
Derap langkah kaki delapan laki-laki menggema disepanjang koridor sekolah.
Laki-laki yang berjalan paling depan memberhentikan langkah kakinya ketika mata tajamnya melihat mangsa yang sedari tadi dicarinya berjalan sendiri kearahnya.
Laki-laki itu maju dua langkah dari sahabatnya yang lain. Melipat tangannya didada dengan angkuh dan pandangan datar dan lurus menatap satu objek. Seorang gadis yang kemarin, dengan beraninya mencari gara-gara dengannya.
Sayangnya, gadis yang ditatapnya tidak menyadari bahwa dirinya sedang ditatap tajam oleh laki-laki yang paling berpengaruh disekolahnya.
Gadis itu sibuk melihat ponselnya tanpa memperdulikan sekitar, hingga tiba-tiba,
Kaki jenjang gadis itu berjalan mendekat kearah laki-laki didepan sana. Hingga akhirnya,
Bruk.....
"Aduh.." Ucap gadis itu memegangi dahinya yang terbentur dengan cukup keras.
Laki-laki itu memandangi gadis yang menabrak dada bidangnya dengan mandangan horizontal.
"Sakit gila, lo ngapain diem ditengah jalan?!" Marah gadis itu menatap nyalang laki-laki didepannya.
"Remember? Lo yang kemarin di club kan?" Ucap laki-laki itu dingin, mengabaikan ucapan gadis itu.
Deg..
"H—ah? Apaan?! Bukan!" Jawab gadis itu tegas.
"Yeah, you kiss me in this lip." Jawab laki-laki itu tetap pada pendiriannya.
Gadis itu terbelalak kaget, sedangkan laki-laki didepannya mengeluarkan smirk tipisnya.
"So, welcome to the hell!" Ujarnya lagi setelah lama hening.
Gadis itu masih diam dan menatap laki-laki didepannya dengan pandangan malas.
"Oh, you're Zevanno?" Ujar gadis akhirnya, sembari menetralkan wajahnya.
Zevanno menaikkan sebelah alisnya ketika baru kali ini seorang adik kelas berani langsung memanggil namanya tanpa ada kata 'kak' didepannya.
Cukup menarik.
"And you're Elara, Elara Athanasia Deverson, huh?"
Gadis didepannya memutar bola matanya malas.
Catat, ini juga pertama kalinya Zevanno diberlakukan seperti itu.
"What do you want? I don't have time."
"Who the hell think you're?" Balas Zevanno tajam.
Apa gadis didepannya tidak segan sedikitpun dengannya? Biasanya gadis-gadis lain akan gugup karena terpesona dengannya, tapi lihat, gadis ini bahkan menatapnya tanpa minat.
Gadis itu melipat kedua tangannya didepan dada sebelum mengangkat tangan kanannya dan memainkan kukunya didepan dagu.
"Dan ya, jangan berharap gue jadi cewek kurang belaian yang genit, centil, kalau didepan lo. No, you are wrong, because I'm not!"
Zevanno mengeluarkan senyum tipisnya.
"Little devil, lo berani ngomong gitu sama gue? You don't know me, girl!"
Elara mengerutkan keningnya, "I know, karena temen-temen gue yang ngomongin lo," Ujar Elara jujur. "Bukan gue." Tekannya lagi
Elara melirik sekitarnya, banyak ternyata yang memperhatikan interaksinya sejak tadi.
"Udah? Lo bisa minggir kan? Gak usah halangin jalan gue lagi."
"Belum, lo punya urusan sama gue Elara."
"Apalagi?"
"You make a mistake!"
"Gue gak ngerasa ngebuat kesalahan sama lo."
"But, you did."
"Kapan?"
"Club, you kiss me."
"No, I'm not kiss you."
"Yes,"
"No,"
"I don't care if you said yes or no, apologize now."
"No, itu cuma dare, bukan gue yang mau." Tolak Elara
"But, you do that." Zevanno memandang mata Elara dengan tajam. "Lo pikir lo siapa berani jadiin gue bahan dare?"
"I don't care all about you."
"Apologize!"
"No."
"Oke, tetap disini sampai seribu tahun mendatang."
"Fine, sorry."