A Miracle

A Miracle
Bab 10



Arum menyelipkan handpone di antara bahu dan telinganya, tangannya sedang sibuk, sebelah memasukkan roti ke kotak makan sebelah menuang air panas di gelas.


Ia harus menyiapkan semua ini sebelum Tuan Zio pergi. Ia juga sudah menyiapkan baju tuannya dan keperluan lain ke dalam koper semoga saja Tuannya itu tidak telat bangun.


"Taraaa... Alhamdulillah.. akhirnya beres juga" Aum menghembuskan Nafas, duduk di meja makan memandangi beberapa kotak bekal yang ia siapkan untuk Tuan Zio, ia sengaja bangun pagi-pagi buta membuat camilan kering dan tumis udang buncis untuk tuannya yang akan pergi ke luar kota.


Sekilas, Zio melihat Arum yang menyeka keringatnya. Ia takjub ketika melihat di atas meja ada banyak sekali makanan dan kotak bekal yang sudah di tata dengan rapi. tak lupa masakan arum yang baunya sudah membuat perut berdemo meminta haknya.


"Ini untuk Apa?" Zio mendekat, mengamati meja makan yang penuh dengan makanan.


"Hehe... Untuk Tuan Zio, lumayan Tuan bisa di makan di mobil nanti"


Zio terkekeh, seumur hidupnya ia tak pernah membawa bekal seperti ini, ia dan keluarganya lebih suka membeli di supermarket atau makan di restoran cepat saji. Baginya membawa bekal seperti ini tidak praktis dan semakin merepotkan perjalanannya.


"Kamu semua yang membuatnya?" Tanya Zio menetap arum yang masih berpakaian lusuh lengkap dengan celemek di luarnya. Ia heran, kenapa Wanita itu sangat cantik dan manis meski di wajahnya tak tersapu make up sama sekali.


"Daripada uang dari Tuan Zio terbuang sia-sia, tadi pagi saya membeli bahan-bahan untuk kue kering " jawabnya polos.


Damn ! Gadis itu memang lugu, polos dan jujur. multitalenta juga ! Dengan uang yang tak seberapa jumlah nominalnya ia bisa membuat beberapa Kue kering yang di masukkan di kotak bekal. Kali ini Zio semakin yakin kalau ia tak salah memilih gadis muda itu sebagai asisten rumah tangganya.


"Silahkan makan dulu tuan, itu sudah saya siapkan" ucap arum santun.


Zio tetap berdiri di depan meja makan, mencicipi satu kue kering buatan Arum.


"Enak banget" Puji Zio. Ia tak menyangka kalau ternyata wanita itu memiliki kemampuan yang luar biasa seperti ini.


"Aduhh Tuan, maaf.. rasanya nggak enak yaa" Arum menggigit jari, menyadari Zio mencicipi kue buatannya. Ia khawatir Zio tak suka, mengingat makanan Zio selalu mahal dan mewah bukan seperti kue murahan yang ia buat sendiri.


"Standart. Lumayan bisa di buat cemilan di mobil"


Arum memberikan senyumnya pada Zio, senyum merekah yang membuat pipinya berubah menjadi merah jambu. Meski Zio hanya mengatakan rasa kuenya itu standart, arum luar biasa bahagia. Ia semakin semangat untuk belajar membuat kue yang lebih enak lagi.


"Ohyaa, sebentar Tuan, saya masukkan dulu"


Dengan cekatan arum memasukkan satu persatu kotak bekal ke dalam tas bekal yang lumayan besar.


Zio terkekeh geli, rasanya aneh saja jika ada yang menyiapkan bekal ini untuk dirinya. Apalagi di buat langsung oleh tangan mulus dan lentik seperti tangan Arum. Separuh hatinya menghangat, ternyata ada juga wanita seperti arum yang sederhana dan pintar memasak. Tapi seketika ia ingat, arum berasal dari tempat terhina, bisa jadi ini kelebihan arum di balik kekurangannya sebagai wanita malam.


"Yah... Ia tetaplah wanita malam yang tubuhnya sudah di cicipi oleh banyak lelaki hidung belang" batin Zio.


"Ini Tuan, semoga Tuan suka dengan kue buatan Saya" Arum tersenyum tulus kepada tuannya. Senyuman paling manis yang ia berikan selama ini. Ada semangat tersendiri ketika melihat wajah tuannya yang tampan dan dingin itu.


"Terima kasih. Saya berangkat dulu" Pamit Zio cuek, mengambil tas bekal dari tangan Arum.


"Tuan makan dulu,, sarapan" Cegah Arum.


Zio meletakkan tas bekalnya, lalu kembali lagi ke meja makan. mencicipi sepiring Tumis udang buncis buatan arum.


"Memang persis masakan Mama" Kata Zio dalam hati.


Bahkan ia juga berencana ingin meletakkan arum di salah satu cabang restoran milik mamanya. Tapi rencana itu ia simpan dulu, mengingat keselamatan arum sedang tidak baik selama beberapa bulan ke depan.


"Oh ya. Coba Miscall nomor Saya, saya lupa menaruh ponsel dimana" Zio berkilah, ia gengsi berkata yang sebenarnya pada Arum. Sebenarnya ia khawatir jika gadis itu terjebak lagi, atau mungkin di culik oleh Antoni. Kemudian ia berlalu dari hadapan arum,bersiap-siap menjemput Renata.


"Siap Tuan"


Sampai di depan rumah Renata, ternyata gadis sexy itu sudah siap. Zio menganga, baju Renata yang ia pakai pagi ini sangat mirip dengan kemeja abu-abu yang ia pakai.


"Ayo Re" Panggil Zio dari kaca mobil.


"Bantuin Zi, ini bawaanku banyak" Renata memelas.


"Sudah, jadi kita mau kemana?" Tanya Zio menatap lurus jalanan, tak tergoda dengan kecantikan dan keseksian wanita yang kini ada di sampingnya.


"Pasangin sealtbelt" Rengek Renata.


"Shit... benar-benar wanita manja" gerutu Zio.


"Pasang sendiri, aku lagi sibuk" Tolak Zio tegas.


Bibir Renata mengerucut sempurna.


padahal jelas-jelas Zio hanya sibuk mainan ponselnya. Andai lelaki di sampingnya ini menjadi "Mas Akmal" nama peran Zio di film terbarunya, menjadi suaminya. Mungkin hidup Renata nyaris sempurna. Apalagi Ia tau Zio sangat menyayangi Mamanya, tidak pernah keluar malam, dan tak pernah sedikitpun menyentuh Alkohol. Namanya juga tak pernah masuk dalam akun gosip di instagram. Menurutnya Zio adalah lelaki idaman masa kini.


"Zi, kita ke pantai saja, emm yang ada penginapannya, Ambil kamar sehari semalam saja soalnya besok siang kita sudah syuting lagi"


Zio melirik Renata tajam, sebelum wanita itu menjelaskan ucapannya lagi ia menyela.


"Kan kita bisa relax Zi, melihat pemandangan melihat sunset ber...."


"Kita belum menikah, jadi tak usah menyewa kamar ya?" Sela Zio.


Renata terdiam, baru setengah jam bersama Zio membuatnya darah tinggi. Lelaki itu benar-benar tak bisa menghargai wanita.


Baru kali ini juga ia dicampakkan oleh lelaki. Tidakkah Zio sedikit menginginkan menghabiskan waktu yang lebih lama dengannya? Padahal sungguh Ia tak ada niatan sama sekali meminta Zio untuk menyewa satu kamar.


"Terserah Kamu Zi" ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, semangatnya sudah hilang Mungkin ia tak ada apa-apanya bagi Zio.


"Bagaimana sih menaklukkan hatimu yang keras itu Zi" Batin Renata lirih menatap Zio dari samping.


Zio menghentikan mobilnya, di ambilnya Kotak bekal yang sudah di siapkan Arum tadi. Sepertinya Kue kering tadi bisa mengembalikan moodnya.


"Tumben bawa bekal Zi?" Renata menatap heran. Ia sudah syuting bersama Zio beberapa minggu dan baru kali ini ia melihat Zio membawa bekal. Lelaki se dingin itu membawa bekal, berisi kue kering lagi ! tumben sekali !


"Cobain aja, rasanya enak kok"


"Iya enak Zi" Kata Renata setelah mengambil sepotong kue bikinan Arum.


Zio tersenyum, memang benar gadis itu mempunyai bakat cooking yang amazing. mungkin kapan-kapan ia harus memberi ide kepada Arum agar membuat usaha katering, agar ia tak kembali lagi ke tempat kotor itu.


"Oh iya, sedang apa gadis itu, apa dia sudah makan' batin Zio.


"Zi, kita ke pantai aja yaa sebentar aja kok, nanti malam kita bisa balik lagi" Seru Renata dengan nada cerianya.


"Siap Re" Balas Zio tak kalah semangat. Sepertinya moodnya kembali membaik.


Renata tersenyum, semoga hari ini menjadi awal yang baik bagi dirinya dan Zio. Ia tak ingin menyia-nyiakan moment berharga seperti ini. Ia berdoa semoga ia bisa menempati hati Zio setelah lelaki itu patah hati selama bertahun-tahun dengan wanita yang hampir saja menjadi istrinya namun gagal.


"Ayo Re, semangat kamu pasti bisa, Hati yang keras pasti akan luluh juga jika terus menerus diberi perhatian " serunya dalam hati menyemangati dirinya sendiri.