
Matahari belum saja muncul sempurna, namun Zio sudah bangun pagi ini, ia sengaja pergi ke minimarket untuk membeli keperluan rumah dan bahan-bahan makanan.
Setelah dari minimarket, dengan semangat 45 ia masukkan semua bahan-bahan makanan ke dalam lemari es dan laci. Ia tak ingin gadis itu kebingungan lagi mencari bahan makanan, apalagi mengingat pembicaraan gadis itu semalam. Kemudian ia olahraga sebentar lalu kembali tidur. Syuting sampai larut malam ternyata membuatnya kurang tidur dan tidak enak badan.
Kriiiiiiiinggggggggg
Jam beker Arum berbunyi nyaring. Arum menggeliat mengambil benda itu lalu memencet tombol off. Rupanya ia telat bangun, karena semalam asyik bicara dengan Vita. Arum merutuki dirinya sendiri, ia selalu tak bisa disiplin dan sangat ceroboh. Setelah mandi, ia lalu menyapu seluruh ruangan yang ada di rumah, kemudian menyiram tanaman-tanaman milik tuannya, tak butuh waktu lama bagi Arum untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga karena di tempat lokalisasi dulu Arum yang mengerjakan semuanya.
"Loh?? Lemari es nya banyak bener isinya?" Arum menganga, ia heran kenapa isi lemari es sekarang penuh dengan bahan makanan padahal tadi malam cuman tersisa satu mie instan dan botol minum besar.
"Apa Tuannya ya yang mengisi ketika ia tidur" batinnya.
Arum mengambil wortel, kentang, gubis, mencucinya lalu memotongnya kecil-kecil. Sambil menunggu air masak ia menggoreng telur dan ayam. Kemudian ia masukkan potongan-potongan sayur tadi ke dalam air yang sudah masak. Ia tambahkan kaldu ayam dan sedikit gula, lalu ia tutup kualinya agar masakannya cepat matang.
"Hmmm... Baunya enak sekali" Arum membuka tutup kuali dan mengambil sendok, mencicipi masakannya apa rasanya sudah enak atau masih kurang enak.
Dengan cekatan ia merapikan ruang makan, dan menaruh semua masakannya tadi ke atas ruang makan, setelah semuanya siap, Arum bingung apa ia harus membangunkan tuannya atau membiarkan tuannya itu tidur.
"Ehmmm... Sudah bangun?"
Arum tersenyum, ia bersyukur tuannya sudah bangun dan pasti sebentar lagi akan sarapan.
"Maaf tuan, sarapan pagi sudah siap, Saya pamit sebentar untuk cuci-cuci baju" ucap Arum.
Zio mendelik, ia heran, gadis itu masak sebanyak ini. Ada sayur sop, ayam goreng, tumis tempe, sambal ikan, tampaknya ia rajin dan pintar memasak, lumayan lah mungkin Zio harus menjadikan gadis ini sebagai asisten baru mengingat ia sudah lama tak pernah mempunyai asisten khusus di rumah.
Ia duduk di meja makan, mengambil nasi, di cicipnya sayuran dan lauk yang di masak gadis itu. Ia terkejut rasanya enak sekali. Setelah habis satu porsi, di ambilnya lagi nasi dan lauk hingga tak terasa zio sudah habis Tiga porsi Sayur sop dan lauk pauknya.
"Lumayan juga menyelamatkan gadis itu dari Antoni, aku jadi punya koki pribadi di rumah" Ucapnya dalam hati.
Setelah kenyang, Zio mandi, ia lupa kalau hari ini Syuting di mulai pukul Delapan pagi, jadi ia harus cepat-cepat datang ke lokasi sebelum jam Delapan pagi.
Sampai kamar ia lupa bahwa persediaan bajunya hampir habis, baju kotornya kemarin juga belum ia lempar pada laundry untuk di cuci. Ia tersenyum, lalu pergi ke ruang belakang menemui Arum.
"Hei, tolong cuci baju-bajuku. Kemudian setrika yang rapi. Oh ya,, jangan lupa nanti rapikan kamarku jangan sampai ada debu yang menempel di ranjang dan barang-barangku" ucap Zio tegas sambil melempar Kaos putih yang baru ia lepas.
Arum menangkap kaos itu. Kemudian ia melanjutkan mencuci baju.
"Hei, itu ada mesin cuci, kenapa kau capek-capek mencuci seperti itu? Dasar bo..." Zio diam, ia tak melanjutkan kata-katanya.
"Saya belum minta izin pada Tuan untuk menggunakan mesin cuci itu" Arum menunduk.
Zio terkejut, rupanya gadis ini benar-benar lugu dan jujur, ia tak salah pilih menjadikannya asisten pribadi melihat sifat baik gadis itu.
"Sudah saya izinkan" zio menjawab, lalu berlalu meninggalkan Arum yang masih melongo.
Arum membilas cuciannya tadi lalu memasukkan semuanya ke dalam mesin cuci, ia cukup mnegeringkan saja kemudian menjemurnya. Ia bersyukur tugasnya di sini tak terlalu berat, jadi ia bisa mencari pekerjaan lain agar bisa segera mengirim uang kepada keluarganya.
Ia ingat, dulu di lokalisasi ada salah satu kakak seniornya yang berjualan online, labanya cukup banyak jika di kumpulkan, ia memutar otak harus menjual barang apa dan bagaimana caranya.
Oh iya,, mungkin Ia bisa menjual aneka masakan jadi atau kue kering melihat keahliannya dalam memasak.
"Terimakasih banyak Tuan" Arum mengangguk.
Zio berlalu, Arum kembali fokus pada Ponselnya, ia harus cepat membuatnya dan memasarkannya di media sosial. Ia teringat, tadi tuan memberinya uang di atas lemari es. Ia mengambil uang itu dan terbelalak melihat jumlah nominalnya.
"Empat ratus ribu rupiah? Banyak sekali" Arum menggenggam uang itu, tangisnya pecah, ia teringat keluarganya yang ada di kampung.
Ia lalu masuk ke kamar dan memasukkan satu lembar ke dalam celengan Ayam.
Halo... dok dok... Zio??
Terdengar suara seorang wanita dari luar, Arum bergegas segera membukakan pintu, mungkin yang datang keluarga Tuannya.
Langkahnya terhenti setelah melihat Tuannya itu mencium tangan seorang wanita yang baru datang dan wajahnya sangat mirip dengan Tuan Zio.
Ia yakin itu adalah Ibu Tuan, dan ia baru ingat kalau itu ibu tuan, berarti itu adalah istri dari Tuan Antoni.
Arum mundur perlahan, ia trauma mengingat sentuhan Tuan Antoni tempo hari. Tubuhnya meremang dan panas dingin seketika.
"Hay Ma... tumben pagi-pagi kesini" Tanya Zio berusaha menyembunyikan kepanikannya.
"Zio, tumben rumahnya rapi?" Tanya Mama Zio melihat-lihat ruangan di rumah Zio, ia hafal betul putra satu-satunya itu pasti sangat sibuk dan tidak sempat membersihkan rumahnya.
Zio diam, apa mungkin ia harus jujur kalau ia mempunyai asisten baru. Tapi ia khawatir mamanya akan bertanya darimana asal asistennya itu, kenapa zio mencari asisten yang masih sangat muda.
"Tadi Zio sengaja bangun pagi Ma, lalu beres-beres, kebetulan juga kemaren malam Syuting pulang jam Sepuluh Ma, jadi Zio bisa tidur panjang"
Arum menutup mulutnya, tuannya itu sudah berbohong kepada Ibunya sendiri. Ia penasaran kenapa Tuannya itu harus berbohong?
Sekarang Ia tau, harus segera sembunyi, agar Ibu tuannya itu tidak menemukan dirinya.
"Zio, mama lapar, ada makanankah? Biasanya Kamu pesan lewat Online"
Zio mendengus, kenapa Mamanya ini bisa datang di waktu yang tidak tepat.
"Ada Ma, di ruang makan, Zio juga Sudah makan kok" Zio berbohong sekali lagi, ia lalu mengantar Mamanya ke ruang makan menemaninya makan, semoga setelah ini mamanya pulang.
"Masakannya enak banget loh Zi, ini persis masakan Mama juga, kamu pesan dimana?" Tanya Mama sambil mengunyah ayam goreng kecap buatan Arum.
"Biasa Ma, di kedai langganan Zio" Bohong Zio.
Praank....
Zio mendelik, sepertinya itu kelakuaan gadis bodoh itu. Bisa-bisanya Ia memecahkan gelas ketika dalam suasana genting seperti ini.
"Zi? Suara apa itu? Mama lihat dulu ya" mamanya beranjak dari meja makan berjalan menuju ruang belakang. sementara Zio panik dan mengekorinya dari belakang.
"semoga saja tidak ketahuan" Batin Zio.