
Ya Ampun.... Sudah Jam Lima sore, oh tidak., Karena keenakan tidur aku jadi lupa waktu dan tidak ingat sama sekali kalau Aku mempunyai tugas baru. Ku ambil handuk dan segera mandi, tak butuh waktu lama untuk aku mandi, cukup terkena sabun dan badanku kembali segar.
Ku bersihkan seluruh ruangan di rumah ini dengan semangat, ini adalah pekerjaan baruku, lumayan bisa untuk mengirim uang pada keluargaku di kampung.
Setelah itu aku memeriksa isi kulkas, memastikan ada apa saja di dalamnya untuk bisa ku masak.
Sial !! Tak ada apa-apa disana.. hanya ada yogurt, telur dan mie instan.
Apa memang setiap hari Tuan makan mie instan ya?
Aku panik, jam sudah menunjukkan pukul Tujuh Malam, apa aku harus ke minimarket sebelah untuk membeli bahan-bahan masakan? Sedang dompetku ketinggalan di rumah Tuan Antoni.
Ya tuhan, harus bagaimanakah Aku?
"Ekhem....."
Ku dengar Tuan sudah memasuki rumah, terpaksa Aku masak saja mie instan dan telur yang ada dalam lemari es tadi. Semoga saja tuan suka dengan mie instan buatanku.
Aku mengintip dari balik tembok, Tuan melempar jaket kulitnya dengan acuh, lalu masuk ke dalam kamar. Sepertinya ia sangat lelah dan mungkin akan tidur? Lalu bagaimanakah mie instan ini? Apa aku makan saja, lumayan aku juga sedang lapar.
"Hai, Mana makan malam untukku?" Tuan mengagetkanku, ia celingukan di depan meja makan.
Aku menggigit bibirku pelan, membawa mie instan plus telur yang sudah ku masak tadi, semoga saja Tuan suka.
"Maaf Tuan, ini makan malam untuk Tuan" aku menyerahkannya, hatiku dag dig dug melihat ketampanan Tuan yang baru saja mandi., Ya Tuhan, lelaki ini sungguh sempurna, hidung mancungnya, mata tajamnya, garis wajahnya yang tegas, mungkin kalau Kakak seniorku tau Aku bersama lelaki setampan ini, pasti mereka berebut untuk melayaninya.
" Kau memberiku mie instan? Aku sudah muak dengan Mie instan, kenapa kau tak mengerjakan Titahku tadi" Ia membuyarkan lamunanku, melotot, membentakku, menaruh kasar seporsi mie instan ke atas meja.
Sungguh, aku harus menjawab apa.
"Maaf Tuan, di dalam lemari es tadi cuman ada sebungkus mie instan dan telur, oh iya, ada sebotol yoghurt, Saya mau pergi ke minimarket tapi dompet Saya ketinggalan di rumah tuan Antoni" Jawabku Jujur. Ku lihat Ia berdecih pelan, ia mengacak rambutnya yang masih separuh basah.
Zio sadar, ia terlalu sibuk untuk beberapa hari ini, bahkan mengisi persediaan di lemari es saja ia tak ada waktu. Ia juga lupa tak memberikan uang sama sekali kepada wanita ini. Ah... Kenapa perempuan ini polos sekali.
"Ya sudah, Aku minta maaf, ini kelalaianku, aku mau makan di luar saja"
Zio berlalu dari Arum, ia mengambil jaket kulitnya lalu pergi, Arum menangis, lelaki itu baik, tapi juga kasar, ia meringis pelan, menahan suara yang keluar dari perutnya. Ia baru sadar bahwa ia belum makan dari tadi pagi. ia mengambil seporsi mie instan yang Zio taruh di meja makan tadi, tak apa yang penting perutnya terisi makanan meski hanya seporsi mie instan dan telur mata sapi.
"Hai, ayo ikut makan denganku" Zio kembali, ia menatap pilu Arum yang sedang lahap memakan mie instan. Ia baru sadar bahwa perempuan itu pasti belum makan dari pagi.
"Tak usah Tuan, lebih baik Saya makan mie instan, ini sudah cukup kok" balas Arum.
Zio menyandarkan tubuhnya pada tembok, bisa-bisanya wanita ini tak menerima ajakan makan malamnya? Padahal ia tau bahwa sebenarnya wanita itu sangat lapar dan memerlukan makanan lain selain mie instan.
"Kau tak akan kenyang dengan Makanan itu" Zio berlalu meninggalkan Arum yang masih sibuk melahap mie instan.
Ia tak punya waktu lagi ini sudah jam Setengah delapan malam, sebentar lagi ia kembali ke lokasi syuting untuk take malam.
"Tuan.. tunggu" Napas Arum terengah-engah, mengehnetikan Mobil Zio yang sudah melaju di depan pintu utama.
Zio sadar kalau wanita itu kini ada di di depan rumah.
"Dasar, pada akhirnya Ia ikut juga kan.. dasar wanita sok jual mahal"
Zio membuka kaca mobilnya, menyuruh Arum mengunci pintu dan segera masuk ke dalam mobil.
"Kamu mau makan Apa?" Tanya Zio pada Arum.
Arum memperhatikan menu makanan dengan seksama, rupanya Tuannya ini memang bukan lelaki biasa. Untuk makan malamnya saja Tuannya itu harus merogoh kocek Dua ratus rupiah untuk seporsi Nasi goreng. Ia benar-benar tak habis fikir.
"Tuan, kenapa mahal sekali" Arum menggigit bibirnya pelan, ia bingung mau makan apa, semuanya mahal.
"Sudah, terserah kamu mau makan apa terserah, cepat pilih waktuku tak banyak"
Akhirnya ia memilih Nasi goreng juga sama seperti tuannya, tak lama kemudian makanan datang. Ia melihat Tuannya sangat lahap, tanpa sadar ia tak menghiraukan Nasi gorengnya sendiri dan malah asyik menatap ketampanan Tuannya.
"Ayo, kenapa nggak di makan? Waktuku tak banyak. Cepat habiskan" titahnya acuh sambil melihat jam tangannya.
"Sepertinya pekerjaan Tuan ini sangat sibuk, hingga untuk makan malam saja ia di kejar waktu. Sebenarnya Tuan ini kerja apa sih?" kata Arum dalam hati.
"Tuan" Kata Arum pelan, ia berusaha menata kata-kata yang ia ucapkan pada Tuan, takut salah dan menyakiti hati tuan.
"Ada apa?"
Em... Tuan, dompet sama ponsel Saya ketinggalan di rumah Tuan Antoni" Arum tak sadar, sebenarnya bukan ini yang akan Ia katakan pada Zio. Ahh... Betapa nervousnya Arum di hdapan lelaki tampan ini.
"Oh.. masalah itu.. Gampang, nanti kita ke Galaxy Mall, kamu bisa pilih ponsel disana"
Arum terbelalak, Tuannya itu sangat baik sekali, padahal ia hanyalah seorang pembantu, bahkan mungkin calon pelakor di keluarga tuannya tapi tidak jadi. Tapi ia masih sangat baik kepadanya, tapi ia masih bertanya-tanya kenapa Ia tak tinggal serumah dengan ayahnya sendiri? Lagipula ayahnya masih sangat muda, tak mungkin jika sudah memiliki putra seusia tuannya ini.
"Nggak usah Tuan, kita ambil saja di Rumah Tuan Antoni" Arum tak enak,.ia hanya ingin ponselnya yang lama.
"Jangan melawanku.. cepat habiskan lalu Ikut aku sebentar, setelah itu kita akan ke Galaxy Mall.. mengerti?" Ucapanya tegas dan final.
Arum mengangguk, perintah tuannya benar-benar tak bisa di bantah. Ia berdoa semoga tuannya ini benar-benar lelaki yang baik, dan mau menerimanya sebagai asisten rumah tangga, bukan untuk melayani budak nafsu seperti Tuan Antoni.
"Kita sudah sampai, kamu boleh membeli ponsel impian Kamu, ini ada kartu ATM, jangan khawatir, tak akan habis kok, saya tunggu di mobil ya" Ucap Tuan dengan wajah ketusnya.
"Tapi Tuan, Saya nggak jago memilih ponsel" Aku merayunya. Tapi sungguh aku tak bermaksud aneh, tujuanku memang karena ini baru pertama kali Aku membeli ponsel sendiri, takut kena tipu.
"Aku capek, bisa sendiri kan?, Ini sudah jam delapan, sebentar lagi aku sibuk" Jawab Zio tanpa menoleh.
"Cuek banget" Batin Arum kesal.