
sarapan dulu habis itu bersih-bersih rumah" ucap Arum bersemangat.
Pagi ini ia memasak Tumis kangkung, ikan asin, ayam goreng, tak lupa sambal tomat sebagai pelengkapnya.
Hatinya sangat bahagia karena pagi ini Tuan Zio akan kembali. Jadi ia sengaja memasak masakan ini untuk tuannya.
Setelah melahap seporsi tumis kangkung dan ayam goreng, ia lalu menyapu, mengepel dan menyetrika semua baju tuannya, lalu menatanya di lemari, sekalian juga membersihkan dan merapikan kamar lelaki itu.
"Ya ampun, berantakan sekali" gumamnya.
Matanya melihat sekeliling kamar Zio yang sudah mirip dengan kapal pecah. Barang berserakan dimana-mana, baju, kemeja, tak tertata dengan rapi, dibiarkan menggantung di depan lemari.
Dengan cekatan Arum merapikannya satu persatu. Tangannya berhenti bergerak ketika melihat sebuah foto keluarga yang di gantung Zio di dinding, bersanding dengan Foto Zio waktu kecil sampai saat ini.
"Loh, ini bukannya wanita cantik yang kemaren datang itu... Jadi dia Kakaknya Tuan Zio,, pantes cantik banget" Seru Arum lalu memperhatikan foto yang lain.
Di sebelahnya ada foto Zio, dengan seorang wanita dan lelaki. Tampaknya saat itu mereka sedang pergi ke kebun binatang.
"Ini Mama Tuan Zio, tapi laki-laki ini bukan Tuan Antoni,, jadi benar dugaanku, kalau Tuan Antoni hanyalah Ayah sambung Tuan Zio"
"Aduh daripada sibuk memperhatikan foto-foto ini, lebih baik aku lanjut aja, masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan" lanjutnya lalu kembali merapikan perabotan di dalam kamar Zio.
Arum meraba pelipisnya yang sedikit nyeri kepalanya pening dan pandangannya kabur, ia mencoba untuk berdiri sendiri keluar dari kamar Zio, darah segar mengucur dari hidung nya, ia tetap berusaha untuk kuat dan keluar dari kamar Zio namun sia-sia, tubuh ringkihnya itu akhirnya terjatuh tepat di atas ranjang Zio.
************
"Ini sudah seminggu Madam, tapi kenapa nggak ada kabar dari Arum ya?" Tanya Siska khawatir. Ia takut arum kenapa-kenapa, siska tau adik seniornya itu adalah wanita yang polos dan kuper, apalagi ia sekarang menghilang tanpa kabar, jadilah ia semakin parno.
"Ponselnya juga nggak Aktif Sis, kita harus kemana lagi mencarinya?" Sahut Madam, ia juga khawatir dengan keadaan arum, apalagi arum adalah anak kesayangannya. Tanpa arum keadaan lokalisasi sangat kacau, tak ada yang bisa memasak seenak arum. Membersihkan ruangan demi ruangan tanpa mengeluh sedikitpun. Ia jadi menyesal menyerahkan arum pada Tuan Antoni.
Matanya kini menerawang kejadian Satu tahun yang lalu saat pertama kali bertemu dengan Arum.
Flashback on
Siang ini panas banget, mana orderan sepi, ya udah lah daripada boring sendirian, mending aku shopping aja, lumayan kemaren ada trip dari salah satu pelanggan.
"Madam Mau kemana? Shopping nih?" Tanya Vera salah satu anakku yang suka kepo.
"Jangan lupa oleh-olehnya madam" Teriak Nessa, anakku juga.
Ya ya ya... Sebagai pengganti peran ibu bagi mereka, aku selalu memanjakan anak-anakku itu dengan berbagai kemewahan. Lagian juga sumber penghasilanku dari mereka juga, jadi buat apa aku pelit pada mereka? Makan selalu terjamin, pakaian bagus-bagus, liburan jangan tanya, setiap bulan kami selalu menyempatkan trip ke berbagai destinasi baik dalam kota atau luar kota. Bagiku kebahagiaan anak-anakku merupakan kepuasan tersendiri untukku.
Namun banyak juga teman seperjuangan yang menyinggung sikapku pada anak-anak.
"Ya Ampun Hellen, itu ngapain di manjain segala macem, mereka nanti keenakan, kalau mereka sudah sukses, sudah ketemu tamu yang tajir lalu baik hati, akhirnya menikah.. nah, kamu sama siapa? Coba dong pakai akal hellen, kasih aturan sedikit gitu pada mereka, atau nggak usah di manjain kayak gitu"
Begitulah salah satu ocehan dari Jenny, teman seperjuanganku. Aku fikir-fikir memang ada benarnya. Tapi di sisi lain aku juga menyayangi mereka dengan tulus, lah kalau aku tulus, pasti mereka akan berbalik tulus karena aku tau kebaikan pasti di balas dengan kebaikan pula. Lagian aku juga tak punya keluarga lagi, emak bapakku di kampung sudah meninggal sementara keluargaku sudah jijik sama aku, bagi mereka aku adalah sampah masyarakat yang harus di buang jauh-jauh. Aku adalah aib bagi keluarga dan tak pantas hidup di tengah tengah mereka. Padahal aku ingat sejak lulus SMP aku yang berjuang mati-matian agar semua adikku bisa bersekolah, mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi daripada aku. Emak seorang single parent sedang bapak sudah meninggal ketika aku baru saja lulus SMP. Maka ku putuskan untuk merantau membantu beban emak membesarkan ke Tiga adikku. Sejak saat itu aku merantau ke Ibukota berharap mendapatkan pekerjaan yang layak, namun ada seorang lelaki yang saat itu menjebakku, mengiming iming agar ikut dengannya lalu di beri pekerjaan yang bagus. Aku yang saat itu masih lugu menurut saja, berharap segera mendapatkan uang yang banyak lalu di kirimkan kepada emak. Namun naas, ternyata aku di jebak, aku di jadikan pengemis, penadah dan alat untuk membuat orang orang di sekitar kasian padaku, lalu mereka pasti akan memberiku uang, bahkan ada yang sampai memberi berkali-kali lipat. Hasil dari pekerjaanku itu ku berikan semuanya pada Bang Udin, lelaki yang memberiku tempat tinggal, makan dan uang jajan. Lambat laun aku semakin tumbuh dewasa, melihat tubuhku semakin bongsor Akhirnya ia tergoda juga padaku, segala cara ia lakukan agar aku menurut melayani budak nafsunya. Aku tak mau, lebih baik aku mati saja daripada harus melayani Bang Udin.
Berhari-hari Aku sembunyi dari kejaran Bang Udin, hingga akhirnya aku bertemu Mami Sena, wanita yang menampungku saat itu. Tapi sayangnya Pekerjaan Mami Sena hampir sama seperti Bang Udin, bedanya Ia yang mencarikan para lelaki itu perempuan-perempuan muda sepertiku untuk melayani nafsu tamu yang datang. Aku menangis sejadi-jadinya saat itu. Kenapa nasibku jelek sekali, kenapa aku harus bekerja seperti ini, apa tidak ada lagi pekerjaan yang lebih baik dari ini? Namun semuanya berubah seiring berjalannya waktu. Emak terus mendesakku agar aku segera mengirim uang, sementara di sana adik-adikku sering menahan lapar karena tak ada bahan untuk di masak. Apa boleh buat, akhirnya segala cara aku lakukan untuk mereka. Siang malam aku bekerja, mencari pundi-pundi meski tak seberapa, hingga suatu hari aku bertemu dengan pengusaha muda yang tampan, saat itu ia sedang kacau karena masalah pekerjaan, ia lari ke tempatku dan mencari ketenangan. Aku hibur dia, kami semakin dekat bagai dua orang yang tak mungkin di pisahkan, Aku mencintainya, dia juga sangat mencintaiku hingga suatu malam itu terjadi. Kami kelewatan dan akhirnya aku mengandung buah cinta kami berdua.
Aku senang bukan main, mungkin ini jalan hidupku untuk bahagia. Bertemu dengan pengusaha muda yang tampan, mencintai dan amat menyayangiku, dan sekaran aku mengandung anaknya. Mungkin sebentar lagi aku akan di nikahi olehnya.
"Mas Aku hamil" Seruku saat itu di televon umum.
"Yang benar saja Kamu ? Kamu jangan bohong dong"
"Ya ampun, kalau mas nggak percaya datang aja ya besok"
" Ya sudah len, mas mau kerja dulu, kamu jangan datang ke kantor mas dulu, nanti mas yang akan menemui kamu seperti biasa oke sayang"
"Iyaa mas sayang"
Aku menutup televon dan memasukkan koin dengan senyuman di wajahku. Hari-hariku sebentar lagi akan indah, aku tak perlu bersusah payah lagi kerja siang dan malam.
Setelah berbulan bulan. Kandunganku akhirnya membesar. Mas memboyongku ke rumah kontrakan yang cukup besar. Ia datang dua hari sekali namun tak pernah menginap. Aku santai saja saat itu mungkin kerjaannya lagi menumpuk, wajar saja ia adalah seorang direktur.
"Mas kapan jenguk Ibuku di kampung?" Tanyaku di suatu sore saat ia baru saja datang.
"Kalau bayi di kandunganmu itu sudah lahir sayang, mas nanti akan memintamu kepada ibu, untuk menjadi istri mas,.menemani mas sampai akhir hayat, menua bersama ya" jawabnya manis sekali.
Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu terbang di atas kepalaku bersorak atas kebahagiaanku yang terkira. Aku yakin, meski aku sekarang belum nikah dengan mas pasti nanti masku yang ganteng itu akan menikahiku.
Hingga semua angan-anganku menjadi kelabu.