
"Hari ini pasangan konglomerat Titan Handyan Davariz dan Wendy Aclandez dinyatakan resmi bercerai." Kelvan mengulangi berita yang dibacanya siang tadi didepan Zevanno dan juga para sahabatnya, yang saat ini duduk didepannya.
"Zev-"
"Diem." Peringat Zevanno sebelum sahabatnya menguarkan kata-kata yang pastinya akan membuatnya pusing.
Keheningan dan juga rasa canggung mulai terjadi disalah satu meja VVIP di club tersebut.
"Eh, ini Loren lagi di club juga sama sahabatnya. Ada Elara." Ujar Devon memecah keheningan.
Zevanno yang memang sudah tahu Elara disana hanya diam saja dan melirik gadis itu yang sesekali tampak menanggapi candaan sahabatnya.
Zevanno tersenyum kecil ketika tadi mengatakan pertanyaan yang Zevanno sendiri tidak tahu kenapa bisa berkata seperti itu. Aneh sekali. Tapi tadi sahabat Elara yang menelfon Elara membuat Elara mengusir Zevanno karena sahabat dari cewek itu sudah diparkiran. Sehingga Zevanno tidak bisa mendengar ocehan gadis itu.
Dan Zevanno dengan bodohnya menuruti ucapan cewek itu, untuk pergi dari mejanya.
"Lo ngapain senyum-senyum sendiri?" Tanya Kelvan yang membuat semua mata sahabatnya melihat Zevanno aneh.
"Lo gak gila kan?" Tanya Samuel.
"Berisik." Ujar Zevanno untuk membuah sahabatnya diam.
"Mana-mana Elara?" Tanya Lucas semangat lagi dan langsung mengambil ponsel Devon yang menampilkan story instagram milik Loren.
"Busett, ini disini gak sih?" Kata Kelvan yang Ikut melihat layar ponsel Devon.
"Lo gak niat nyamperin Elara?" Tanya Harry sambil melihat Zevanno yang meminum gelas kelima.
"Ck, ngapain." Jawabnya malas.
"Yeh lo beneran gak suka sama dia?" Tanya Lucas.
"Kapan gue bilang gue suka sama dia?"
"Yakan bisa aja Zev, tapi lo gak nyadar." Opini Devon.
"Cih, gak penting." Jawab Zevanno cuek.
"Halah susah ngomong sama kulkas." Celoteh Devon.
"Kalo gue jadi Zevanno sih gue pepet terus Elara, udah cakep, pinter, belom pernah pacaran." Kata Samuel sambil melepuhkan asap rokoknya keudara.
"Bacot lo, cewek lo banyak gitu." Ejek Vernon.
"Lah, kan wajib, prinsip gue tuh, koleksi, seleksi, baru eliminasi."
"Buset, gak sekalian distribusi?" Sergah Kelvan menggelengkan kepalanya.
"Zev, lo baik-baik aja?" Tanya Harry yang saat itu duduk disamping Zevanno.
"Kenapa? Emang gue keliatan sedih?" Tanya Zevanno nyolot.
"Ya gak gitu anying."
"Im fine guys." Yakinnya.
_________
"Bentar gue mau angkat telpon dulu." Kata Elara kemudian mencari tempat yang hening. Karena mengingat ini adalah club malam, tentu saja suara musik terdengar sangat keras.
Cewek itu berjalan kearah toilet dimana tempat itu sepi dan cukup hening.
"Kenapa?" Tanya Elara.
"Lo dimana?" Tanya suara diseberang sana.
"Club."
"Lo gak ijin sama gue?"
"Ck, kan udah kemarin."
"Pulang sekarang."
"Ih gak seru lo."
"Pulang El."
"Iyaa."
Elara langsung mematikan ponselnya sepihak.
"Gila-gila ya manusia sekarang." Gumamnya sambil menata rambutnya dicermin depan toilet.
Elara bergegas keluar dari kamar mandi, tapi didepan pintu Elara malah bertabrakan dengan cowok yang seperti kebingungan, Elara tidak ingin ambil pusing dengan mengurusi urusan yang bukan urusannya.
"Sorry." Ucapnya singkat dan hendak berjalan melewati cowok aneh itu.
"What?" Tanya Elara tanpa minat.
Sampai saja cowok ini aneh-aneh kepadanya Elara tidak akan segan-segan untuk mematahkan salah satu atau kedua kaki cowok itu.
“Sepupu gue ada di toilet, dia minta tolong dibawain tasnya, lo bisa ngasi? Gue gaenak masuk toilet cewek.”
“Nanti bisa kan?” Tanya Elara heran.
Cowok didepannya terlihat bingung dan langsung saja cowok itu membuka tas sepupunya dan memperlihatkan barang yang sangat familiar bagi Elara.
“Ini, gue bingung jelasin.” Ujarnya sambil melihat kekanan dan kekiri.
“Oh, oke gue kasiin.” Elara langsung meraih tas yang diberikan oleh cowok itu.
“Thanks ya, by the way gue Arlan.”
“Its oke.” Jawab Elara singkat tanpa ada niatan memberitahukan namanya.
...________...
“Lo kemana aja El?” Tanya Loren ketika Elara sampai dimeja mereka.
“Kayaknya gue harus balik, kakak gue nelpon gitu nyuruh balik.” Ujar Elara seraya memasukkan barang-barangnya kedalam tas kecilnya.
“Loh tumben banget El.”
"Gak tau nih kakak gue, yaudah gue duluan ya, have fun!"
Elara dengan cepat meninggalkan sahabatnya dan melangkah kelantai satu menuju pintu keluar club.
Entah kenapa Elara merasa ada yang tidak beres. Tumbenan sekali kakaknya menyuruhnya pulang.
"Kemana?"
"Eh monyet." Kaget Elara ketika seseorang menepuk bahunya di parkiran.
"Gue ganteng gini lo bilang monyet."
"Cocok sih, muka lo emang kaya monyet. Lo ngapain sih ngikutin gue terus?!"
"Gini-gini juga pernah lo cium."
Elara memejamkan matanya kesal. "Sampe kapan lo mau bawa-bawa ciuman itu sialan?!" Marahnya kesal.
"Lo mau kemana?"
"Bukan urusan lo Vanno."
"Udah malem, lo gak takut diculik?"
"Gak."
Elara tetap melanjutkan langkah kakinya menuju mobilnya, cewek itu berhenti dipintu mobilnya dan menghadap cowok yang masih juga mengikutinya.
"Apa?! Sumpah ya, lo gak ada kerjaan lain?" Herannya.
"Gak."
"Lo kenapa sih?!" Kesal Elara.
"Gak kenapa, lo mau kemana? Pulang? Baru jam 9 kurang."
"Gue mau kemana juga urusan gue Vanno, berenti ikut campur deh."
"Gak."
"Gak, gak mulu lo, terserah deh gue mau balik, lo diem aja disana sampe besok." Celoteh Elara asal sembari membuka pintu mobilnya dan bersiap masuk untuk meninggalkan Zevanno.
Bukanya menghindar, Zevanno malah sengaja diam didepan mobil Elara sehingga cewek itu tidak bisa lewat.
"****, lo kenapa sih?" Tanya Elara dari kaca mobil yang terbuka.
"Pertanyaan gue belom lo jawab El."
"Demi setan, gue mau pulang, udah kan? Sekarang minggir, gue buru-buru."
"Bukan yang itu."
"Hah?" Tanya Elara bingung.
"Lo mau jadi pacar gue?"
"SUMPAH YA MINGGIR ATAU GUE LINDES SEKALIAN?!"