
Zio menggigit bibirnya, ia khawatir mamanya bertemu gadis ceroboh itu. Dan kalau mama bertemu gadis itu, otomatis semua kebohongannya tadi akan terungkap.
"Dasar gadis ceroboh" gerutu Zio.
Ia membayangkan Mamanya bertemu dengan gadis itu, mengintrogasi darimana asalnya dan bisa menjadi masalah besar kalau tahu Ia adalah Gadis sewaan suaminya sendiri. bisa-bisa penyakit jantung Mamanya itu kambuh.
"Zi, kenapa gudangnya nggak di tutup sih, nanti ada tikus keluar loh, selalu saja kamu ini ceroboh" Mama Zio melihat pintu gudang yang terbuka, lalu menutup dan menguncinya.
"udah zio tutup tadi,, ya mungkin kena angin akhirnya kebuka lagi" Zio membela dirinya.
"Besok hati-hati lagi ya, Mama nggak bisa setiap hari jenguk Kamu, lagian Kamu juga sudah dewasa, udah bisa atur rumah sendiri"
Zio mengacak rambutnya, ia ingin Mamanya segera pergi dari rumah.
"Ma, Zio ntar lagi syuting, Zio anter Mama ya? Sekalian berangkat" Tawar Zio sekalian ide biar Mamanya pergi dari rumah.
"Ok Zio, ingat pesan Mama tadi "
"Jangan ceroboh" Lanjut Zio.
"Good.. ya udah yuk" Ajak Mama.
*****************
Arum gelagapan, dan sekarang Mama Zio mencari asal bunyi gelas yang ia pecahkan tadi. Ia terus mencari tempat yang paling aman namun langkah Mama zio semakin dekat, tak ada pilihan lagi Ia harus masuk ke dalam gudang. bersembunyi disana. Semoga saja Mama Zio tak mengetahui keberadaannya.
"Alhamdulillah, lumayan lah, disini aman, tapi berdebu banget ini, bisa asma aku kalau lama disini... Uhukk.." Arum menutup hidungnya menghindari bau ruangan yang pengap dan berdebu. Ia mencari tempat yang aman, sekiranya Mama tuannya tidak curiga tentang keberadaannya.
"Zi, kenapa gudangnya nggak di tutup sih, nanti ada tikus keluar loh, selalu saja kamu ini ceroboh"
"Udah zio tutup tadi ya mungkin kenak angin akhirnya buka lagi" Zio membela dirinya.
Arum mendengar suara Mama Zio. Langkah wanita cantik itu sudah dekat, ia menuju gudang.
"Gawat, Mama tuan menuju kesini, aku harus gimana nih, mana trmpatnya gelap" Batin Arum. Ia berusaha melihat keadaan luar dari balik tumpukan kardus. Jantungnya hampir copot sejak ia mendengar suara wanita itu. Ia berfikir keras, kalau Mama Tuannya itu masuk ke dalam gudang hal apa yang harus ia lakukan. Keringat dingin mengucur deras dari pelipis Arum. Nafasnya tak teratur, hidungnya juga menjadi susah nafas akibat ruangan gelap pengap dan berdebu.
"Besok hati-hati lagi ya, Mama nggak bisa setiap hari jenguk Kamu, lagian Kamu juga sudah dewasa, udah bisa atur rumah sendiri"
Arum mendengar suara Mama Zio, ia lega ketika wanita Cantik itu akhirnya pergi dari gudang.
Clek.. clek...
Terdengar suara pintu yang di kunci dari luar, Arum ingin berteriak meminta tolong, namun Ia urungkan, percuma saja kalau berteriak sekarang toh buat apa daritadi Ia bersembunyi mati-matian dari Mama Zio.
Sekarang Ia hanya pasrah, menjatuhkan tubuhnya di lantai, bertumpu pada ke dua kakinya. Bagaimana nasibnya kini ? apa seharian ia akan tidur di gudang tanpa makan, minum serta oksigen yang memadai. mau menelvon Tuan zio juga tidak bisa karena ponselnya ada di kamar. Ia harus berbuat apa? Meminta tolong pada siapa.
"Tidak, aku harus berusaha keluar dari sini" Ia bangkit dan mulai mencoba mendobrak pintu.
Keringat makin deras mengucur dari dahinya bersamaan dengan cairan bening yang keluar dari matanya. Arum menyerah, tubuh ringkihnya itu tak bisa mendobrak pintu yang kokoh. Ia tak tau lagi harus berbuat apa. luruhlah tangisannya sekarang dalam gelap, dalam sunyi, sepi, sendiri bertemankan debu-debu. Sampai akhirnya ia tertidur dengan beralaskan kardus bekas barang-barang yang sudah tak terpakai.
****************
"1 2 3 Eksyen...."
"Tapi sayang,, Aku nggak selingkuh... Tapi... Tapi"
"Oke.. break dulu, Kita take lagi... Zio.. kamu konsentrasi dulu, Ini sudah Tiga kali Kamu salah" teriak kru.
"Oke Bang, Saya mau break dulu biar fokus" Zio menjauh dari lokasi syuting, ia ingin menenangkan diri, mencoba melupakan segala masalah yang ada di hidupnya terutama tentang Mama dan suami mudanya. Zio tidak tahan terus menerus di teror oleh Antoni, apalagi kalau sudah nekat, Lelaki licik itu akan melakukan hal-hal di luar nalar. Ia bisa menghancurkan kariernya bahkan kehidupannya. Ia mengacak rambut frustasi, apalagi ada wanita muda yang saat ini menjadi asisten barunya, ia bingung berapa lama harus menyembunyikan wanita muda itu dari Mamanya, ia sadar ia tak bisa berbohong kepada wanita yang sangat ia sayangi itu.
"Zi, Kamu kenapa sih? Dari tadi kok nggak fokus? Ada masalah?" Renata mendekat, mengambil posisi duduk berhadapan dengan Zio.
"Bukan urusan kamu" Jawab Zio acuh. Ia jengkel mengapa wanita ini selalu menganggunya.
"Zi, aku cuman prihatin sama kamu, akhir-akhir ini Kamu selalu gagal fokus, suka muram dan semakin cuek, coba dong terbuka sedikit kali aja aku bisa bantu" Renata terus membujuk Zio.
Zio menatap lurus ke depan, ia tak menatap Renata sama sekali. Pikirannya kacau.
"Ya udah Zi, itu di panggil lagi,, fokus yaa.. biar take ini selesai"
"Re..." Zio menarik tangan Renata agar wanita itu menoleh kepadanya.
"Kenapa Zi?"
"Kalau misalnya Pemeran cowoknya di ganti, ekhem... Bukan aku gitu? Ganti aktor yang lain,, bagaimana re ?" Zio mendekat.
"Kamu gila Zi... Kamu kenapa sih? Profesional dong, ini syuting sudah hampir seratus persen, dan Kamu mau kabur? Hallo Zi, jangan libatkan urusan pribadimu dengan kariermu sekarang.. aku mohon" Renata menggenggam tangan Zio, mencoba meyakinkan lelaki itu.
"Tapi aku nggak fokus Re, " ucap Zio lesu.
"Kita bisa berlibur bersama, biar fresh dan membangun chemistry seperti dulu lagi, ini layar lebar Zio, Kita nggak boleh main-main" Ucap Renata.
Zio setuju dengan ide Renata, yaa.. ia harus berlibur, merefresh diri, mungkin setelah itu ia kembali fresh dan berkonsentrasi lagi.
"Nanti aku coba bilang ke produser, Kita cuti Tiga hari aja, kita pergi ke tempat yang nyaman dan tenang, semoga setelah itu fikiran kamu lebih fresh"
"Tiga hari? Jika ia meninggalkan gadis polos selama Tiga hari apa yang akan terjadi? bisa-bisa Antoni menculiknya dan menjadi masalah baru di keluarganya. tidak, ini tak bisa dibirkan" Batin Zio.
"Sehari aja ya Re?" Tawar Zio.
"Sehari? Nggak kurang tuh Zi?" Renata menatap Zio lekat. kini hampir tak ada jarak diantara mereka berdua.
Zio membalas tatapan maut Renata, ia perlahan menghindar, bagaimanapun juga Zio adalah Lelaki normal yang bisa panas dingin jika dekat dengan wanita seksi seperti Renata.
"Aku nggak bisa lama-lama Re, ada banyak urusan yang harus aku selesaikan tepat waktu" Bohong Zio.
"Ya udah Zi, nggak apa-apa. Kita ke pantai aja kalau gitu"
Zio tersenyum, ini ide yang bagus. Separuh semangatnya kini tumbuh kembali.
Renata menatap Zio takjub, baru kali ini lelaki itu tersenyum kepadanya. Khusus untuknya. Bukan sebagai lawan main dalam sebuah peran.
Hatinya berbunga-bunga. Ia tau Zio adalah Aktor profesional yang terkenal sangat cuek, dan tertutup. Jarang ada gosip jelek yang melekat pada dirinya. Di mata wanita itu Zio adalah Sosok yang perfect, jarang bicara dan serius. Ia sudah mengidolakan Zio sejak lama. Dan ketika sebuah rumah produksi menawarkan ia beradu akting dengan Zio, Renata langsung bersorak dan langsung menerima tawaran itu. Semoga saja ia lebih dekat dengan Zio, bukan hanya sebagai lawan main dalam sebuah Film namun sebagai sosok yang akan mengisi kekosongan hatinya.