A Miracle

A Miracle
Bab 2



Rum, Kamu harus ingat, jangan cuek-cuek jadi cewek, nanti Teman Madam takut" Bisik Madam padaku ketika Kami baru saja turun dari Mobil.


"Tenang saja Madam,, Kali ini Arumi akan berubah Kok, kan umur Arum udah Duapuluh tahun, harus lebih berani dong madam'


"Ok Rum, Madam pegang janjimu, Ohya, kalau ada apa-apa jangan lupa telvon madam atau Kakak-kakakmu ya"


"Siap Madam"


Kemudian Kami berdua masuk ke dalam rumah yang Aku tak tau dimana ujungnya, halamannya luas sekali, bahkan sepertinya bisa untuk parkir sepuluh mobil, ada macam-macam bunga di sekelilingnya dan juga kolam ikan yang menambah keasrian Rumah ini, Aku benar-benar berdecak kagum memikirkan harta sang pemilik, pasti kaya banget, tiangnya aja mungkin seharga penghasilanku Sepuluh tahun.


"Rum, kok melamun,, ayo masuk"


Sampai di dalam Aku semakin takjub melihat betapa megah dan mewahnya rumah ini, seperti rumah-rumah yang di pakai artis Ibukota syuting. Tampak lampu hias menggantung dengan anggun, deretan lukisan-lukisan mahal tertata dengan apik di dindingnya yang berwarna emas, Aku semakin penasaran dengan pemiliknya.kerja apa dia? Apa dia seorang Bos besar, dokter, ataukah pengusaha, sama seperti kebanyakan profesi tamu teman-temanku yang lain.


"Ehmmmmmm"


Aku terkejut, jadi ini Teman madam yang katanya tajir banget, bisa kupastikan usianya Empat puluhan, namun Ia masih muda dan gagah miirp sekali dengan artis sinetron yang masih muda, tapi pasti Ia sudah tua, berbeda jauh dengan usiaku...Oh tidak... Bagaimana nasibku kini? Apalagi ini adalah 'malam pertamaku' untuk tamu-tamu madam.


"Siapa namamu gadis muda?" Tanyanya sopan.


"Kenalkan Saya Arumi Pak"


"Cantik, masih muda juga" Ucap Lelaki itu mendekat, mengamati Arum dari atas ke bawah.


"Bagaimana Tuan? Bagus kan pilihan Saya.. hahaha.. tenang saja Tuan, Ini anak Saya yang paling cantik dan muda, pasti Tuan akan puas" Madam berbisik pada Tuan, tapi aku dapat mendengarnya dengan jelas.


"Oke, ini Cheknya, kalau ada yang kurang bisa hubungi Saya lagi" Tuan mengambil kertas dari sakunya, sepertinya itu Dp awal untuk "membeliku" yaah.. membeliku.


"Ahh Tuan, besar sekali, ini Lebih dari cukup loh" Madam menganga melihat kertas itu.


"Santai saja, oh ya? Sudah selesaikah?"


Sepertinya Aku tau maksud Tuan berkata seperti itu, ia ingin Madam segera pulang agar Ia bisa cepat bercengkrama denganku, sedikit ngilu memang berduaan dengan lelaki seperti ini, tapi aku bisa apa? Ini yang aku butuhkan untuk saat ini?


"Oh tentu Tuan, saya berterima kasih yang sebesar-besarnya pada Tuan atas kebaikan Tuan, saya harap tuan tidak kapok lagi ya menyewa Anak-anak Saya" Ucap Madam.


"Tentu saja" Jawab Tuan itu ketus, melirik pada Madam agat Madam cepat keluar dari sini.


Ingin rasanya ikut pergi bersama Madam, tapi aku tak bisa, Madam sudah menyerahkan aku pada lelaki paruh baya ini. Ku bayangkan malam-malamku bersama dengannya untuk beberapa hari bahkan beberapa minggu, cukup rumit memang, tapi ini semua demi adikku, demi keluarga tercinta.


"Namamu siapa Gadis manis?" Tuan mendekat, menatapku lekat.


"Kamu baru disana? Keliatannya masih canggung?"


Tampaknya Tuan ini sudah sering datang ke tempatku, mungkin Ia lebih mengenal Kakak-kakakku yang senior daripada Aku yang masih anak kemarin sore.


"Baru Dua tahun Tuan" Jawabku salting, Aku menunduk tak berani menatap wajahnya, sedangkan Ia tetap dalam posisi duduk santai tak lepas memandangku walau hanya sedetik.


"Oh pantas, kenalkan Aku Antoni, tak perlu tau usiaku, pasti Kamu bisa menebak berapa usiaku sekarang" Katanya tegas.


"Iya Tuan"


"Arum, kenapa masih terus berdiri di situ? Cepat mandi dan ganti baju, waktuku tak banyak disini" Ia berdiri lalu menyuruhku mengikuti langkahnya menuju kamar. Entah Kamarku apa kamar kita berdua. Ahh Arum, kenapa harus berfikir seperti itu sih !


"Jadi ini Kamar ehmm..Kita,,Kau boleh mandi Aku akan menunggumu di sini" Ucapnya sambil menenggelamkan tubuh gagahnya ke atas ranjang. Aku heran, Ia masih saja terlihat tampan dan gagah walau pasti usianya tak lagi muda.


"Siap Tuan"


Aku melangkah menuju kamar mandi, Kikuk dan malu, walau tadi sudah berjanji kepada Madam, tapi Aku tetap selalu salah tingkah. Oh yaa... Bajuku masih ada di dalam tas, ku putar langkahku dan kembali untuk mengambil baju.


"Tak usah Rum, Itu sudah cukup untukmu" Tuan menatapku tajam, ia melirik handuk tipis yang ada di sebelah kamar mandi, berisyarah agar aku memakai itu saja setelah mandi.


"Tapi tuan, "


Ia tak menjawab, malah mendekati aku yang kini terdiam di depan Kamar mandi, ia melepas jasnya, wajahnya berkeringat, aduh, aku takut. Belum apa-apa juga ia sudah seperti ini, apalagi beberapa hari ke depan?


Aku mundur, berusaha menghindar darinya. Sebenarnya ini tak boleh, toh Ia sudah membayar mahal untukku, tapi aku hanyalah Arum, wanita biasa yang masih sangat malu jika di perlakukan seperti ini oleh lelaki asing, apalagi ini lelaki pertamaku.


"Kamu cantik sekali, masih muda"


Ia semakin mendekat, nafasnya memburu, di dorongnya aku pada tembok, lalu ia perlahan membuka kancing kemejaku, oh tuhan bolehkan aku berteriak? Aku benar-benar takut. Aku benar-benar masih belum siap.


"Tuan," Ucapku pelan,


"Kenapa Arum? Ayo Kita bersenang-senang malam ini, kamu masih sangat muda dan cantik"


"Saya malu tuan" Aku menangis, tapi mungkin Tuan tak akan menghiraukan tangisanku, baginya tubuhku lebih penting daripada tangisku.


"Nggak usah malu Arum,, ini masih permulaan, setiap hari nanti kamu akan bersama saya, ada di pelukan saya" Ia menyeringai, lalu membuka kemejanya perlahan, dengan kasar Ia mendekatkan wajahku pada wajahnya, di elusnya rambutku dengan mesra, ia tak membiarkanku lepas dari pelukannya meski aku benar-benar tak nyaman. ia lalu mendaratkan bibir merahnya pada bibirku yang jujur belum pernah terjamah oleh lelaki manapun, oh tuhan tolong aku... Aku ingin kabur dari tempat ini, tuhan maafkan aku....


Dan semuanya menjadi gelap.......