ZEVANNO ALDEBARAN

ZEVANNO ALDEBARAN
[08 - Sick]



"Hal yang paling buruk didalam hidup lo apa?"


"Ketika gue sadar, gue gabisa meluk mama sama papa secara nyata lagi."


Zevanno kembali mengingat percakapan terakhirnya semalam bersama Elara, sebelum gadis itu meninggalkan danau terlebih dahulu.


Zevanno masih ingat semalam dirinya memandang Elara dengan pandangan penuh arti, entah apa, tapi Zevanno sendiri tidak paham kenapa bisa memandang Elara sedalam itu.


Zevanno tidak munafik, gadis yang duduk disebelahnya semalam itu cantik, sangat cantik malahan. Tidak heran jika banyak yang menginginkan gadis itu sebagai pasangan, kata sahabat Zevanno sih begitu.


Zevanno menggelengkan kepalanya, tidak, Zevanno sudah terlalu banyak memikirkan gadis itu.


Bruk...


"Anjing" Umpat Kelvan ketika melihat Daniel terjatuh dari dua meja yang disatukan dan dijadikan tempat tidur oleh Daniel.


"Bangsat, pinggang gue sakit."


"Lo ngapa bisa jatuh ngab?" Tanya Harry sambil tertawa.


For your information, Daniel adalah orang yang paling doyan tidur diantara mereka semua. Cowok dengan rambut coklat tua itu bisa tidur dimanapun dengan kondisi apapun.


"Gue mimpi dikejar cewe."


"Hilih bacot lo." Komentar Devon dengan sisa tawanya.


Daniel tidak heran jika tidak ada yang membantunya berdiri, cowok itu dengan berpegangan pada meja berusaha berdiri sendiri.


"Niel, jangan disengajain kaya gitu napa, lemah banget jadi cowo, jatuh gitu dong lebay bet bangunnya." Kata Vernon malas ketika melihat Daniel drama, biasanya cowok itu kuat tidak mungkin lemah hanya karena terjatuh dari meja.


"Anjing lo, gue sakit beneran ya, kayaknya tulang pinggang gue kegeser deh, bisa gagal pinggang gue nih."


"Eh monyed, mana ada gagal pinggang, anjing lo."


"Jadi dia monyet apa anjing Ry?" Tanya Devon sambil tertawa ketika menanggapi ucapan Harry.


"Babi." Celetuk Vernon diakhiri tawa mereka semua.


"SETAN KALIAN." Umpat Daniel kesal.


Sedangkan Zevanno menatap mereka semua dengan pandangan datar, lucunya dimana coba? Ck, rendahan sekali selera humor mereka.


"Hari ini free class, Miss Gia Cuma ngasi tugas buat dikumpul minggu depan, nanti tugasnya gue share di group." Kata Geno, ketua kelas, ralat babu kelas yang dipaksa oleh teman-temannya untuk menjadi ketua kelas.


"Free class nih, kantin kuy." Celetuk Samuel.


"Rooftop lah, kantin gaenak nyebat."


"Banyak ciwi-ciwi bohay kalo dikantin ngab, lo ga napsu cewe ya?"


Plakkkk....


Kelvan memegang pipi kanannya yang digeplak oleh Harry dengan keras dan sengaja.


"Anjing."


"Gue demen cewe ya, gue masih normal asu."


"Ya abisnya lo gue ajakin kekantin gamau."


"Gausah bacot kalian berdua. Zev, lo mau kemana?" Tanya Devon yang melihat Zevanno meninggalkan kelas lebih dulu.


"Kantin." Jawab Zevanno singkat.


"Lah, biasanya juga ogah kekantin." Ujar Harry.


"Bacot bener lo. Cepet bangun anjing." Kata Samuel dan menarik dasi Harry untuk berdiri.


...__________...


Zevanno melirik keseluruhan kantin dengan teliti, sudah ada beberapa siswa yang ada dikantin yang mungkin juga freeclass.


Zevanno duduk ditempat biasanya cowok itu duduk, dan juga disusul oleh teman-temannya yang lain.


Zevanno terus memperhatikan pintu masuk kantin, entah apa yang cowok itu cari, tapi sampai kantin ramaipun, alias jam istirahat sudah berlangsung, Zevanno belum menemukan apa yang dicarinya.


Zevanno tidak menghiraukan pertanyaan Samuel, cowok itu terus menatap pintu kantin dengan mengerutkan alisnya. Tidak lama kemudian cowok itu berdiri dan mendekati satu meja yang baru saja dihuni oleh beberapa orang.


"Elara mana?"


Pertanyaan itu meluncur dengan santai dari bibir tebal Zevanno, tapi masih terdengar nada dingin dan tegas cowok itu.


"Hah? O-oh, Elara dikelas kak, dia lagi gaenak badan, udah minum obat juga, tapi gak mau pulang." Jawab salah satu gadis yang duduk disana, gadis dengan ikatan pony tail yang mereka ketahui bernama Loren, sahabat Elara.


Tanpa mengucapkan terimakasih, Zevanno meninggalkan area kantin dan juga meninggalkan penghuni kantin yang dibuat membeku dengan prilaku Zevanno kali ini. Bukan hanya para siswa, tapi Pak Eko dan Bu Sumi penjaga stand kantin juga ikut mengkaget.


Memang hanya Zevanno yang bisa mempengaruhi pikiran orang-orang dengan mudah untuk dirinya sendiri.


...___________...


Elara menghela nafasnya berkali-kali, gadis dengan wajah cantik yang sedikit pucat dan juga hidung yang tersumbat itu berusaha menguatkan dirinya setidaknya untuk 3 jam kedepan.


Demi apapun, Elara paling benci disaat hidungnya tersumbat, rasanya Elara lebih memilih demam tinggi tapi pernafasannya tetap lancar.


Tapi mana ada sakit boleh milih.


"El, pulang aja ya? gue takut lo makin parah, nanti gue bilangin ke guru piket." Saran Arden, ketua kelasnya.


"It's okay." Ujar Elara pendek dengan malas.


Arden hanya menghela nafas kemudian berjalan kemejanya dan mengambil sesuatu dari bawah kolong meja.


"Ini bekel gue, ada sandwich, ayam sama keju, tadi pagi mama gue buatin, ini buat lo aja ya?"


"Gue udah makan."


"Iya tapi lo lagi sakit, perlu makan lagi." Ujar Arden.


Elara berusaha menghela nafas, tidak ingin berdebat lebih lama, akhirnya gadis itu mengangguk.


"Ini mau gue suapin?"


"Taruh aja disitu, please jangan ganggu gue Arden." Ucap Elara sedikit tegas, emang cowok dibaikkin dikit langsung ngelunjak.


Dasar gak tau diri!


Arden mengangguk kaku, kemudian cowok itu menjauh dari meja Elara. Sepertinya mental Arden sedikit terganggu ketika mendengar pernyataan tegas Elara.


Elara berusaha menghela nafas untuk kesekian kalinya, entah kenapa jam seperti lambat sekali jalannya. Tadi Elara sebenarnya sudah merasakan suhu badannya yang sedikit naik ketika berangkat kesekolah, tapi Elara tetap berfikir tidak akan separah ekarang.


Sahabatnya juga tadi cukup panik ketika mengetahui suhu badan Elara yang cukup tinggi, tapi Elara meyakinkan mereka bahwa dia baik-baik saja. Dan juga sebenarnya mereka tidak mau meninggalkan Elara sendiri dikelas, tapi lagi-lagi Elara menolak untuk ditemani dengan alasan ingin istirahat sendiri.


Brak...


Elara yang memejamkan matanya disandaran kursi tidak berkutik ketika merasakan seseorang menaruh sesuatu diatas mejanya.


"Arden jangan-" Elara menghentikan kalimatnya ketika melihat bukan Ardan yang didepannya. Gadis itu mengerutkan alisnya bingung.


"Lo ngapain disini?" Tanya Elara melihat cowok jangkung yang berdiri didepan mejanya dengan sinis.


"Minum." Ujar cowok itu mendekatkan segelas teh hangat tawar dan juga bubur ayam.


"Gue gabutuh." Jawab Elara kembali menutup matanya.


Cowok jangkung didepannya mengulurkan tangannya mengecek suhu Elara. Tidak lama cowok itu mengerutkan alisnya.


"Lo demam."


"Gue tau."


"Pulang, istirahat dirumah."


"Siapa lo ngatur gue?" Tanya Elara acuh, ayolah dirinya sangat malas berdebat.


"Zevannooooo." Kaget Elara ketika Zevanno, Cowok itu dengan seenaknya menggendong Elara dengan gaya bridal style.


"Lo apa-apaan, turunin gue anjing."


"Cewek nakal kayak lo perlu dihukum."