A Miracle

A Miracle
Bab 13



Flashback on


Hingga semua angan-anganku menjadi kelabu.


"Mas, kenapa kamu nggak tinggal disini saja sih? Sebentar lagi kan kita resmi menjadi suami istri, apa salahnya kalau setiap hari mas menemai Aku? Cecerku padanya yang saat itu asyik menonton televisi.


"Hellen, nanti ada waktunya sendiri ya"


"Setiap kali Hellen bilang apapun, selalu jawabannya seperti itu. Apa jangan-jangan Hellen ini wanita simpanan mas ya?"


"Jaga mulut kamu, kenapa kamu berkata seperti itu! Kurang apa mas kepada kamu he ? Kurang apa?" Bentaknya.


Tubuhku langsung tersungkur ke kursi, perutku yang sudah sangat besar itu kram, sepertinya bayiku tau keadaan ibu dan ayahnya yang saat ini lagi bertengkar hebat.


"Kenapa mas nggak pernah ngebolehin aku main ke kantor mas? Kenapa mas?" Tanyaku sambil terus menahan tangannya agar tak pergi.


"Bukan urusan kamu, ya sudah aku pergi dulu ada urusan penting besok aku kesini lagi" Katanya kasar sambil melepas tanganku.


Aku menangis menjatuhkan tubuhku ke kasur melihat kepergiannya. Kenapa ia setega ini kepadaku? Mana masku yang selalu ramah dan baik dulu? Kenapa ia sekarang berubah menjadi kasar dan arogan.


"Aaahhhhhh....", Teriakku frustasi


"Aku harus cari tau ya harus" batinku dalam hati lalu berdiri berlari mencari taksi untuk mencari kebenaran.


Namun kali ini semesta tak berpihak padaku, bayiku ingin keluar, menemani ibunya yang saat ini kacau balau. Akhirnya pak supir putar balik, mengantarku ke Rumah sakit bersalin. Dan benar saja tak lama kemudian putri cantikku itu lahir ke dunia. Menemani ibunya di setiap suka dan duka.


Aku sangat bersyukur ia lahir dengan sehat tanpa ada cacat sedikitpun. Dengan dibantu orang yang iba kepadaku akhirnya aku bisa membayar semua biaya rumah sakit dan bisa kembali pulang ke kontarakan.


Berhari-hari sampai berbulan-bulan aku menunggu kedatangan Masku. Persediaan juga sudah hampir habis. Aku bingung harus melakukan apa, akhirnya aku nekat menemui masku ke kantornya, ternyata setelah sampai di sana, masku nggak ada. Aku lalu meminta akamat rumahnya dan nekat pergi kesana membawa putri cantikku yang masih ada di gendonganku.


Aku datang memberanikan diri menemui mas untuk memberitahukan bahwa putrinya sudah lahir. Namun bukan pelukan hangat yang ku dapatkan, bukan pula pujian tulus yang di berikan mas kepadaku dulu sebelum hamil putriku. Ternyata mas adalah lelaki yang sudah beristri, aku menangis sejadi-jadinya di depan pintu rumah mas. Memohon kepada mas agar segera menikahiku dan membiayai putri kami. Tapi kulihat istrinya langsung marah besar dan memukul aku dengan tas mahalnya. Mengata-ngatai aku dengan sumpah serapah menjijikkan. Aku ingin mas mengerti bahwa bayi cantik ini memerlukan figur seorang ibu dan ayah di sampingnya. Namun sayangnya semuanya telah menjadi bubur. Istri mas tak mau menerima kehadiranku sedikitpun meski aku bersedia menjadi madunya. Detik itupun Aku pergi dari rumah mas, meninggalkan segala kenangan antara aku dan dia, mencoba melupakan kisah cinta kasih sayang dan belaian mesra darinya, ku putuskan untuk meninggalkan ibukota lalu kembali ke kampung tempat dimana aku mendapatkan kasih sayang utuh dari seorang ibu dan keluargaku.


******************


"Len, kamu mau kemana?" Cegah mas ketika melihatku mengemasi semua barang-barangku ke tas.


"Aku mau ke kampung aja mas, kembali ke asalku, membesarkan putriku disana" balasku melepas cengkramannya.


"Len, mas mohon mengertilah.. mas sangat mencintai kamu,, mas mencintai anak kita tolong jangan pergi ya" rayunya menatap ke dua mataku.


"Aku nggak bisa mas, aku juga nggak mau di cap sebagai, perebut lelaki orang, urus saja istri dan anakmu, aku pergi saja selama-lamanya dari sini mas " Ucapku, berusaha kuat meski hati tetap meronta-ronta ingin di kasihani oleh orang yang sangat ku sayang ini.


"Aku cuman mau mau hidup bahagia dan tenang bersama dia dan keluargaku di kampung, tak apa tidak mewah, tapi aku bahagia" lanjutku.


Mas nggak bisa menahanku lagi. Akhirnya ia bersedia mengantarku ke kampung, tapi ia tak mau bertemu ibu, takut ibuku marah kepadanya. Aku mengerti, lalu ku suruh ia pergi meninggalkanku dan putri kecilku.


Mas berlutut di kakiku, meminta maaf atas semua kesalahannya selama ini. Ia tak tega melihat aku dan anakku hidup di desa terpencil seperti ini. Ia lalu memberiku uang aku takjub, ku tolak pemberian uang sebanyak itu, namun mas menolak. Ia memohon kepadaku agar uang itu di pakai untuk semua keperluanku dan anakku kelak.


"Jaga dirimu baik-baik.. maafkan Aku Lena" ucapnya di sela-sela perpisahan Kami.


Aku tak kuasa melihat sosoknya yang mulai menjauh dariku. Ingin rasanya menahannya pergi dan menemaniku tinggal disini, hidup berdua dengan putriku di desa yang damai dan tentram namun ingatanku kembali pada wanita cantik yang memukulku tempo hari, mengataiku sebagai wanita malam dan wanita murahan. Ingin rasanya membalas namun aku tak kuasa. Aku lalu berlari ke rumah sambil menggendong putri kecilku yang masih tak menahu tentang masalah ke dua orang tuanya.


"Kamu nggak salah nak, yang salah Ibu sama Ayahmu saja. Semoga nanti hidupmu lebih beruntung daripada Ibu" Batinku seraya menciumi pipinya yang gembil.


Aku hempaskan segala tangis dan kenangan antara aku dan ayahnya. Aku harus kuat, aku harus berjuang mati-matian demi putriku ini, buah cintaku.


"Assalamu'alaikum Ibu" ketukku.


"Ini siapa Len?"


Aku terdiam, bingung hendak menjawab apa. Air mataku menganak, dan aku tak kuasa untuk menahannya. Ku peluk ibu dan ku curahkan segala keluh kesahku kepadanya karna tak mungkin aku merahasiakan ini semua kepada wanita yang sudah melahirkan dan membesarkanku.


"Ini Anak Lena Bu" Balasku sambil tetap memeluknya.


"Apa?" Ia terkejut dan melepas pelukanku.


"Iya ini anak Lena bu?"


"Kamu kerja apa selama ini Len? Kamu kerja apa?" Ibu berteriak, rahangnya keras dan matanya melotot.


Aku menunduk, menenangkan diri tak siap jika harus ibu menyesal mendengar semua ceritaku.


Aku mengawali ceritaku dengan jujur, tak ada satupun yang ku tutupin. Sampai pertemuanku dengan mas aku ceritakan juga dengan sedetail-detailnya hingga akhirnya putriku, buah cinta kami lahir ke dunia.


Mendengar semua ceritaku Ibu menangis, tatapannya kosong. Sambil ku tenangkan aku terus meyakinkan ibu bahwa aku akan taubat dan tak akan mengulangi kesalahanku lagi.


"Maaf Len, ibu nggak bisa jadi orang tua yang baik untukmu. Maafkan ibu Len" ia memelukku lalu kami berdua menumpahkan segala kesedihan bersama. Tampak almarhum bapak melihat kami berdua dengan iba lalu akhirnya menghilang.


Aku bersimpuh memohon maaf pada ibu, tak bisa menjadi gadis yang terhormat, anak yang berbakti dan menjaga dirinya.


"Lena minta maaf bu" kataku terus menciumi tangannya.


Hingga akhirnya ibu kalap, tiba-tiba ia menyentakku, mengambil paksa putriku dari gendonganku.


Aku terkejut, hendak meraihnya kembali, namun ibu mendorongku dan aku tersungkur di tanah.


"Ibu kenapa Bu? Ibu kenapa dorong Lena?"


"Kamu pergi saja Ke Ibukota, biar anakmu ini sama ibu. Apa kata tetangga nanti kalau tau kau hamil tanpa seorang suami?"


"Tapi putriku bersama ibu, sama saja kan nanti pasti di tanya ia anak siapa"


"Gampang, ibu akan membuat cerita seakan-akan ini adalah anak asuhan ibu"


"Ibu tega sama Lena Bu"


"Ini demi kebaikan kita, demi keluarga kita Lena"


Aku meringis, menahan semua luka yang ada di hati. Hatiku menganga membuat luka yang terpatri abadi disana, baru saja kepergian mas yang memilukan buatku, sekarang aku harus meninggalkan keluarga dan putriku. Kenapa hidup ini sungguh tak adil.


"Lena tak punya siapa-siapa disana bu, lena ingin taubat, lena ingin disini bersama ibu, nemenin ibu"


"Ibu minta maaf Len, ibu harap kamu mengerti perasaan ibu"


Aku menunuduk lesu, air mata tak berhenti keluar dari mataku, bibirku kelu, kepalaku pening. Ingin rasanya tidur sebentar untuk mereda kesedihan dan kelelahan ini.


"Ya sudah Bu, lena pergi, lena mohon jaga anak Lena baik-baik,, lena mohon" pintaku bersujud di hadapannya.


"Tenang saja nak, ibu akan menjaga cucu ibu dengan baik, adik-adikmu juga pasti akan sayang kepadanya. Kamu hati-hati di ibukota nak, ibu doakan kamu nanti mendapat pengganti yang lebih baik dari Ayah anak ini" Kata ibu menatap anakku yang sedang terlelap tidur.


"Lena pergi Bu" pamitku mencium tangannya, tak kuasa air mataku tak berhenti mengalir ketika melihat Ibu masuk ke dalam rumah, menggondong putriku. Aku meluruhkan tubuhku di atas tanah memeluk gelang putriku pemberian Mas, akan kusimpan ini sebagai kenang-kenangan darinya. Aku berdoa semoga kelak putriku akan menjadi Wanita yang lebih berharga dari Aku, hidupnya bahagia, beruntung, serta di sayang oleh orang-orang di sekitarnya.


Ibu, putriku dan tanah kelahiranku, aku pergi, semoga semua baik-baik saja. Entah kapan aku akan kembali kesini hanya Tuhan yang tau jawabnya.