
Arumi terkejut, matanya menyipit melihat sekeliling, ia ada dimana? Bukankah semalam ia bersama Tuan Antoni? Oh tidak, apa semalam Tuan Antoni itu menghabisinya? ******* seluruh kulit halusnya. Arum bergidik, Tuan Antoni sudah tua tapi masih saja tampan dan gagah, hanya saja Ia masih belum terbiasa dengan sentuhan lelaki. Selama setahun ini Ia cuman membantu pembantu madam untuk mengerjakan pekerjaan rumah, kalau untuk melayani tamu Arum tak lihai, ia masih meminta kompensasi pada Madam untuk tak merekomendasikan pada tamu-tamunya.
Ia beranjak dari kasur, mengamati keadaan sekitar, ia yakin bahwa ini bukanlah kamar yang ia tempati semalam. Kamar ini mewah tapi masih sederhana, tipe kamar yang jarang sekali di gunakan. Ia terus berjalan, memastikan bahwa tuan Antoni sudah tak bersamanya. Ia mengendap-endap agar langkahnya tak terdengar oleh siapapun.
"Hey, kau mau kemana?"
"Gawaat, Tuan Antoni pasti sudah bangun, aku sembunyi saja" gumam Arum dalam hati.
Ia terkejut, ternyata pemilik suara itu bukanlah tuan antoni. Tampak seorang lelaki muda yang sangat tampan kini mencari keberadannya.
"Hai, simpanan Ayah. Keluar Kau" Lelaki itu terus saja berteriak.
"Hah? Simpanan Ayah? Jadi itu putra Tuan Antoni, ****** Kau Rum,, kau akan di cap sebagai pelakor setelah ini"
Arum tak sengaja menyenggol gelas yang ada di sampingnya, ia menganga takut lelaki itu menemukannya. Dan benar lelaki itu kini sudah mendekat, Arum siap-siap kabur, ia berlari sekuat mungkin meski lelaki itu kini mengejarnya.
"Hei wanita.. diam kau"
Arum tak peduli, ia tetap berlari dan berlari, ia ingin segera sampai di jalan raya, lalu memanggil taksi dan pulang ke rumah madam.
Ia panik, di depannya ada Karnaval, ia bingung harus berlari kemana, ia bersembunyi agar lelaki itu tak menangkapnya.
"Haha.. kena Kau..."
Arum terkejut, ternyata lelaki itu kini sudah ada di depannya, bersiap menangkap tubuh mungilnya. Mau berlari juga tak mungkin, ia sudah pasrah hidupnya mungkin akan lebih kejam setelah ini.
"Ngapain sih peluk-peluk Saya" Ia protes, di lepaskannya pelukan lelaki itu.
"Geer banget , najis tau pegang-pegang," Lelaki itu melepas Arum, menyilangkan ke dua tangannya ke dada, mengamati Arum dari atas sampai bawah, mirip dengan kelakuan Ayahnya, Tuan Antoni.
"Saya mohon, antarkan saya pulang ya"
"Nggak bisa, kamu sudah buat kesalahan, Kamu harus jadi asisten rumah tangga di rumah Saya, kebetulan saya butuh banget asisten sekarang" ucapnya tegas.
Mata Arum membulat, kenapa Ia harus menjadi asisten sekarang, tapi lumayan lah daripada harus melayani budak nafsu seseorang.
Ia kagum dengan ketampanan lelaki yang ada di depannya sekarang. Sepertinya ia pernah melihat lelaki ini, tapi dimana? Ah mungkin itu hanya perasaannya saja.
"Kenapa diam, ayo ikut saya"
Ia lalu berjalan di depan Arum, langkahnya sangat cepat sehingga Arum kesulitan mengejarnya.
Benar-benar, Ayah dan Anak sama-sama menjengkelkan gerutu Arum.
Lelaki itu tak menoleh sedikitpun pada Arum, ia acuh meski Arum masih tertatih tatih untuk berjalan.
"Tunggu Saya"
"Manja amat, cepetan dong"
"Cihh... Laki-laki itu menyebalkan sekali, sudah jelek tidak ramah lagi, awas ya" Ia bergumam, namun tampaknya lelaki itu mendengarnya.
"Hai Cewek, Kau sudah Aku ambil dari Ayah, bisakah Kau tidak mencelaku seperti itu?"
Tak lama kemudian, datang mobil merah menghpiri mereka.
Arum yakin, pasti lelaki ini bukan lelaki sembarangan seperti Ayahnya. Mungkin Ia juga seorang pengusaha muda.
"Ayo masuk" Ia membentak Arum, membuyarkan lamunannya.
Arum memijit dahinya, ia benar-benar pusing. Kenapa ia bisa bersama dengan lelaki nggak jelas seperti ini, mana ia tak membawa dompet, mungkin dompetnya ketinggalan di rumah Tuan antoni. Ia makin bingung, dan satu-satunya jalan adalah harus menuruti apa kata lelaki yang ada di sampingnya saat ini yang sedang asyik menatap ponsel.
Sampailah mereka di butik mewah berwarna cream yang sangat terkenal di kota ini.
Arum terkejut, ini adalah butik langganan para artis yang ia lihat lewat sosial media.
Mau apakah lelaki ini membawanya?
"Ambil beberapa potong baju untukmu, kau tak pantas memakai baju itu" Ia memberi kartu ATM pada Arum, melihat dengan remeh penampilan Arum yang lusuh.
Oh ya ampun, Arum baru sadar. Baju yang ia kenakan sekarang sangat minim dan sungguh memalukan, pantas saja lelaki ini membawanya kesini.
"Uangnya gimana Ehm.. Tuan?" Tanya Arum hati-hati.
Lelaki itu membuka kaca mobilnya, melirik Arum
"Isi Atm itu bisa untuk membeli semua baju di butik itu, jangan banyak omong, waktuku tak banyak"
Arum mengangguk, ia masuk dan cepat-cepat memilih beberapa potong baju yang harganya paling murah. Ia tak enak hati, terpenting ia sekarang sudah aman, jauh dari Tuan Antoni meski ia tau nanti Tuan Antoni akan menjemputnya.
Sampai kasir ia segera memberikan ATM kepada pelayan.
Ia menganga, padahal Ia tadi memilih baju yang paling murah tapi kenapa untuk Tiga stel baju saja Ia harus merogoh kocek sebesar Sepuluh juta rupiah. Ia geleng-geleng, semua baju yang ada di lemarinya mungkin harganya tak sampai dengan Tiga stel baju baru yang kini ada di tangannya.
"Maaf Tuan, padahal Saya tadi sudah memilih baju yang paling murah, tapi tetap saja harganya mahal Tuan, mungkin ini adalha baju termahal yang saya punya, Saya minta maaf Tuan sudah merepotkan Tuan" cerocos Arum tanpa henti.
Lelaki itu mengambil ATM yang ada di tangan Arum acuh, ia lalu kembali sibuk dengan ponselnya tak ia hiraukan sama sekali ocehan permintaan maaf Arum.
Arum terdiam, ia takut lelaki itu marah kepadanya. Ia memutar otak bagaimana ia bisa memperoleh uang sebanyak itu untuk mengganti uang Tiga stel baju tadi.
"Jadi Kamu cuman habis Sepuluh juta" Tanya lelaki itu, tak menoleh sama sekali pada Arum, ia selalu sibuk dengan ponselnya.
Apa?? Hanya? Mungkin Bagi lelaki itu Sepuluh juta Adalah nominal yang sedikit. Arum semakin yakin, lelaki ini bukanlah lelaki biasa.
"Maaf Tuan, apa perlu Saya menggantinya?" Arum menggigit bibirnya pelan.
"Gajimu selama Satu bulan tak cukup untuk mengganti harga Tiga stel baju ini. Jadi Kau diam saja!"
Arum tak bisa berkata-kata lagi. Lelaki di sampingnya itu tampan dan penuh kharisma, namun Sangat galak dan tak pernah memikirkan perasaanya. Andai saja Ia sekarang ada di kampung, berkumpul bersama ibu dan bapaknya. Mungkin keadaan tak akan jadi seperti ini.
Mobil telah sampai di rumah, lelaki itu membuka pintu dengan kasar, tak di hiruakan Arum yang kesulitan membawa barang belanjaannya tadi.
"Nanti Siang, Aku akan pergi sampai larut malam. Kau harus membersihkan seluruh ruangan yang ada di rumah, lalu memasak untuk makan malamku" Titahnya.
"Baik Tuan"