih." Via tersenyum.
"Tapi makin cantik mbak,beneran."
Via mencubit pipi adik laki lakinya itu.
"Sakit mbak." ucap Alhan dengan tersenyum.
Setelah itu Alhan duduk di pangkuan kakak pertamanya itu.
"Inget gak mbak dulu waktu aku masih kecil mbak boncengin naik sepeda ontel keliling desa."
"Ingat dong dek,waktu itu kamu masih kecil banget kan."
"Mbak juga masih perawan."
"Terus aku jatuh gara gara ngikutin kalian berdua." saut Rizka.
"Iya lucu banget kamu waktu itu." Via tersenyum.
"Kalau lagi nostalgia gini,aku cuma bisa nyimak doang deh." Tasya tersenyum.
"Iya kasihan Tasya tau." ucap Rizka dengan tersenyum.
"Maaf ya Tasya,nostalgia seru sih." Via tersenyum.
"Iya mbak."
Kemudian setelah itu emaknya Alhan pun keluar dan menghampiri mereka yang duduk di teras rumah.
"Kalian kok gak ke dalam,malah gosip di sini." ucapnya.
"Gak gosip mak,cuma nostalgia." Via tersenyum.
"Iya terserah kamu,pokoknya ayo masuk makan dulu,suami suami kamu udah nunggu itu loh dari tadi."
"Mbak Via sih ngajak ngajak duduk di sini." ucap Rizka dengan tersenyum.
"Ini lagi Alhan,di suruh manggil malah ikut ikutan duduk juga."
"Mbak Via sih Mak." Alhan tersenyum.
"Kok mbak Via terus yang di salahin."
"Kan mbak Via yang paling tua." saut Rizka.
Kemudian Via berdiri, "Yaudah ayo masuk,jangan ngesalahin mbak Via lagi ya." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian semua yang duduk pun berdiri dan masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang begitu bahagia bisa berkumpul lagi.
...♥️♥️♥️♥️...