
"Gua udh mutusin buat kuliah di sini bareng lu" Ucap aska santai
"What? Lu udah bilang sama om Alaska?
"Belum,tapi entar gua kan bilang sama bokab gua, gua mau mulai hidup gua di sini gua mau hidup sebagai diri gua sendiri dan gua bakalan merebut perusahaan nyokap gua dengan tangan gua sendiri"
"Maksud lu,lu bakal hidup tanpa nama belakang lu sebagai Axlle"
"Ya dan gua butuh bantuan lu"
"Apa" Tidak bisa di pungkiri derren sangat senang mendengar penuturan aska,setidak nya mereka bertiga masih bersama meski pun sean akan pergi buat waktu yang lama ke luar negri,derren juga merasa lega kalau ada aska ia bisa kembali merintis perumahan yang menjadi impian mereka,pemandangan beberapa minggu yang lalu di kawasan perumahan orang-orang yang mereka anggap seperti keluarga sendiri sudah sangat memprihatinkan dan jika di bangun lagi juga tidak ada yang akan menjamin mereka bisa selama nya menetap di sana apa lagi itu bukan tanah milik mereka sendiri,hal itu sangat mengganggu pikiran derren,setidak nya meski pun tidak bisa langsung membangun impian mereka paling tidak jika aska di sini ia bisa sama-sama mencarikan tempat sementara untuk keluarga mereka,tentu nya di bantu ayah sambung aska,derren juga berasal dari keluarga ternama,orang tua tua nya sangat memanjakan nya dengan kekayaannya tapi masalah baru menghampiri nya, perjodohan dengan anak dari sahabat papa nya sangat mengganggu nya,membuat ia berpikir berulang-ulang kali meminta bantuan dari keluarga nya,sedangkan bian kita semua tau cowok itu sekarang hanya mendirikan sebuah cafe mini dan itu untuk biaya kuliah nya,begitu juga juga dan derren tidak ingin membebani sean,meski diantara mereka berempat sean lah yang paling mampu untuk itu,derren memilih tidak memberi tahu kan nya
"Cari informasi di mana anak b*j*ng*n itu melanjutkan pendidikan"
"Lu"
"Gua nggak,ada niat nyusul in tunangannya,gua cuma mau lihat dari dekat aja kek mana sih wajah penipu itu" Sudut bibir aska terangkat,ia juga masih ingin tau apa alasan gebi menerima pertunangan itu,aska ingin membicarakan nya secara langsung,ada suatu hal mengganjal di pikiran nya,kenapa gebi yang terlihat di basecamp aldo sebelum ia terbang menyusul mama nya,sangat jelas mata nya menatap gebi yang sedang berlarian kearah nya, namun saat ia terbangun ia sama sekali tidak melihat cewek itu,dan aska juga ingin mengatakan kemana ia pergi dan kenapa ia tidak memberitahu gebi,aska merasa bersalah karena ia yang pertama menghilang dari hadapan cewek itu,mungkin saja ada beberapa hal yang bisa mereka perbaiki ya mungkin begitu pemikiran aska
"oke"jelas dan padat jawaban dari derren membuat aska tersenyum puas
Ditempatkan lain
“ih kemana sih,harus nya di jakarta ini masih pagi hm”
"Ai" Panggil wanita cantik meski sudah memasuki hampir kepala 5
"Eh mama"
"Lagi ngapain"
"Kak sean kapan ke sini nya ma"
"Kenapa? Kamu udah nggak sabar nunggu nya"
"Em" Wajah cewek berbadan mungil itu merona
Aishi samatha putri,putri ke dua dari pengusaha ternama,cewek berusia 17 tahun itu sedari kecil sudah di jodoh kan dengan sean,sudah menjadi rahasia umum dua keluarga itu sudah merencanakan semua nya bahkan sebelum mereka lahir,seharusnya kakak dari aishi lah yang harus menjadi tunangannya sean,namun anak pertama keluarga putri laki-laki,umur nya tidak jauh berbeda dari sean,ia juga teman bermain sean dulu,namun karena ada sedikit ke selisih pahaman sean dan cowok itu tidak lagi saling sapa, hingga akhir sean pindah ke Indonesia
Jakarta.
"Lu hyper,retri indomaret" Kesal Davin
"Cd woi cd"
"Aelah lu ngekill make retri bengke"
"Membazir udah mau sakaratul maut dia" Hahaha tawa bian pecah,cowok yang biasa nya memakai role support itu mencoba role lain,biasa nya ia hanya memilih hiro yang gampang-gampang saja seperti hiro dengan suara pam pim pum contoh nya
Sedangkan sean tidak ikut bermain,ia hanya menonton saja permainan ke lima teman nya,tadi nya sean ingin ikutan main tapi cewek di seberang sana terus saja memaksa menghubungi nya, membuat sean jengkel dan mensenyapkan ponsel nya lalu memasuki live streaming bian,
suasana heboh seperti biasa nya,rencana mereka untuk turun pun di batal kan, karena hari ini mereka akan ngumpul di aderfia house seharian awal nya tidak ada rencana sampai Gilang datang dengan daging dan jagung di tangan nya
"gimana kita bikin barbeque" ucap gilang sambil meletakkan bungkusan bawaan nya ke atas meja
"boleh juga mumpung gue laper" bian antusias berdiri dari duduk nya
"bukan sekarang ******,tapi entar malam" hilang dengan cepat menyambar keresek belanjaan yang tadi ia letakkan
"tapi sekarang gua laper" keluh bian
"lu nggak sarapan dari rumah ian,pemilik cafe kelaparan kan lawak" cetuk davin sontak membuat Teman-taman nya tertawa terbahak-bahak,sedangkan bian memasang wajah masam nya
"lu beneran belum sarapan?" andra berdiri dari duduk nya,bian hanya menganggukkan kepala nya saja membenarkan perkataan andra
"gua mau bikin nasi goreng,mau sekalian" cowok itu berlalu dari tempat duduk nya menuju kearah pintu dan dengan tidak tahu malu nya bian malah memesan nasi goreng spesial kata nya
"pake telor sama sawi ya ndre telor nya kek biasa, separuh mateng" kekkeh nya,yang di sambut seloyoran kelapa dari sean
"udah di bikinin malah,ngatur lu centong sayur"
"woi woi kdrt nama nya ini" kesal bian menggeleng geleng kan kepala nya membuat Teman-tamanya tertawa,namun Seketika semua terdiam saat bian mengatakan tentang rencana sean yang akan pindah ke luar negri
"lu mau minggat,jadi anak baik woi,jangan ngebully kek gini entar gada yang belain lu" kesal bian,entah sadar atau tidak tapi perkataan nya sukses membuat suasana menjadi hening,tentu saja mereka semua akan merindukan sean,apa lagi seperti davin dan beberapa anak aderfia yang lain, yang sudah mengenal ia sadari kelas 10
"lu sering-sering muncul di grup"davin menepuk pundak sean
" gua cuma minggat,beberapa tahun,nanti kita semua kumpul lagi di sini"
"dan lu lu pada, jangan ada yang mikir buat bunuh diri,kita punya impian yang harus kita lihat Sama-sama di masa depan,terutama lu centong sayur" sambung sean dengan nada becanda namun terdapat banyak harapan dalam perkataan nya,mengingat dari mana mereka semua berasal dan sakit mental yang mereka dapat dari keluarga masing-masing