
" Hei, Zera, apakah menurut mu kita akan saling berhadapan saat ujian sihir? " Tanya Alaric sambil menatap ke arah Zera.
" Ku rasa tidak deh, tapi tergantung, kan pemilihan lawan nya di pilih secara acak, jadi bisa iya bisa juga tidak. " Ucap Zera.
" Zera, mau makan bersama kami ke kantin? " Sekelompok anak laki-laki langsung mendekat ke meja Zera.
" Aaaa.. hahahahaha, tidak, aku membawa bekal. " Ucap Zera.
" Kalau begitu apakah mau makan bersama kami? " Ucap sekelompok laki-laki itu.
" Tidak, maaf, aku sudah ada janji makan bersama... hmmmmm.. "
" Dia sudah ada janji makan bersama ku. " Ucap Alaric sambil menggengam tangan Zera.
" Kalau begitu kami permisi. " Ucap Alaric sambil menarik Zera.
Lagi dan lagi..
Mereka berdua kini berakhir di taman.
" Hmmm, terima kasih karena tadi sudah mau menolong ku. " Ucap Zera.
" Tidak masalah. " Ucap Alaric.
" Hmm, itu.... bagaimana kamu tau saat itu aku sedang tidak ingin bersama mereka? " Tanya Zera.
" Bukan kah itu sudah biasa? siapa juga yang tidak mau dekat dengan seorang penyihir cahaya? Pasti banyak yang mau mendekati mu, bukan hanya sekedar untuk berteman tapi juga untuk mendapatkan kepopuleran, dan juga bukan kah kau bilang sendiri kalau kau merasa tidak nyaman dengan mereka? " Ucap Alaric.
Aaaahh, dia menyadari ya.. Batin Zera.
" Iyaa, Terima kasih. " Ucap Zera sambil tersenyum.
" Ahh iya, ayo kita makan bersama. " Ucap Zera yang langsung mengeluarkan bekal buatan ibu nya yang masih banyak.
" Ayo, silahkan. " Ucap Zera sambil menyodorkan roti lapis pada Alaric.
Alaric tersenyum tipis dan menerima roti lapis itu, Zera juga mengambil roti lapis yang sama dan juga dua gelas jus jeruk.
Mereka berdua makan dengan di iringi angin yang berhembus secara pelan layak nya sebuah nada.
Setelah selesai makan Alaric dan juga Zera kembali ke kamar masing-masing, yang memang kamar mereka bersebelahan.
Setelah masuk kamar nya, Zera langsung membersihkan diri nya setelah selesai, Zera duduk di meja nya dan membuka buku besar yang tebal, buku yang berisi tentang pengetahuan kekuatan sihir seperti api, air tanah, cahaya, kegelapan, dan sebagai nya.
Zera mulai membaca satu persatu halaman, sambil membaca, Zera juga menghafal buku itu, menurut nya setidak nya setengah dari isi buku itu harus ia hafal.
Zera yang cerdas dalam pengetahuan dan juga hebat dalam sihir juga bela diri, bagi nya bertarung jarak jauh menggunakan sihir ataupun bertarung jarak dekat menggunakan senjata atau bahkan tangan kosong, tak masalah bagi nya.
Lembar demi lembar gadis itu terus membaca buku tebal itu hingga tak terasa matahari pun terbit.
Zera meregangkan tubuh nya dan membuka gorden kamar nya.
Matahari pagi terpancar dengan lembut menerpa wajah cantik gadis itu.
Zera menyambar handuk nya dan mempersiapkan diri nya, setelah selesai gadis itu memilih beberapa buku dan kembali duduk di meja nya dengan seragam yang rapih.
Zera melihat jam yang masih menujukan pukul 6.
Masih ada waktu bagi nya untuk belajar lagi.
Baru saja Zera ingin membuka halaman buku pertama, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu.
Zera langsung bergegas membuka pintu dan menampilkan Alaric yang sudah rapih dengan seragam nya.
" Hai. " Sapa Alaric, laki-laki itu memandang Zera dari atas sampai bawah, rupa nya Zera juga sudah rapih dengan mengenakan seragam nya.
" Ooh, kau sudah siap saja. " Ucap Zera.
" Ya, kau juga. " Balas Alaric.
" Hmmm, aku tidak mau terlambat lagi jadi aku tidak tidur. " Ucap Zera dengan bangga.
" Bukan kah itu terlalu berlebihan? " Ucap Alaric.
" Tidak, aku sudah terbiasa. " Ucap Zera.