A Miracle

A Miracle
Bab 9



Ya Allah... Sudah jam berapa ini?" Arum terbangun dari tidurnya. Melihat di sekeliling ternyata ia masih terjebak di dalam gudang.


"Jadi ini semua nyata? Bukan mimpi buruk?" Ia menyandarkan tubuhnya ke tembok, mencubit kedua pipinya berusaha menerima atas takdir yang terjadi pada dirinya. Bagaimana ia harus keluar dari sini, siapakah yang akan menolongnya, sementara Tuannya itu sibuk bekerja dan bisa jadi tak tau kalau ia sekarang sedang terjebak di dalam gudang.


Jam sudah menunjukkan pukul Sepuluh malam, berarti selama Lima belas jam Ia terjebak, tanpa makan, minum dan mandi. Ia memegang perutnya yang sudah mulai berdemo meminta makan, sementara kerongkongannya kering keronta tanpa tersentuh air.


"Tuan, apa tuan sudah pulang,,, tolong Arum tuan" rengek arum pelan, lemas dan tidak berdaya lagi.


"Sialan... Perempuan itu kemana sih ! Di meja makan cuman ada ini saja, lauk dari tadi pagi, tinggal separuh lagi.. tadi kan sudah Aku kasih uang lebih, tapi tak tau diri, dasar wanita malam"


Zio menggerutu, melempar jaket dan tasnya asal. Mencoba mencari Arum ke sekeliling rumah. Matanya mengelilingi tiap sudut ruangan, tapi wanita itu tidak ada. Zio mulai curiga apa jangan-jangan Antoni menculik perempuan itu dan menjadikannya sebagai budak nafsu bejatnya lagi. Zio lalu masuk ke dalam kamar Arum, mungkin saja ia sudah tidur.


Ia terkejut, pintu kamar Arum terbuka lebar. Parahnya di dalam kamar zio tak menemukan sosok gadis cantik itu sedang berbaring di ranjang.


Ia terbelalak ketika melihat Ponsel Arum tergeletak di atas nakas.


"Loh, ini ponselnya. Wanita itu kemana" Zio semakin khawatir, mungkin benar Antoni tadi kesini ketika ia pergi, lalu menculik perempuan itu.


"Ini nggak bisa di biarkan"


Zio menggeram, matanya merah, rahangnya mengeras. Ia harus memberi pelajaran pada lelaki tak tau diri itu. Di ambilnya kunci mobil, tekadnya sudah bulat. Ia akan pergi ke rumah mamanya sekarang. Menemui Antoni.


"Tuaan... Tuaan... Tolong Tuan" Teriak Arum


Saat Zio hendak keluar rumah, tiba-tiba ada teriakan yang mengagetkannya. Ia yakin itu adalah suara perempuan itu. Zio menghentikan langkahnya kemudian menutup pintunya kembali. Dengan sigap ia memeriksa lagi seluruh ruangan.


Ia mencari dimanakah sumber suara tersebut.


"Hay .. kamu ada dimana?" Ia berteriak se kencang mungkin agar gadis itu mendengar suaranya.


"Di gudang Tuan.. tolong saya tuan"rintih arum.


"Ya Ampun, kok bisa di gudang sih" zio menepuk dahinya.


Kaki Zio melangkah menuju gudang, sebenarnya ia sangat capek ingin segera istirahat. Namun keselamatan gadis itu sangat penting. Ia akan menyesal seumur hidup jika membiarkan seorang wanita terkurung sendirian dalam gudang.


Clek..... Clek...


Begitu pintu di buka, Mata arum membulat, refleks ia berlari memeluk Zio, di peluknya lelaki itu erat, arum tak ingin terjebak lagi dalam gudang, arum tak ingin mati konyol disana. Tanpa sadar ia juga menangis dalam pelukan zio.


"Hey, ... Dasar gadis ceroboh. Kamu ngapain di gudang?" Zio melepas kasar pelukan arum.


Arum melongo bak kambing cengo, kenapa ia memeluk Tuan zio? sialan !! wajar saja tuan zio langsung menghindar.


"Tadi sembunyi Tuan, trus Mama Tuan nggak sengaja kunci pintunya" Arum menjawab jujur, mengiba pada Zio, berharap lelaki itu mengingat kejadian tadi pagi.


Dalam hati zio menyesal telah berbuat seperti itu pada Arum, ia ceroboh membiarkan gadis itu terkunci sendirian dalam gudang dengan waktu yang tidak sebentar. Sudah makankah ia? Apa pernapasannya tak terganggu. Ia menatap gadis itu penuh iba dan menemukan ketulusan serta ketakutan yang luar biasa. Zio semakin yakin, ia harus melindungi gadis itu dari Antoni suami mamanya.


"Tuan, saya minta maaf karena tadi sudah lancang memluk tuan" tatap Arum memelas, membuat zio tak tega.


"Ya sudah, sekarang kamu mandi, makan dulu lalu tidur" Ucapnya tegas.


"Saya belum memasak Tuan, tadi kan sudah habis di makan Ibu " Arum memelas.


"Saya pesan makanan online" Ucap Zio lalu berlalau dari hadapan arum. sebenarnya ia tak tega melihat gadis polos itu terkunci sendirian. Ia berjanji pada dirinya sendiri tak akan ada peristiwa seperti ini lagi.


Arum mendengus, mengambil nafas lalu membuangnya. Ia harus tegar, kuat dan semangat. Pekerjaan ini lebih baik daripada harus menjadi wanita malam melayani budak nafsu lelaki hidung belang, tiba-tiba ia bergidik mengingat kelakuan kakak seniornya dan tamu-tamunya di tempat lokalisasi dulu.


"Hey, Sudah belum mandimu? Lama sekali ! " zio berteriak dari luar.


Arum segera membilas tubuhnya. Ia tak mau tuannya marah lagi.


"Ini makanan untukmu.. setelah itu jangan lupa tidur. Oh ya.. besok Aku keluar kota sehari penuh. Berangkat pagi dan pulang larut malam. Kau jangan ceroboh lagi karena aku tak ada di rumah" Pesan Zio.


"Jangan lupa siapkan beberapa potong Bajuku" Titahnya.


Bibir Arum mengerucut sempurna. Baginya meski tak keluar kota Tuannya itu selalu pergi pagi buta dan pulang larut malam, jadi tak ada bedanya sama sekali.


"Baik Tuan" ia lalu berlalu setelah mengambil kotak berisi makanan, pesanan zio lewat aplikasi makan online.


"Sebentar... Kau punya nomer ponselku?" Tanya zio tanpa melihat arum sedikitpun.


Hening...


Hening...


Hening...


Arum tertawa dalam hati, tuannya itu lucu juga. Bagaimana mungkin dirinya punya nomer ponsel tuan kalau tuan tak pernah memberinya.


"Iya nggak punya tuan, kan tuan nggak pernah ngasih" jawab arum.


"Ya sudah, ambil ponsel kamu! " Titah zio.


"Ini tuan" arum menyerahkan ponselnya kepada Zio yang masih asyik tiduran di sofa.


Zio mengambil dan menekuri ponsel arum lama, memaskukkan nomor telepon pribadinya disana.


"Nah ini sudah,,,.kalau ada apa-apa, televon saya" Kata Zio menyerahkan ponsel arum tanpa menoleh kepadanya sedikitpun.


Wajah arum memerah, ia bersyukur telah di pertemukan dengan tuan muda yang sangat baik, meski kelakuannya kadang membuat arum sakit hati.


Sampai kamar ia segera membuka ponselnya. Penasaran nomer Whats App tuannya yang tampan itu.


Tuan Muda Zio


0812*******8


"Jadi tuannya menamai kontaknya sendiri dengan nama Tuan Muda Zio,,, hihi"


Kata Arum melihat nomor whatsapp zio dengan foto profil potret candid tuannya yang sedang minum kopi di sebuh cafe.


"meski dari pinggir, tuan zio tetap saja cakep memang cakep dari lahir sih, Andai yaa bisa punya pacar seperti Tuan Zio" Ucap Arum sambil terus memandang foto profil Zio.


"Ngomong apa sih Rum, sadar diri dong kamu itu siapa.. kamu hanyalah gadis desa Rum, jadi jangan ngarep" Lanjut Arum.


Suara tawa menggema, separuh hatinya menghangat. Ternyata meski kejam, tuannya itu baik hati dan lucu juga. ia jadi ingat pertama kali bertemu dengan tuannya. mungkin tuannya itu menemukannya dengan keadaan yang tak senonoh. dirinya jadi senyum-senyum sendiri, malu sekaligus lucu.


Untung Tuhan menyelamatkan dirinya dari Cengkraman budak nafsu tuan Antoni dan itu karena Tuan zio. ia jadi begidik bagaimana nasibnya jika Malam itu Tuan Zio tak datang. mungkin sampai saat ini ia ada dalam pelukan Tuan Antoni yang beringas. Di tariknya selimut tebal berwarna merah marun menutupi seluruh tubuhnya. Hari ini arum sedih sekaligus bahagia. Ia terus berdoa semoga Tuhan memberinya jalan kebahagiaan yang tak terhingga untuk kelanjutan hidupnya nanti.