Alhan & Tasya

Alhan & Tasya
SUKA



^^^



.^^^


......................... ...


...????????? ¿??????? ...


Tiga minggu kemudian, terhitung telah banyak sekali Alhan jalan jalan dengan Tasya.mungkin lima kali atau lebih dan setiap malam, tak lupa mereka berdua video call. Tasya merasa gitu nyaman saat berada di dekat Alhan, begitu pula dengan Alhan, dia juga merasakan hal yang sama.


Hari ini adalah hari libur Tasya bekerja di restoran, Tasya pun merasa bingung dengan perasaannya ke Alhan yang tiba tiba tumbuh. Terasa Tasya ingin sekali mengungkapkan perasaannya itu pada Alhan, tapi dia merasa malu dan juga takut,takutnya Alhan bisa saja menolaknya dan tidak. Namun di sisi lain Tasya juga tidak mau menyembunyikan perasaannya itu,dia takut Alhan di miliki oleh orang lain.


Tasya pun berniat untuk mengajak ketemuan Alhan di sore nanti, setelah dia pulang bekerja. Dia mulai mengirimkan chat kepada Alhan.


'Han, kita ketemuan ya nanti sore.'


Namun bahagianya Tasya, melihat bahwa ada tulisan mengetik di bawah nama Alhan.


'Kok tiba tiba ngajak ketemuan, emang ada apa ya Sya?'


'Kamu bisa gak Han?'.


'Bisa aja sih Sya, tapi di mana?'.


'Di taman,tempat biasa. Nanti aku jemput ya Han.'


'Siap Sya.'


'Makasih ya Han.'


'Iya Sya.'


Setelah itu Tasya yang kesepian pun berniat untuk pergi ke rumah Fitri, namun sebelum itu Tasya menelpon Fitri, memastikan jika Fitri benar benar ada di rumah.


"Fit lo di rumah gak?."


"Iya Sya sendirian gua, ibu sama bapak ke rumah paman .kesini temenin gua."


"Iya fit, habis ini gua kesana."


"Gua tunggu di rumah."


Fitri mematikan sambungan telponnya dengan Tasya.


"Han aku punya perasaan sama kamu, aku harap kamu mau menerimaku ya."


.............


Tak lama setelah itu Tasya pun sampai di rumah Fitri.


"Fitri." panggilnya dari luar.


"Gua ada di kamar masuk aja Sya."


Kemudian Tasya masuk ke dalam kamar Fitri. Sesampainya di sana ada Fitri yang sedang berbaring sembari bermain handphone.


"Fitri."


Seketika Fitri pun duduk, "Duduk sini Sya."


Setelah itu Tasya duduk di samping Fitri yang sedang duduk di kasur.


"Fitri gua boleh curhat sama lo gak?."


Fitri menaruh handphonenya di kasur, "curhat apa Sya, kek penting banget?." ucapnya penasaran.


"Gua tuh suka sama Alhan Fit."


Seketika Fitri terkejut dan menatap Tasya dengan tidak biasa, "Lo beneran suka sama Alhan."


"Iya Fit, gua tuh nyaman banget kalau di samping Alhan.Rasanya itu pengen banget selalu di dekatnya"


"Magnet dia kuat banget ya, sampai bisa menarik lo." ucap Fitri dengan tersenyum.


"Iya anjir, kuat banget." ucapnya dengan tersenyum.


"Ucapan gua bener kan,lama lama lo suka sama Alhan."


"Iya Fit, tapi gua takut dia nolak Fit."


Kemudian Fitri menaruh tangannya di bahu Tasya, "Gak apa apa Sya, lo bilang aja ke dia terus terang. Masalah di Terima sama gak nya, kan urusan belakang.Yang penting kan lo udah ungkapin,dari pada lo tutupin terus kan bisa aja nih dia juga suka sama lo tapi dia gak berani ngungkapin."


"Iya juga ya Fit."


"Sya lo itu cantik, cantikan lo dari pada gua kan."


"Gak usah ngerendah gitu kali Fit. Gua jadi malu nih." ucapnya dengan tersenyum malu.


"Emang kenyataannya gitu sih. Lo lebih cantik dari gua." ucap Fitri dengan tersenyum.


"Yaudah fit. Terus lanjutannya."


"Mungkin aja dia berpikir. Bahwa cowok kek dia gak pantas sama cewek cantik sama lo, jadi dia itu mungkin sebenarnya sadar diri Sya dan bisa aja dia hanya memendam perasaannya." jelasnya.


"Iya gua faham Fit."


"Jadi yang pantas nembak dia itu lo Sya, bukan Alhan."


"Iya Fit, nanti gua coba.Tapi nanti sore gua pinjam motor lo lagi ya."


"Iya Sya pakai aja kali." ucap Fitri dengan tersenyum, "Tapi lo udah janjian kan sama Alhan?."


"Udah Fit, tinggal ketemuan aja."


"Oh, semoga berhasil ya Sya." ucap Fitri yang memberikan semangat kepada Tasya.


"Makasih ya Fit udah nyemangatin gua."


"Iya Sya." ucap Fitri dengan tersenyum.


"Fit, minta maaf ya selama ini gua udah banyak ngerepotin lo."


"Gak apa apa kali Sya, gua malah seneng kok bisa bantuin lo." ucapnya dengan tersenyum, "Lo udah gua anggap seperti adik gua sendiri Sya, semenjak ada lo gua jadi tau rasanya punya adik Sya, hal yang paling gua inginkan dari dulu." ucapnya dengan tersenyum.


"Ih Fitri."


Kemudian Tasya bersandar di bahu Fitri. "Fit,makasih banyak ya." ucapnya dengan terharu.


"Iya Sya, kalau ada apa apa, cerita aja sama gua ya Sya."


"Iya Fit." ucap Tasya.


Kemudian Fitri mengajak Tasya menonton film di laptop miliknya. "Nonton film yuk Sya, gua ada film baru nih."


Tasya menegakkan kepalanya yang sedari tadi bersandar di bahu Fitri. "Film apa tuh Sya?." tanyanya penasaran.


"Film romantis Sya."


"Film luar negri gak ya?."


"Iya Sya, film Korea."


"Oh, kek nya seru tuh Fit."


"Iya dong Sya."


Kemudian Fitri berniat untuk mengambil laptopnya di meja yang ada di dalam kamarnya.


.................... ...


Sore harinya Tasya dan Alhan pun telah berada di taman seperti yang mereka berdua janjikan. Mereka berdua duduk berdampingan di kursi panjang yang terbuat dari kayu, yang ada di taman. Keadaan di sekitar mereka begitu sepi, memang itulah moment yang pas bagi Tasya untuk mengungkapkan perasaannya pada Alhan.


Namun Tasya masih ragu dan bimbang, dia masih takut jika Alhan menolak cintanya, dia tidak tau lagi kalau memang benar benar itu terjadi. Mungkin dia begitu susah untuk menerimanya, dia berharap yang terbaik saja.


"Han." panggilnya.


"Iya Sya."


"Iya Sya indah banget." ucap Alhan dengan tersenyum ke arah Tasya.


"Han." panggilnya.


"Iya Sya, ada apa?."


"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu bolehkan Han?."


"Ngomong aja Sya."


Tasya menarik nafasnya panjang panjang dan mengeluarkannya, agar mengurangi rasa malunya, sehingga Alhan pun merasa ada yang aneh dengan wanita cantik yang ada di sampingnya.


"Sebenarnya."


Angin berhembus lumayan kencang sehingga membuat hijab Tasya berantakan. "Tunggu sebentar ya Han, aku benerin hijab dulu."


"Iya Sya."


Hati Tasya begitu berdebar kencang dia sedikit malu mengucapkan semua itu. Sementara Alhan dia berfikir dengan yakin,jika wanita cantik yang ada di sampingnya hendak mengungkapkan perasaannya, karena sudah terlihat dari gerak geriknya. Namun begitu hati Alhan tetap juga berdebar kencang, seakan dia tak percaya jika memang wanita cantik yang ada di sampingnya itu akan mengungkapkan perasaan kepadanya.


Namun Alhan telah menyiapkan jawaban, yang mungkin akan membuat wanita yang ada di sampingnya itu kaget.


"Se.. sebenarnya." ucap Tasya terbat bata.


"Perlu di bantu gak ngomongnya."


"Kamu udah tau Han, kalau aku mau ngomong apa?."


"Gak tau, emang mau ngomong apasih susah bener?."


Tasya pun berniat mengucapkannya dengan cepat, "Aku suka sama kamu Han." ucapnya dengan cepat.


"Udah aku tebak dari tadi." ucap Alhan dengan tersenyum.


"Kamu sebenarnya udah tau kan kalau aku mau ngomong gini?. "


"Dari gerak gerik kamu itu udah kelihatan Sya."


"Terus kalau udah tau.Kamu mau menerima aku kan Han?."


"Gak mau."


Seketika hati Tasya, seperti tertusuk duri rasanya begitu sakit. Jawaban yang di harapkannya tidak benar terjadi, seperti Tasya ingin sekali mengeluarkan air mata dan menangis di saat ini juga. Namun Tasya harus kuat menghadapinya, karena itu juga hak Alhan untuk menolaknya.


"Terima kasih jawabannya Han." ucapnya dengan muka datar.


"Jangan sedih dulu dong Sya." ucap Alhan dengan tersenyum,"Maksudnya itu aku gak mau nolak kamu."


"Beneran Han?."


"Iya Sya."


Seketika hati Tasya yang tadinya seperti di tusuk duri, menjadi begitu sejuk seperti tertiup angin yang menyegarkan, rasanya begitu sangat bahagia.


"Kamu udah mikir mikir gak, kalau sama aku Sya? . "


"Udah mikir lebih dari seratus kali Han." ucap Tasya dengan tersenyum.


"Bisa aja deh kamu Sya."


"Emang bener Han."


"Tapi kamu cantik loh Sya, kamu kan bisa dapat cowok yang lebih baik dari aku."


"Terus, kalau aku cantik gak boleh ya sama kamu?."


"Gak gitu maksudnya Tasya, tapi ya gak nyesel kamu sama aku?."


"Sama sekali, tidak." ucap Tasya dengan tersenyum, "Justru aku yakin kalau kamu itu jodoh aku." lanjutnya.


"Beneran?."


"Iya Alhan."


"Tapi kamu jangan senang dulu Sya."


Mendengar perkataan Alhan, Tasya pun bingung dan was was.


"Kenapa Han?."


"Ada syaratnya tau gak." ucap Alhan dengan tersenyum.


"Apa syaratnya Han?. " tanyanya dengan penasaran.


"Kamu harus mau nikah sama aku, di waktu dekat ini kamu setuju gak?."


"HAH!!. " ucap Tasya dengan begitu kaget. "Nikah Han?. "tanyanya.


"Iya Sya kamu mau gak?.Tenang aja Sya,kalau soal kuliah aku izinin kok"


"Tapi kenapa kamu ngajak aku cepat cepat nikah Han?."


"Aku gak ingin Sya, tinggal sendirian. kalau aku udah punya orang yang aku sayang di sini." ucapnya dengan tersenyum.


"Tapi kenapa harus menikah?."


"Itu jalan satu satunya Sya.Tapi kamu mau gak Sya?."


"Iya aku mau, tapi kapan Han?."


"Mungkin habis lebaran, saat kita pulang ke desa." ucap Alhan.


"Oh, Iya Han."


"Beneran kamu udah siap Sya?."


"Udah kok Han, aku udah siap banget." ucap Tasya dengan tersenyum.


Kemudian Tasya bersandar di bahu kiri Alhan.


"Aku boleh sandaran gini kan Han."


"Boleh kok Sya."


"Makasih Alhan."


"Berarti habis ini, udah siap jadi ibu dong?."


"Iya dong Han."


"Tapi jadi ibunya kalau kamu udah lulus kuliah aja ya."


"Kan aku bisa aja gak jadi kuliah Han."


"Tapi kamu pengen kuliah kan Sya?."


"Iya sih Han."


"Ya kuliah aja dulu kalau gitu."


"Tapi tergantung nanti aja sih. Kalau aku udah pengen punya anak ya gak jadi kuliah aja."


"Iya terserah kamu Sya."


Kemudian Alhan menggenggam tangan Tasya dan menciumnya.


"Aku janji,nanti akan membahagiakan kamu Sya." ucapnya.


"Aku juga akan menjadi istri yang baik untukmu Han."


Angin berhembus, daun daun pohon yang ada di samping mereka pun berjatuhan,dengan senja yang begitu indah di taman itu, langit merah yang indah,burung burung yang berkicau terlihat begitu bahagia, taman yang begitu hijau. Seakan ikut bahagia melihat mereka berdua yang sedang menjalin asmara. Tidak ada kata lain selain bahagia yang menyelimuti mereka berdua.


........... ...