A Miracle

A Miracle
Bab 11



Kaki Arum melangkah menuju supermarket, ia lupa kalau stok detergen di rumah sudah habis, sedangkan siang ini ia harus mencuci bajunya yang tinggal satu stel. Di genggamnya uang Seratus ribu sisa membeli bahan-bahan kue tadi pagi. Ia melihat lihat uang itu, membolak balik seraya berfikir bajunya tinggal satu stel lagi. Ia lupa tidak membeli baju lagi. Mau bilang ke Tuan Zio juga tidak mungkin. Mau beli sendiri juga uang pas-pasan.


"Ya sudah beli detergen aja dulu, semoga ada sisanya nanti aku beli daster aja, seperti pakaian madam kalau nggak ada tamu di lokalisasi" batinnya.


Benar saja, Uangnya kini tinggal Lima puluh ribu rupiah, senyumnya merekah, ia berlari kecil mencari toko baju yang murah untuk membeli daster. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Arum mendapati toko kecil menjual aneka pakaian mulai dari pakaian anak-anak, remaja sampai dewasa. Ia memilih daster yang paling murah. Murah tapi tetap nyaman di pakai.


Wajahnya muram seketik melihat harga di tag daster yang ia pegang sekarang.


"Harganya tujuh puluh ribu, sedangkan uangku tinggal Lima puluh ribu" Katanya dalam hati, tetap memegang daster hijau muda pilihannya.


"Oh iya, aku tawar saja, semoga aja deal" Ucap Arum semangat lalu menuju si ibu penjaga toko.


"Bu, ini Lima puluh ribu aja ya gimana bu?" Tawarnya.


"Mbak, ini daster bagus, bermerk, kainnya juga adem nyaman di pake, dimana-mana juga segitu harganya, malah ada yang menjual lebih mahal daripada ini" Jawab Ibu itu.


"Uang saya tinggal Lima puluh ribu Bu, saya nggak punya uang lagi" Balasnya lesu berharap Ibu itu mengerti akan kesusahannya.


"Mbak, pakai uang saya aja dulu Dua puluh ribu, nihh" kata seorang perempuan mengagetkan Arum. Ia menyodorkan satu lembar uang dua puluh ribuan kepada Arum.


"Nggak usah Mbak, lebih baik saya nggak beli aja" tolak arum.


"Kamu yang kerja di rumah Kak Zio bukan?" Tanya wanita itu memperhatikan penampilan Arum dari atas ke bawah.


Arum mendengus, bagaimana wanita ini tau kalau ia kerja di rumah Tuan Zio.


"Jangan khawatir mbak, saya kerja di depan rumah kak Zio, rumah bercat Cream itu.. nah itu rumah majikan saya, saya juga tinggal disana" Ucap wanita itu seperti mengerti apa yang di pikirkan oleh arum.


Ia lalu mengambil uang itu dan membayar daster kepada ibu si penjaga toko. Lumayan, ia kini mempunyai daster baru meski harus berhutang kepada orang lain. Tapi ia janji akan membayarnya karena bagaimanapun juga hutang harus di bayar berapapun nominalnya.


"Mbak, saya bayar nanti ya kalau sampai rumah" Ucap arum.


"Udah nggak papa Mbak, simpan saja uangnya untuk keperluan lain, lagipula itu tadi sisa belanja dari tuan saya" balasnya tulus.


Arum bersyukur, akhirnya ia mempunyai teman baru disini. Teman yang baik dan mau membantunya meski awalnya masih belum saling mengenal.


"Mbak cantik ini namanya siapa? Masih baru ya di rumah Kak Zio?" Tanya wanita itu.


"Aku arum mbak, nama mbak siapa? Iya aku baru di rumah tuan zio, kalau mbak sendiri? Sudah lama disini?" Tanya Arum balik.


"Aku Nana, salam kenal ya rum semoga kita bisa berteman baik hehe... Kalau aku sudah lama di sini rum, hampir empat tahun semenjak lulus SMA"


"Iyaa Mbak Nana,, salam kenal juga.. ohya boleh minta nomer WA?" Tanya Arum.


Nana lalu mengambil ponsel arum dan menyimpan nomer ponselnya disana.


"Enak ya Rum, jadi asisten Kak Zio? Udah ganteng, baik, aktor terkenal lagi" Ucap Nana bersemangat.


"Hah? Aktor? Jadi Tuan Zio itu artis Mbak?" Tanya Arum tak percaya.


"Ya ampun Rum, siapa sih yangg nggak kenal sama Kezio pranata? Aktor ganteng yang lagi viral sekarang, filmnya, sinetronnya banyak, iklan juga apalagi, kok bisa kamu nggak tau sih?" Cerocos Nana.


Bagaiamana ia bisa mnegerti, nonton TV saja ia ogah, main sosmed juga sekedar kalau lagi pengen saja. Arum memang tipikal gadis muda yang kolot, kurang pergaulan juga.


"Aku jarang nonton TV mbak, main sosmed juga sekedarnya, di lok..." Katanya hampir keceplosan.


"Di lokasi kampungku dulu juga masih butuh penerangan mbak, listrik sulit di akses disana" ucapnya mengelak.


"Iya sih Rum, tapi aku beneran kaget loh kalau kamu nggak kenal sama Kak zio, ngomong-ngomong dulu ketemu dimana sama Kak Zio?" Tanya Nana lagi.


******, harus jawab apa dia.


"Ya waktu itu aku merantau mbak dari kampung, nggak sengaja ketemu Tuan Zio yang memang lagi membutuhkan Asisten" jawabnya, ia sengaja mengarang cerita agar Nana tak mengetahui darimana asalnya.


"Oh.. jadi Tuan Zio itu seorang artis, pantas saja tak pernah ada di rumah. Bodoh banget Aku ya kok nggak tau Artis terkenal kayak Tuan Zio.. arum arum... Kamu emang kolot" Arum merutuki dirinya sendiri.


Karena penasaran, sampai rumah ia lalu sibuk mencari informasi di sosial media tentang tuannya.


"Ahh.. siapa tadi namanya.. Kezio pranata iyaa . Benar Kezio" Ucapnya sambil mengetik nama Kezio pranata di kolom pencarian.


"Wah... Iya beneran, jadi orang yang selama ini tinggal seatap dengannya adalah Aktor terkenal"


Ia membaca satu demi satu berita tentang Zio, entah iti biodata, kisah cinta, prestasi, serta judul sinetron atau layar lebar yang pernah ia bintangi.


"Nama : Kezio Pranata putra


Tempat tanggal lahir : London, 10 Juni 1990.


Usia : 30 Tahun."


"Ya ampun, jadi Usia Tuan saat ini sudah Tiga puluh tahun, awet muda banget sih Tuan" kata arum tak percaya.


Arum baru ingin memasukkan ponselnya ke saku, tapi gerakannya terhenti ketika matanya menangkap seorang wanita mengetuk pintu rumah. Ia gelagapan, bingung harus berbuat apa, ia takut kalau itu adalah salah satu orang yang di larang tuannya itu untuk masuk ke rumah.


Ia segera memencet sebuah nomer, memastikan siapa yang datang ke rumah ini.


Sebelum itu arum memotret dari jauh sosok wanita yang menurutnya sangat cantik, dengan kecantikan di luar batas.


"Halo, Tuan Zio, tuan ini arum.. Coba tuan lihat foto yang saya kirim ya.." cerocos arum.


"Ada apa ? Kenapa nada kamu panik begitu?" Jawab suara disana.


"Tuan ada cewek yang datang kesini, coba tuan lihat foto yang saya kirim barusan"


Zio mengunduh foto yang dikirim Arum, ia kaget melihat siapa yang siang ini datang ke rumahnya.


"Kak Sevi, ngapain ke rumah" ucapnya frustasi.


Kemudian ia mematikan televon dari arum, beralih memencet nomer lain.


"Halo, kak Sevi." Sapa Zio.


"Iya ada apa Zi, oh ya.. Kamu di luar? Kakak ada di depan rumah kamu nih sekarang"


"Aku lagi di pantai Kak, ada syuting, nanti malam baru pulang" ucapnya terpaksa bohong.


"Oh gitu, ya udah nanti Kakak balik lagi Ya.. bye"


Zio mematikan hpnya. Berdoa dalam hati semoga tak terjadi apa-apa. Jangan sampai keluarganya tau tentang keberadaan arum. Ia heran, tumben Kakak satu-satunya itu datang ke rumahnya padahal ia selalu sibuk kerja dan seminar dimana-mana. Yaah.. kakaknya itu seorang motivator ternama yang cukup terkenal.


Renata kembali menarik tangan Zio, mengajak lelaki itu selfie, Zio tak keberatan. Di pasangnya tampang manyun melihat ke arah Renata, sementara Renata menatap layar hp.


"Zi, aku uplod ke Instagram ya"


"Terserah" jawab Zio acuh.


"Oke Zi"


Tak butuh waktu lama, setelah mengedit ala kadarnya Ia lalu mengupload foto selfinya bersama Zio.


"Enjoying With ❤️"


Tulisnya dalam sebuah Foto. Ia tersenyum tak peduli nanti akan ada akun gosip yang mengcapture fotonya kembali. Yang terpenting Hari ini ia sangat bahagia menghabiskan waktu bersama lelaki yang sangat ia cintai. Kezio pranata putra.