A Miracle

A Miracle
Bab 4



Shit !! Sialan... Hari ini sungguh hari yang melelahkan. Syuting dari pagi sampai dini hari, belum lagi lelaki itu datang untuk mengancam. Yaa... Antoni, suami muda Mama yang selalu bikin gara-gara.


Dengan entengnya Ia datang ke lokasi syuting membuat keonaran, hingga para kru dan artis-artis yang lain geleng-geleng tak habis pikir melihat kelakuan Ayah sambungku itu.


Yaah... Usia Antoni dan aku cuman terpaut sepuluh tahun saja. Entah apa yang membuat Mama tergila-gila padanya. Aku curiga ia memakai jalan pintas untuk mendekati mama. Bahkan seluruh restoran milik mama kini menjadi hak miliknya. Ia berdalih akan menjalankan semuanya dengan baik, namun aku tau ia selalu pergi ke lokalisasi dan club malam setiap malam. Tak lupa dengan segala kemewahan yang ia dapat dari harta Mama, serta wanita-wanita cantik yang selalu ada di sisinya jika Mama tak ada. Ya Tuhan... tolong jauhkan Mama dari rayuan dan pengaruh lelaki sialan itu.


"Kenapa Kau datang kesini Antoni? Belum cukupkah kau mengganggu Mamaku?"


Aku beringsut dari kursi, menghampiri Antoni yang beringas.


"Ada yang salah Zio? Aku Ayahmu ! Aku butuh uang Lima belas juta sekarang" Pintanya memandangku penuh amarah dan kebencian.


Selalu saja, masalahnya uang dan uang. Apa penghasilan Duapuluh restoran Mama yang tersebar di kota-kota terkenal itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.


"Uangku sudah habis, Bukankah seminggu yang lalu kau meminta Chek sebesar sepuluh juta?" Aku menatapnya tajam.


"Hahaha... Habis? Kau artis terkenal Zio. Popularitasmu tinggi, nggak mungkin uangmu habis secept itu "


Kurang ajar ! Benar kan apa kataku? Antoni hanyalah budak harta yang sengaja menikah dengan Mama cuman untuk menghabiskan harta Mama dan anaknya saja.


Aku sengaja tak akan memberikan uang kali ini. Masa bodoh.


"Oh... Kau tak akan memberikan Aku uang? Lihat saja... Mamamu pasti akan menderita!"


Ia menatapku tajam, kakinya menendang kakiku sebelah, kalau saja aku membalasnya, pasti lokasi syuting akan semakin kacau. Ku biarkan Ia berlaku seenaknya padaku disini. Tapi untuk di rumahku Ia tak akan bisa seenaknya seperti ini.


"Antoni !" Aku memanggilnya, kali ini aku akan mengalah, aku ingat Mamaku yang sangat ku cintai itu. Tak ku biarkan tangan busuknya mencelakai Mama.


"Mas, tolong beri ia chek sebesar Sepuluh juta" titahku pada Mas Jaka, managerku.


"Siap Mas Zio"


Setelah menerima uang dari Mas Jaka, Ia pergi tanpa berterima kasih kepadaku. Dasar lelaki tak tau di untung ! Andai saja bukan karena Mama, aku tak akan sudi memberi hasil keringatku padanya.


"Oke Mas Zio,,, sekarang Waktunya Take" Kata Mas Jaka memberi aba-aba padaku.


*******************


"Zio" panggil Renata, lawan mainku dalam film terbaruku.


"Iya Ren? Ada apa?"


"Zi, makan malam yuk? Laper banget nih" Ia merengek.


Dasar perempuan, bisanya cuman manja dan merengek, apa nggak bisa gitu makan sendirian atau memesan makanan online mungkin.


"Yahh Zio, selalu aja seperti itu. Bukankah Kita harus terlihat selalu mesra di media? Untuk kebutuhan Pamor Film Zi" Renata berkilah.


"Iya Aku tau, tapi untuk kali ini Aku nggak bisa Re, aku capek banget mau pulang"


"Ya udahlah, besok-besok pasti bisa kan Zi" Ia merajuk lagi, mendekatiku dan mengecup pipiku pelan. Dasar..


"Oke.. aku pergi dulu ya"


Ku lihat Renata masih mematung, aku akui Ia memang cantik, seksi dan terkenal pastinya. Hampir teman-teman sejawatku selalu membicarakan kecantikan dan keseksiannya. Bahkan mereka kadang berebut untuk mendapatkan perhatian Gadis cantik yang Lima tahun lebih muda daripada Aku. Aku geli saja, masih ada wanita yang lebih baik dari Renata. Yang tidak sibuk dengan karirnya. Apa jadinya kalau nanti aku menikah dengan rekan sesama artis, kita sama-sama sibuk, hingga tak ada waktu bercengkrama berdua dengan anak atau keluarga. Bagaimanakah nasib keluargaku?


Drrtt... Drtt....


"Halo.. iya ada apa Ma?"


"Zi,,, tolong ya, bilang sama Ayahmu kalau Mama ada meeting sama klayen dari Surabaya. Hapenya nggak aktif Zi, Mama sekarang sudah ada bandara, takut nanti Ayahmu khawatir"


Mama, wanita cantik yang selalu menyayangkiku. Sampai kapan Ia akan bertahan dengan kebengisan Antoni?


"Siap Ma"


"Kamu sudah pulang Nak? Jangan lupa makan ya! Ingat jangan merokok, jangan minum-minuman keras" pesannya.


Mama tak pernah lupa lupa mengingatkanku akan dua hal itu. Ia trauma kalau aku terkena penyakit paru-paru seperti Papa, karena Papa seorang perokok aktif.


"Siap Ma, ya udah Zio berangkat dulu ya"


Ku putar bolik mobilku menuju rumah Mama, rumah masa kecilku yang penuh kehangatan. Tapi semuanya telah sirna sejak ada seorang wanita datang ke rumah Kami dengan seorang bayi perempuan, Ia berkata itu adalah Anak kandung papa, darah daging papa sendiri.


Mendengar hal tersebut Mama langsung syok dan penyakit jantungnya Kambuh. Ia pingsan dan papa sendiri terlibat pembicaraan sengit dengan perempuan itu. Aku yang mengintipnya dari tembok hanya bisa menangis, melihat kejadian yang menimpa keluargaku. Sejak saat itu, papa semakin jarang pulang dan Mama semakin sakit-sakitan. Hanya Aku, bocah umur Sepuluh tahun yang selalu ada di sampingnya, serta Bik Sari, asisten kesayangan Mama.


Sehak itu duniaku runtuh, aku tumbuh menjadi anak dari keluarga broken home. Semua ku jalani asal aku bisa terhibur, hingga pada usia Dua puluh tahun temanku mengenalkanku pada manajemen artis yang menaungiku hingga sekarang. Sementara papa akhirnya harus kalah dengan penyakitnya, ia meninggal menderita penyakit paru-paru kronis akibat kebiasaan merokoknya yang tak bisa di cegah. Sedang wanita simpanan papa, aku tak tau dimanakah Ia sekarang.


"Halo...Hay" mataku menelusuri seluruh ruangan di rumah Mama, sepi.. kemanakah semua? Apa semua Asisten Mama sudah tidur?


Ku amati satu persatu ruangan di rumah yang di huni Mama, Antoni dan Asisten-asistennya. Rumah ini sangat megah. Sayang tak ada kehangatan dan kenyamanan lagi jika aku menginjakkan kaki disana.


Tunggu, kamar Mama terbuka, apa Antoni sedang keluar? Aku berjalan pelan, memastikan keberadaan lelaki brengsek itu.


Aku terkejut, ada seorang wanita yang masih sangat muda disana. Ia terlihat ketakutan ketika Antoni mendorongnya ke tembok, aku pastikan itu adalah perempuan sewaan Antoni. Ohh dasar lelaki iblis. Bisa-bisanya ia mengkhianati Mamaku.


Tapi kenapa perempuan itu tak menikmati sentuhan Antoni? Ia malah merintih, menggigit bibirnya pelan kala Antoni berusaha ******* bibirnya. Jiwa lelakiku terpanggil, Aku memukul Antoni dari belakang, sedang perempuan itu sudah tak sadarkan diri. Ku habisi Antoni agar Ia tak membawa perempuan ******* itu di rumah Mama. Ia sudah Tak sadarkan diri sekarang dengan dua kali pukulan mautku. Dan perempuan itu? Ia terlelap sangat anggun, di samping Antoni. Wajahnya polos dan aku tau ia pasti masih sangat muda. Ah.. aku tak tega, ku bawa saja perempuan ini ke rumahku sebentar, kalau Ia sudah sadar Akan ku kembalikan Ia ke tempat asalnya.


Dasar Antoni, selalu saja cari masalah kapanpun dan dimanapun, tunggu saja pembalasanku.