
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah beberapa bulan kemudian, Alhan dan Tasya pun telah resmi menjadi suami istri, setelah mereka menikah di desa dan di restui oleh orang tua mereka. Pernikahan mereka di laksanakan secara kecil kecilan tidak ada pesta seperti pernikahan orang orang pada umumnya.
Setelah beberapa jam perjalanan akhirnya mereka berdua telah sampai di rumah kontrakan Alhan dengan membawa barang barang bawaan mereka yang ada di tas mereka berdua.
Sekitar tiga minggu mereka di desa bertemu keluarga , kini mereka harus menjalani hidup baru sebagai suami istri. Mereka berjalan terlebih dahulu ke rumah kontrakannya. Untuk menaruh barang barang mereka di dalam rumah.
Alhan perlahan membuka pintu rumah kontrakannya, terlihat keadaan ruang tamunya yang terlihat masih dalam keadaan bersih dan juga ada motor milik Alhan yang dia beli sebulan sebelum mereka berdua pergi ke desa.
"Han aku ke kamar dulu ya nata barang barang."
"Iya Sya."
Kemudian Tasya pergi ke kamar, sementara Alhan duduk sofa yang ada di ruang tamu.
"Huh capek banget ya."
Baru saja duduk tiba tiba Tasya datang dari kamar dan menghampiri Alhan yang sedang duduk, lalu dia duduk di samping Alhan.
"Han." panggilnya.
"Iya Sya."
"Mulai sekarang kita manggilnya jangan pakai nama lagi ya." ucapnya.
"Terus kita manggilnya apa?."
"Enaknya manggilnya apa?."
"Terserah aja sih."
"Yaudah, aku manggil kamu mas, sedangkan kamu manggil aku dik gimana?."
"Oke setuju." ucapnya setuju.
"Yaudah mas aku ganti baju dulu ya."
"Jangan dulu, kita ke rumah mbak Wardani,bu Tini sama tetangga tetangga dulu."
"Oh,yaudah ayo."
........ ...
Alhan dan Tasya pun telah sampai di depan rumah Tini yang ada di samping rumah kontrakannya. Alhan mengetuk pintu rumah Tini, lalu tak lama setelah itu ada yang membuka pintu dari dalam rumah, yang ternyata itu adalah Clarista.
Terlihat raut wajah Clarista yang begitu bahagia"Eh ada pengantin baru nih." ucapnya.
Kemudian Clarista memeluk Alhan, yang telah dianggapnya sebagai adiknya sendiri."Gimana kabarnya?."
tanyanya.
"Baik kok mbak, tenang aja."
Kemudian Clarista melepaskan pelukannya dan menghampiri istri Alhan yang ada di sampingnya.
"Sya selamat ya."
Kemudian Clarista memeluk Tasya dengan penuh kasih sayang.
"Iya kak, makasih."
Kemudian Clarista melepaskan pelukkannya.
"Fitri udah tau kan Sya?."
"Udah kok kak, habis ini dia mau ke rumah katanya."
"Yaudah,ayo masuk dulu Alhan Tasya."
Kemudian tak lama setelah itu dari belakang Clarista munculah Tini. Terlihat raut wajah Tini yang begitu bahagia bisa melihat Alhan dan juga Tasya. Tini seketika langsung memeluk Alhan yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri.
"Gimana nikahannya lancar kan nak?."
"Lancar kok bu."
Kemudian Tini melepaskan pelukannya, lalu menghampiri Tasya yang ada di samping Alhan.
"Nak Tasya." ucap Tini dengan tersenyum.
Kemudian Tasya bersaliman dan mencium tangan wanita itu.
"Ibu Tini, gimana kabarnya bu?."
"Alhamdulillah, ibu baik baik aja kok nak, semenjak ada Clarista ibu jadi gak kesepian lagi sekarang."
"Ih ibu." ucap Clarista sembari memeluk ibu mertuanya itu.
"Baguslah kalau begitu bu.Jadi ikutan seneng ngelihatnya" ucap Tasya dengan tersenyum.
Tini pun tersenyum, "Iya nak, pokoknya pesan ibu yang nurut sama suaminya, jangan bantah kalau di nasehati."
"Iya bu." ucap Tasya dengan tersenyum.
Kemudian Tini menoleh ke Alhan, "Sama kamu juga Alhan, jangan jahat jahat sama istri,jangan kasar kasar sama istri." pesannya.
"Iya bu, siap deh pokoknya." ucap Alhan dengan tersenyum.
"Gak ada pesan buat Clarista bu?." saut Clarista.
"Gak ada, kalau kamu nakal, ibu langsung jewer telingannya sampai merah." ucap Tini dengan tersenyum.
"Ibu mertua aku, kejam banget ya ternyata." ucap Clarista dengan tersenyum.
"Harus dong." ucap Tini dengan tersenyum.
Kemudian Alhan dan Tasya pun berniat untuk pergi ke rumah mbak Wardani tetangganya yang berusia 31 tahun itu.
"Yaudah bu, saya sama istri saya mau ke rumah mbak Wardani dan tetangga yang lain juga."
"Oh iya nak."
"Jangan lupa pesan ibu tadi loh, Alhan Tasya."
"Iya bu." ucap mereka berdua serentak.
..................
Setelah mereka berdua pergi bersilaturahmi ke rumah tetangga tetangga,mereka pun kembali ke rumah untuk beristirahat. Alhan membuka pintu rumahnya, kemudian mereka berdua pun masuk ke dalam rumahnya.
"Mas aku mau ganti baju dulu ya. Gerah banget."
"Iya dek, mas tunggu di sini ya."
"Iya mas."
Alhan duduk di sofa yang ada di ruang tamu, sementara Tasya masuk ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Beberapa saat setelah itu Tasya pun keluar dari kamarnya dengan memakai daster biru miliknya, dan rambutnya yang lurus tidak di ikat. Dia berjalan menghampiri Alhan yang sedang duduk di sofa.
Alhan yang melihat istrinya itu pun begitu bahagia dan tersenyum. Setelah itu Tasya duduk di samping suaminya itu dengan wajah yang terlihat begitu kelelahan.
"Capek gak dek?." tanya Alhan.
"Capek banget mas, belum istirahat sama sekali dari tadi."
"Yaudah, sekarang sandaran di bahu aku,siapa tau capeknya hilang."
"Masa bisa hilang?."
"Ya gak tau.Mungkin aja." ucapnya dengan tersenyum.
Tasya bersandar di bahu suaminya itu.
"Walaupun gak bisa hilangin capek, aku tetap sandaran di bahu kamu mas."
Lalu tangan kanan Alhan mengelus pipi Tasya.
"Pipi aku halus kan mas?."
"Iya dong, halus banget."
"Mas." panggilnya.
"Iya dek."
"Kamu bahagia punya istri sepertiku."
"Bahagia dong,masa gak."
"Makasih mas, kalau aku juga bahagia banget punya suami sepertimu mas."
"Iya dek, maafin mas ya. Gara gara mas, kamu jadi nikah muda."
Kemudian Tasya menegakkan kepalanya dan menatap suaminya itu dengan tersenyum, "Gak apa apa kali mas, justru aku malah seneng banget, aku bisa hidup berdua denganmu."
"Dek mas, jangan manggil nama."
"Oh, iya maaf dek." ucapnya dengan tersenyum.
"Awas di ulangi lagi."
"Iya iya. Tapi teman teman kamu gak kaget apa, kamu tiba tiba nikah sama aku?."
"Iya sih, pada gak percaya gitu."
"Wajar sih dek, apalagi kan kita dulu saat sma satu kali pun gak pernah saling bicara."
"Bahkan aku dulu gak tau nama kamu mas." ucap Tasya dengan tersenyum.
"Aku aja tau kamu karena di kasih tau Ryan."
"Tapi sekarang, kamu adalah orang pertama yang aku lihat saat aku bangun tidur."
"Iya."
"Mas aku kuliah dulu boleh kan mas. Pakai uang aku sendiri."
"Iya dek, tapi kamu kuat kuliah sama bekerja."
"Kalau niatnya dari hati pasti aku kuat kok mas." ucap Tasya dengan tersenyum.
"Gak pengen mas biayain aja dek."
"Gak usah mas, uang mas buat kebutuhan kita aja ya."
"Yaudah dek, pokoknya semangat terus ya dek."
"Makasih mas, aku jadi makin semangat deh kalau di semangatin gini." ucapnya dengan tersenyum.
"Ijazah dan lain lain udah kamu bawa semua kan dek."
"Udah mas, udah aku simpan di dalam lemari."
"Oh yaudah."
Alhan begitu bahagia kini bisa hidup satu rumah dengan Tasya, yang kini telah berstatus sebagai istri sahnya. Sementara Tasya juga bahagia bisa hidup dengan Alhan, orang yang paling dia sayangi kini telah menjadi suaminya.
"Dek, malam ini siap kan?."
Setelah mendengar pertanyaan Alhan seketika Tasya pun kaget. "Hah apa mas?."
"Malam ini kamu siap gak?."
Hati Tasya pun berdebar kencang, rasanya dia masih sedikit malu dengan Alhan,apalagi ini adalah kali pertamanya.Padahal Alhan telah menjadi suaminya.
"Mas hatiku berdebar, kencang banget mas."
"Masa sih dek."
"Iya mas beneran."
"Berarti kamu belum siap ya?."
"Hmm, udah kok mas udah."
"Beneran Sya?."
"Kok manggilnya Sya lagi sih."
"Oh iya sorry."
Alhan begitu bahagia setelah mendengar jawaban Tasya.
"Aku udah siap mas."
Keasikan mereka mengobrol tiba tiba ada yang mengetuk pintu dari luar, yang tak lain itu adalah Fitri.
"Siapa dek?."
"Fitri mungkin mas, tadi soalnya dia mau kesini."
"Oh, yaudah sekarang kamu bukain pintu gih buat Fitri."
"Iya mas." ucapnya dengan mengangguk.
Tasya pun berjalan ke arah pintu rumah untuk membukakan pintu. Tasya pun membuka pintu dengan perlahan dan ternyata benar itu adalah Fitri, orang yang telah dianggapnya seperti kakaknya sendiri.
Tasya pun memeluk Fitri dengan penuh kasih sayang,"Selamat ya Sya."
"Makasih Fit."
Kemudian Tasya melepaskan pelukannya dan kemudian mengajak Fitri untuk masuk ke dalam rumah.
"Ayo masuk dulu Fit."
"Iya Sya."
Kemudian mereka masuk ke dalam rumah, Tasya duduk di samping suaminya sementara Fitri duduk di hadapan mereka berdua.
"Fit, mau gua buatin teh atau apa gitu?."
"Gak usah Sya nanti aja, gak usah repot repot kali."
"Yaudah."
Kemudian Fitri tersenyum, "Lo kok dahuluin gua sih Sya?."
Tasya pun tersenyum "Iya dong kan Tasya."
"Tapi tenang, bentar lagi gua juga nikah kok."
"Jangan lupa undangannya." ucap Tasya dong tersenyum.
"Pasti dong."
"Tapi lo nikah sama siapa anjir?."
"Seminggu yang lalu gua di lamar sama temen kuliah gua dulu, bawa keluarganya lagi."
"Terus kamu Terima?."
"Iya dong, dari pada gua jadi perawan tua mana orangnya juga akrab banget sama gua."
"Iya sih pilihan yang bagus Fit." ucap Tasya dengan tersenyum.
"Ngomong ngomong, lo masuk kerja kapan?."
"Besok Fit, gua langsung kerja."
"Gua jemput gak nih." ucap Fitri dengan tersenyum.
"Gak usah repot repot, kan sekarang udah ada ayang. Jadi ayang dong yang nganterin." Tasya menoleh ke Alhan yang ada di sampingnya."Iya kan sayang?."
"Iya dong sayang, apasih yang gak buat kamu."
"Ih, jadi iri deh." ucap Fitri dengan tersenyum.
"Tapi Fit, gua habis ini masuk shift malam gak apa apakan Fit, soalnya gua mau kuliah."
"Gak apa apa kok, malahan Izza kemarin pengen gantian shift,soalnya takut pulang sendirian malam malam."
"Tapi ganti shiftnya saat gua udah masuk kuliah aja."
"Iya Sya, nanti gua omongin sama tante."
"Makasih ya Fit."
Kemudian Tasya menoleh ke arah Alhan, "Kalau aku pulang malam, kamu mau jemput kan mas?."
"Mau dong."
"Makasih mas."
Kemudian Tasya kembali menatap Fitri. "Fit gua bikinin teh ya."
"Gak usah repot repot kali Sya."
"Pokoknya lo gak boleh nolak, harus mau."
Fitri pun tersenyum, "Terserah lo aja deh Sya."
Kemudian Tasya berdiri dan pergi ke dapur untuk membuatkan teh untuk suaminya dan juga Fitri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...