A Miracle

A Miracle
Bab 6



Aku melengos, mengambil Kartu ATM dari tangan putih mulus itu. Dengan langkah gontai aku memberanikan diri membeli ponsel sendirian. Semoga saja aku tidak tertipu dan juga tidak salah pilih. Ya Tuhan, Tuan Zio memang baik, tapi sangat ketus dan dingin. semoga saja lama kelamaan hatinya melunak.


Sampailah Aku di gerai merk seluler terkenal yang lagi booming, aku tak neko-neko, segera ku pilih ponsel warna putih idamanku. Meski tak mahal dan tak terlalu canggih seperti tipe di atasnya, yang penting ada alat komunikasi untuk menghubungi keluargaku di kampung. Aku tak ingin mereka cemas dan khawatir karena aku hilang kabar beberapa hari ini.


"Ini tuan" Aku mengetuk-ngetuk kaca mobilnya pelan, memintanya untuk membuka pintu mobil untukku. Kelihatannya ia tertidur, buktinya tak ada respon sama sekali dari dalam mobil. Kasihan sekali tuan, mungkin ia sangat lelah. Karena tak mau mengganggu tidurnya, aku bersandar saja di depan pintu mobil, ku tumpangkan kepalaku pada kedua lututku, lumayan untuk mengurangi pegal-pegal setelah seharian kerja.


"Ya Ampun, Hai... Kenapa Kau disini" Tuan berdiri di depanku, kedua tangannya menyilang di dada.


"Ahh maaf tuan, tadi saya mengetuk kaca mobil tuan, tapi kayaknya tuan ketiduran, jadi saya tak mau mengganggu tuan"


"Sialnyaa.. Aku ketiduran... dasar Arum.. bisa aja tidur dimana saja" Sesalku dalam hati.


"Baik, sekarang ayo cepat masuk ke dalam mobil. Ini sudah jam Sembilan, saya sudah telat Dua jam gara-gara Kamu" Ia meninggalkanku yang masih terdiam di luar lalu masuk ke dalam mobil.


"Ayo masuk, kenapa masih ngelamun??"


"Arum, ini masih hari pertama. Bagaimana untuk hari-harimu selanjutnya nanti? Tuan memang baik, tapi ia sangat kasar, dingin dan cuek. Apa dia tidak bisa sedikit lembut ya. Jangan menyerah Arum, tenang saja. Ini masih permulaan, mungkin selanjutnya Tuan akan Luluh, baik dan perhatian seperti majikan kepada pembantunya. Kamu harus bersyukur Arum bisa di selamatkan oleh Tuan Zio dari budak nafsu tuan Antoni yang beringas, kamu harus banyak-banyak bersyukur" Kata Arum dalam hati menenangkan dan menyemangati dirinya sendiri.


"Kamu beli ponsel apa?" Tuan melirikku dari spion mobil.


"Ini tuan" Kataku sambil menyodorkan dashbook ponsel terbaruku, ponsel dari tuanku yang baik dan tampan.


"Jadi cuman beli ini? ini murah banget, bukankah ATM ku bisa untuk membeli yang lebih canggih dari ini?" Tuan terkejut melihat pilihanku.


"Iya Tuan, saya tau tapi ini ponsel bagus kok, yang penting saya bisa menghubungi Ibu, Bapak Saya di kampung" Ucapku pelan, takut menyinggung hati Tuan.


Tuan terdiam, ia melirikku sekali lagi.


"Kamu Saya antar pulang, tutup semua pintu rumah, tenang saja, saya punya kunci cadangan lagi, mungkin nanti saya akan pulang tengah malam"


"Baik Tuan"


"Sebenarnya Tuan ini kerja apa sih? Kenapa selalu pulang larut malam, rumahnya juga kelihatan jarang di tempati, anehnya ia juga tak punya asisten rumah tangga. Aduh makin penasaran aku sama tuan ganteng tapi misterius ini" batin Arum dalam hati.


"ehh, sudah sampai ini" Kata Zio. Tapi tidak ada jawaban dari Arum.


Arum tertidur dengan memeluk dashbook ponsel barunya. Zio terenyuh melihatnyabyang sedang kelelahan hingga tertidur sampai dua kali. Ia memandangi wajah itu sebentar sambil mengagumi kecantikan arum. tapi kemudian ia sadar bahwa wanita itu berasal dari tempat yang tidak benar, jadi mungkin tubuh indah dan wajah cantiknya sudah terjamah oleh banyak lelaki.


Zio turun dan menggendong tubuh mungil Arum, lalu menidurkannya di kamar. Diambilnya Dashbok ponsel baru arum. mengamati dan memperbaikinya agar besok sudah bisa di pakai.


Ia heran kenapa arum tak membeli ponsel model terbaru padahal kartu yang ia beri tadi kartu unlimited. ia jadi ragu, baru kali ini ia menemukan cewek yang tidak matrealistis seperti arum padahal selama ini wanita itu bekerja keras bahkan sampai rela menjual dirinya sendiri.


**************"


Nafas Arum terengah-engah, ia segera bangun dan mengambil botol minum dari kulkas lalu menuangkannya ke gelas, nafasnya masih memburu ia mimpi ibu dan bapaknya di usir dari rumah, sementara Vita adiknya di bawa kabur oleh germo yang sangat jahat.


"Ya Allah, selamatkan keluargaku" kata Arum di sela-sela tangisnya. Ia sadar belum menghubungi keluarganya selama Tiga hari. Mungkin ia harus menelvon Vita sekarang, mungkin Adiknya itu belum tidur karena sibuk belajar untuk Ujian nasional Tiga minggu lagi.


"Hallo Assalamu'alaikum.. ini siapa?" Kata suara cewek di seberang.


Arum lupa, ini nomer barunya. Pantas saja Vita nggak tau.


"Vit, ini Mbak Arum, gimana kabar kamu, bapak sama ibu?" Tanya Arum pelan. Ia celingukan memastikan Tuannya sudah pulang atau belum.


"Mbak Arum, Ya Allah.. Vita kangen mbak, ibuk juga kemaren tanya terus kenapa Mbak Arum nggak telvon, mbak Arum baik-baik saja kan?"


"Tenang aja Vit, mbak baik-baik aja kok, maaf ya.. kemaren Hp mbak hilang" Kataku bohong. Ya.. aku sengaja bohong, karena aku tak mau membuat Ibu dan bapakku tau tentang profesi dan keadaanku yang sebenarnya di Kota.


"Ya sudah mbak, Alhamdulillah... Oh ya mbak,,, Kemaren rentenir itu datang lagi, Ibu sampai pingsan mbak karena di bentak-bentak"


"Ya Allah"


Arum membungkam mulutnya karena sangat kaget, ia tak percaya si rentenir itu terus mengganggu keluarganya, padahal Arum tau ibu selalu tepat waktu membayar hutang. Terakhir kali juga ia sudah mentransfer uang jutaan rupiah kepada keluarganya di kampung.


Pukul 00.30 Zio baru sampai rumah, di bukanya pintu rumah pelan, khawatir arum terbangun.


Namun ia kaget, melihat arum duduk di meja makan sambil menangis. Matanya menerawang jauh, sementara tangannya tak henti mengetuk meja pelan, tampaknya gadis itu sedang sedih.


Sedang apakah dia? Televon dengan siapa? kenapa sampai menangis seperti itu.


Akhirnya Zio mendekat, sengaja diam-diam menguping pembicaraan Gadis manis itu dengan seseorang yang ada dalam televon.


"Vit, tabungan mbak sudah menipis, tapi tenang saja, mbak arum punya kerjaan baru disini. Nanti uangnya mbak arum transfer ya"


Zio termenung, hampir saja besok pagi ia akan mengembalikan gadis itu ke tempat lokalisasi. Tapi niatnya batal seketika mendengar bahwa gadis itu butuh uang. Zio berfikir apa pekerjaan gadis itu selama ini tak cukup? Hingga tabungannya menipis. Mungkin ia tergolong wanita malam yang suka belanja dan berfoya-foya, namun dilihat dari tingkah dan sifatnya, apalagi waktu kemaren ia membelikan ponsel baru, tapi gadis itu lebih memilih ponsel keluaran lama yang tidak mahal Zio semakin yakin bahwa gadis itu masih sangat polos dan lugu.


"Ya sudah Vit, Kamu tidur dulu ya.. sudah malam, besok kan kamu harus sekolah, salam sama Ibu, bapak, dan Rizky. Kamu sehat-sehat ya.. doain mbak arum disini, mbak arum juga mau tidur"


Arum memejamkan matanya lalu mendengus pelan. Ia butuh banyak uang. Hutang-hutang ibunya masih banyak. Ya tuhan, kemanakah lagi ia mencari uang sebanyak itu.


Ia memijit dahinya, akhir-akhir ini masalahnya semakin banyak, namun ia yakin pasti ada penyelesaian di setiap masalah. Ia menaruh kembali botol minum ke dalam lemari es, lalu kembali ke kamar.