
.......
.......
.......
.......
...♥️♥️♥️♥️♥️...
Keesokan harinya, Alhan dan Tasya telah sampai di depan kampus tempat Tasya kuliah. Tasya pun turun dari motor,terlebih dahulu Tasya mencium tangan suaminya sebelum masuk ke dalam.
"Mas,nanti gak usah di jemput juga gak apa apa." ucapnya dengan tersenyum.
"Terus kamu nanti pulang sama siapa?."
"Mungkin sama Febi kalau gak Divia."
"Oh yaudah dek mas pamit dulu ya."
"Eit tunggu sebentar mas jangan di pakai dulu helmnya." Tasya menghentikan suaminya.
Tasya pun mencium pipi suaminya itu,sehingga membuat Alhan tersenyum dan mengelus pipi istrinya yang lembut itu.
"Semangat ya mas kerjanya." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya dek." Alhan tersenyum.
Setelah itu Alhan memakai helmnya dan langsung pergi meninggalkan Tasya istrinya untuk pergi ke tempat kerjanya,sementara Tasya langsung masuk ke dalam kampus tapi baru saja masuk,tiba tiba ada suara laki laki yang memanggilnya,Tasya pun menoleh ke arah suara pria itu ternyata itu adalah Leo pria yang baru di kenalnya kemarin.
"Eh Leo." Tasya tersenyum.
"Itu tadi suami kamu ya Sya?." tanyanya.
"Dari mana kamu tau kalau itu suami aku?." Tasya tersenyum.
"Aku di kasih tau sama Divia kemarin." Leo tersenyum. "Jadi gak bisa deketin kamu dong sekarang."
Tasya tertawa,"Emang kamu mau deketin aku ya?."tanyanya.
"Ya gak juga sih." ucapnya dengan tersenyum.
"Ada ada aja kamu Leo." Tasya tersenyum,"Ngomong ngomong Divia itu mantan kamu ya?."
"Iya Sya,Divia mantan pacar aku satu satunya." jawabnya dengan muka datar.
Lalu mereka berdua jalan menuju ke dalam kampus sambil berbicara satu sama lain.
"Emang ada masalah apa kok bisa putus sama dia?." tanyanya dengan penasaran.
"Cuma salah paham sih Sya aslinya, tapi dia gak percaya sama aku." wajahnya terlihat menyesal, "Tapi semua juga salah aku sih,aku waktu itu mau di ajak jalan sama temen aku dan lupa bilang ke dia." lanjutnya.
"Ya ampun." ucapnya "Sekarang kamu masih cinta sama Divia?." tanyanya.
"Masih Sya." ucapnya dengan tersenyum.
"Kamu yang sabar ya Leo,siapa tau nanti kamu dapat yang lebih baik dari Divia." ucapnya dengan tersenyum.
"Iya Sya." Leo tersenyum,"Btw kamu mau gak bantu aku Sya?." tanyanya.
"Bantu apa Leo?." tanyanya dengan tersenyum.
"Nanti kamu habis kuliah mau apa?." tanyanya.
"Ya mau pulang lah Leo,masa nginep di sini, kan gak mungkin." Tasya tersenyum.
"Ya gak gitu juga Sya maksud aku." Leo tersenyum. "Yaudah kamu mau ikut aku ke restoran habis pulang kuliah?."tanyanya.
"Ngapain Leo?."
"Aku mau minta bantuan sama kamu boleh kan?."
"Boleh,tapi mau apa juga ke restoran Leo?." ucapnya dengan tersenyum.
"Ya aku mau ngomong ke kamu tentang Divia,kalau ngomong di kampus kan gak enak Sya." ucapnya dengan tersenyum.
"Oh gitu,yaudah nanti sepulang dari kampus aku tunggu di mana nih?."
"Tunggu di depan aja,nanti aku jemput pakai mobil." ucapnya.
"Oh yaudah kalau begitu." ucapnya, "Duluan ya Leo." pamitnya.
"Sampai jumpa nanti ya Sya."
Kemudian Tasya pergi meninggalkan Leo.
...............
...Setelah pulang dari kampus, Leo dan Tasya pun sekarang duduk di sebuah restoran dengan berhadap hadapan....
"Oh iya Sya,kamu bisa gak bantuin aku?."
"Pasti kamu masih pengen balikan sama Divia kan?."
"Tuh kamu faham." Leo tersenyum.
"Kamu belum bisa lupain Divia?." tanyanya.
"Iya Sya,aku masih sayang banget sama Divia." ucapnya dengan berharap.
"Tapi aku bantuinnya seperti apa nih Leo?." tanyanya.
"Hmm,kamu bantu jelasin ke Divia jika kejadian itu cuma salah paham." jawabnya.
"Tapi aku gak yakin deh Leo." ucapnya."Soalnya Divia udah terlanjur sakit hati sama kamu." lanjutnya.
"Jadi kamu gak bisa bantuin aku Sya?."
"Mau sih,aku coba ngomong aja ke Divia siapa tau dia mau dengerin omongan aku." ucapnya dengan tersenyum.
"Aku masih cinta banget aslinya sama Divia." Leo tersenyum.
"Tenang aja ya Leo,nanti aku bakal bantuin kok." Tasya tersenyum, "Tapi kalau aku gak bisa,aku minta maaf ya."
"Iya Sya." Leo mengeluarkan sesuatu dari tasnya sebuah kotak,"Tolong kasih kan ini ke Divia ya Sya." Leo memberikan kotak itu ke Tasya.
"Apa ini Leo?."
"Hadiah buat Divia." ucapnya dengan tersenyum. "Sama tolong bilangkan ke dia I love you." lanjutnya.
...............
Sementara itu Tasya tidak menyadari jika Alhan melihatnya mereka berdua dari tadi,dia melihat jika Tasya dan Leo sedang berduaan.
"Ternyata ini teman yang dia maksud, baru gitu aja ternyata dia udah tertarik sama cowok lain ya." pikirnya.
"Aku gak nyangka dia tega melakukan ini."
Hatinya begitu tergores ketika melihat istrinya berduaan dengan seorang lelaki lain dan mendengar jika lelaki itu mengatakan i love you, membuat tangan Alhan seketika mengepal dan perasaannya begitu kecewa dengan istrinya sendiri.
Niat awalnya yang ingin membeli di restoran itu seketika dia batalkan,dia kecewa dengan kelakuan istrinya yang selingkuh di depannya.Alhan langsung keluar dari restoran itu dan kemudian menaiki motor miliknya setelah itu dia menjalankan motornya dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
Sementara Tasya dan Leo menikmati makanan yang mereka pesan dengan begitu bahagia.
"Enak gak makanannya Sya?."
"Enak kok Leo." ucapnya dengan tersenyum.
"Yaudah di habisin,kalau mau tambah bilang aja ya Sya." ucapnya.
"Iya Leo." Tasya tersenyum,"Ngomong ngomong rumah kamu jauh gak dari sini?."
"Lumayan sih." ucapnya,"Kalau kontrakan kamu jauh gak?."
"Lumayan juga sih paling beberapa menit perjalanannya." ucapnya dengan tersenyum.
"Ohh." Leo mengangguk,"Btw suami kamu juga orang Lamongan?." tanyanya.
"Iya,dia temen aku sma dulu." ucapnya.
"Oh temen sma." ucapnya dengan tersenyum. "Kirain awal masuk kamu belum punya suami Sya,eh ternyata udah punya orang." lanjutnya.
Tasya tertawa, "Jujur,kamu aslinya mau deketin aku kan Leo?." tanyanya.
"Kalau boleh jujur sih iya,siapa tau ya kan sifatnya sama seperti Divia." Leo tersenyum."Eh ternyata udah punya suami,bisa bisa di gebukin lagi nanti aku sama suami kamu." lanjutnya dengan tersenyum.
"Kamu ada ada aja deh Leo." Tasya tersenyum,"Ternyata kamu belum bisa move on ya dari Divia."
"Iya Sya,maka dari itu aku minta bantuan kamu barang kali dia mau di ajak balikkan." ucapnya.
"Iya deh,tenang aja aku bantu." Tasya tersenyum,"Tapi kira kira menurut kamu,sifat aku sama gak dengan Divia?."
"Agak mirip sih,tapi kalau boleh jujur nih masih baikkan kamu sebenarnya tapi bukan berarti Divia jahat ya Sya."
"Masa sih Leo." Tasya tersenyum.
"Iya Divia." ucapnya,"Pasti suami kamu beruntung banget ya punya istri seperti kamu?."
"Alhamdulillah, iya sih." ucapnya, "Tapi aku juga beruntung banget punya suami seperti dia,walaupun gak terlalu tampan tapi dia punya segalanya bagi aku." lanjutnya.
"Punya segalanya maksudnya gimana kaya gitu ya?."
"Ya gak kaya sih, pokoknya gak bisa di jelaskan dengan kata kata." ucapnya dengan tersenyum.
"Jika aku gak dapat Divia,mudah mudahan aku bisa dapat istri yang baik banget seperti kamu ya Sya."
"Jangan seperti aku dong, pokoknya harus bisa lebih baik dari aku kan?."
"Pokoknya yang berhijab deh." jawabnya dengan tersenyum.
"Oh berhijab seleranya." ucapnya dengan tersenyum."Kalau nanti udah dapetin Divia lagi,suruh aja dia berhijab siapa tau mau kan." Tasya tersenyum.
"Tapi sulit banget Sya, dapetin Divia lagi." ucapnya dengan kecewa.
Tasya menepuk bahu Leo, "Aku yakin pasti kamu bisa kok Leo." Tasya tersenyum.
Sehingga membuat Leo pun percaya diri,kini dia dapat bantuan dari sahabat Divia.
.............
Mereka berdua pun telah sampai di rumah kontrakan Alhan dan Tasya setelah mereka berdua bertemu di restoran,namun keadaan rumah kontrakannya masih sepi.Tasya pun turun dari mobil milik Leo.
"Gak mampir dulu Leo." ucapnya.
"Gak ah Sya, kapan kapan aja." Leo tersenyum,"Aku pergi dulu ya Sya."
"Iya Leo hati hati di jalan." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian Leo pun langsung pergi meninggalkan rumah Tasya untuk langsung pulang, sementara Tasya berjalan menuju ke rumahnya namun dia heran dengan suaminya yang terlihat belum juga pulang.Setelah itu Tasya menghampiri Clarista yang ada di depan rumahnya sedang duduk di kursi.
"Kak." panggilnya.
"Iya Sya,ada apa ya?." tanyanya.
"Tadi mas Alhan pulang gak kak?." ucapnya dengan tersenyum.
"Belum denger suara motornya dari tadi Sya." ucapnya.
"Kenapa dia gak pulang ya kak?, padahal biasanya juga pulang sebentar jam segini." ucapnya.
"Gak tau Sya, mungkin pengen makan di luar kali Sya?."
"Iya kali ya kak." Kemudian Tasya melihat perut Clarista yang sudah semakin besar,"Gak nyangka perut kakak udah makin besar aja sekarang ya." Tasya tersenyum.
"Iya Sya,doain ya biar lahirannya lancar." Clarista tersenyum.
"Amin kak." ucapnya dengan tersenyum. "Yaudah kak aku pulang dulu ya." pamitnya.
"Iya Sya." ucapnya.
Kemudian Tasya berjalan menuju ke dalam rumahnya,Tasya heran dengan suaminya yang tak biasanya begini. Sehingga dia berniat untuk menelpon suaminya.Namun handphone suaminya tidak aktif.
"Gak aktif lagi handphonenya." ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian Tasya pun masuk ke dalam rumahnya,setelah itu dia pergi ke dapur rumahnya dan melihat meja makanan,ternyata Makanannya belum berkurang.
"Kok masih banyak ya,apa jangan jangan dia gak suka ya sama masakan aku." ucapnya dengan bingung.
Kemudian Tasya langsung masuk ke kamarnya,dia melepas hijabnya,lalu setelah itu dia berbaring di kasur kamarnya.
"Tumben mas Alhan gak pulang ya." kemudian Tasya membuka handphonenya, "Mana handphonenya gak aktif lagi."
"Jangan jangan ada sesuatu lagi sama mas Alhan,mudah mudahan gak ada deh." ucapnya dengan tersenyum.
Setelah itu dia memutar lagu favoritnya dan menaruh handphonenya di meja.Dia mulai memejamkan matanya,dia istirahat sebentar karena habis ini akan bekerja.Jadwal Tasya padat banget di setiap harinya,namun dia harus tetap semangat karena ini adalah pilihannya sendiri.
...♥️♥️♥️♥️♥️♥️...