
" Tidak bisa, tapi sebagai ganti nya aku bisa membuat mu menjadi penyihir yang akan membantu orang-orang di desa mu? " Ucap Si gadis kecil.
" Asteria terdiam dan kemudian berpikir, lalu akhir nya ia pun menyetujui gadis kecil itu, akhir nya dengan kekuatan peri yang di miliki gadis kecil itu, Asteria pun berubah menjadi penyihir."
" Setelah nya si gadis kecil menghilang, selama itu Asteria terus membantu orang-orang desa nya agar bisa mewujudkan mimpi mereka, Asteria juga menjaga mimpi mereka dalam tidur agar tidak di ambil oleh Agraris seorang makhluk pemakan mimpi. "
" Tamaat. " Ucap Zera.
" Kisah nya seperti menggantung. " Ucap Alaric.
" Ya, aku juga berpikir kalau kisah itu menggantung, tapi mau bagaimana lagi, aku sudah coba mencari lanjutan buku itu tapi tidak menemukan nya. " Ucap Zera.
" Tapiiii... aku paling suka dengan karakter Asteria yang baik dan tulus untuk membantu warga desa nya, bukan hanya itu ia juga secara diam-diam membantu warga desa nya mewujudkan mimpi mereka serta melindungi mimpi mereka, bukan kah itu luar biasa.. " Zera nampak antusias.
" Ya, karakter utama nya adalah sosok perempuan yang kuat. " Ucap Alaric.
Zera dan Alaric terus mengobrol sampai tak terasa para murid sudah datang dan juga Pak Dian.
" Wah.. wah.. wah, kalian memang tidak terlambat tapi kalian terlalu awal. " Ucap Pak Dian yang hanya di balas senyum oleh Zera.
" Baiklah, karena semua murid sudah ada, mari kita adakan ujian di lapangan. " Ucap Pak Dian sambil berjalan ke luar di ikuti oleh semua murid.
Di lapangan sudah di sediakan bola berwarna-warni, nanti nya Pak Dian akan mengambil 2 buah bola itu lalu membaca nama yang akan bertarung.
" Baiklah, ayo kita mulai " Pak Dian langsung mengambil bola secara acak lalu membuka bola itu.
" Aura dan juga Eden, silahkan. " Ucap Pak Dian.
Aura seorang gadis dengan pengguna sihir angin dan juga Eden dengan pengguna sihir tanah.
" Mulai. " Setelah mengatakan itu pertarungan pun di mulai.
" Badai angin. "" Angin kencang langsung berhembus menutupi pandangan mata Eden.
Rupa nya Aura memanfaatkan angin untuk mendorong Eden keluar dari garis.
Tapi..
Tidak semuda itu tentu nya, Eden juga membalas dengan masuk ke dalam tanah.
Aura memberhentikan sihir nya, ia mewaspadai sekitar nya.
Tapi tiba-tiba saja guncangan tanah yang besar mendorong Aura hingga gadis itu terlempar dan keluar dari garis dalam sekejap.
Sihir tanah dengan skala yang besar langsung di keluarkan oleh Eden untuk melempar Aura hingga keluar dari garis, bukan hanya melempar bahkan Aura pun sampai pingsan karena terlempar sangat kuat sampai tubuh nya terbentur dinding.
" Ku.. kuat sekali. " Ucap salah seorang murid yang berada di depan Zera.
" Itu hanya serangan sihir yang berskala besar, ku rasa ia lemah dalam serangan jarak dekat. " Ucap Alaric.
" Kau benar, karena dia langsung menyelesaikan dengan serangan besar tanpa memberi celah pada lawan nya. " Ucap Zera membalas perkataan Alaric.
Pertarungan berlanjut, setelah arena di bersihkan dan Aura di bawa ke ruang kesehatan, pertarungan kembali berlanjut.
Pak Dian mengambil bola dan langsung membaca nama yang ada di dalam bola itu.
" Aoi dan juga, ooh.. ini akan menarik, Aoi dan juga Alaric. " Ucap Pak Dian.
Aoi yang berada tepat di sebrang Alaric langsung menatap ke arah Alaric.
Sedangkan para murid di sana tak terkecuali Alaric juga menatap ke arah Aoi.