ZEVANNO ALDEBARAN

ZEVANNO ALDEBARAN
[16 - Hujan]



Elara memainkan ponselnya dengan malas. Orang yang ditunggunya belum juga datang. Elara sudah berkali-kali mengumpat dalam hatinya. Pertama kali Elara dibuat menunggu selama ini.


"Eh, maaf ya tadi macet."


Elara menatap sosok yang duduk didepannya.


"Loh, jadi lo Elara?"


"Hem." Dehem Elara singkat, karena sejujurnya Elara sudah sangat tidak mood untuk duduk disana.


"Gue gak mau basa-basi, gue gak tertarik sama perjodohan ini. Jadi mending lo bilang sama Papa lo buat berhentiin khayalan gilanya ini."


Elara mengatakan kalimat tersebut dengan sekali tarikan nafas dan juga intonasi yang tegas.


Cowok didepannya yang tadinya tersenyum lebar menjadi memasang wajah canggungnya.


"Oh iya, tenang, nanti gue bilang kok." Ujarnya canggung.


"Bagus kalo lo paham posisi gue." Jawab Elara acuh.


"Dunia sempit ya El. Kebetulan banget orangnya lo."


Elara mengernyitkan alisnya. "Denger ya. Lo jangan pernah naruh ekspetasi apapun tentang gue." Ujar Elara mengetahui isi pikiran cowok itu.


Cowok didepannya terdiam beberapa saat seperti speechless karena Elara dengan mudah menebak pikirannya.


"Tapi kayaknya gue suka sama lo."


Kan, Elara sudah menduga hal ini akan terjadi, cewek itu menghela nafas kesalnya.


"Berenti suka sama gue, karena gue gak suka sama lo." Tegas Elara.


"Kenapa? Lo bisa ngasi gue kesempatan kan, siapa tau seiring berjalannya waktu lo juga suka sama gue."


"Dan ngasi lo kesempatan itu sama aja dengan ngebuang-buang waktu gue." Jawab Elara cepat.


"Gue bisa bilang sama Papa kalo kita bisa pendekatan-"


"Denger ya, gue bukan cewek yang dengan mudah lo pacarin kayak mantan-mantan lo yang lain, jangan pikir gue gak tahu kehidupan lo diluar sana gimana. Bahkan orang tua lo gak tau kan? Jangan coba-coba buat jebak gue Arlan." Potong Elara tajam.


Arlan, cowok yang didepannya hanya diam dan semakin menatapnya dengan pandangan speechless.


Elara tidak habis pikir, yang benar saja, diantara luasnya dunia kenapa harus cowok aneh yang semalam ditemuinya di club yang harus terlibat perjodohan gila dengannya.


"Udah ya, gue gak punya banyak waktu buat ngomongin hal gak penting gini."


Setelah mengatakan hal itu, Elara langsung mengeluarkan uang berwarna merah sebanyak 5 lembar dari dompetnya dan menaruh ya diatas meja. Kemudian cewek itu pergi keluar dari cafe dan Arlan hanya melihatnya tanpa bisa melarang.


Elara berjalan dengan cepat kearah mobilnya, akhirnya satu masalahnya selesai.


"Oh, jadi karena ini lo gak mau dinner sama gue?"


Elara terlonjak kaget ketika seseorang berdiri disebelahnya dan mengagetkannya.


"Lo ngapain disini Vanno?" Jengah Elara.


Yang benar saja, belum 24 jam tapi mereka sudah bertemu lagi.


"Ini cafe punya Mama gue."


Elara mengangguk mengerti.


"Oh yaudah gue mau pulang." Ujarnya dan memajukan langkahnya dengan cepat.


Zevanno menarik tangan Elara dan membuat cewek itu menatapnya.


"Apalagi?!"


"Tadi siapa?"


"Bukan urusan lo."


"Jawab atau gue gak bakal lepasin."


"Ck, gak tau, baru kenal." Jawab Elara.


"Terus-"


"Udah lo jangan mau tau banyak soal urusan gue Vanno, mending lo pulang istirahat atau ngapain deh, biar ga kurang kerjaan gini, jelek banget gabut lo." Potong Elara cepat.


"Gue cuma mastiin."


Belum sempat melakukan perlawanan berlebih tiba-tiba saja hujan jatuh membasahi bumi, Elara yang melihatnya langsung panik dan lari keteras Cafe, dan tentu saja Zevanno juga mengikutinya.


"Lo sih, kan gue jadi basah." Marah Elara sambil melihat bajunya yang basah.


Malam itu Elara menggunakan dress putih sepanjang lutut, namun karena basah jadi dressnya menjadi sedikit transparan.


Zevanno yang peka langsung membuka jaket jeasnya kemudian dipasangkan dibahu Elara.


"Gue gak butuh-"


"Diem atau gue cium disini?"


Elara langsung menghembuskan nafas pasrah. Malas berdebat. Sebenarnya tidak apa-apa jika Elara merasa bajunya basah, hanya saja pandangan dari orang-orang yang sudah sejak tadi mengarah kemereka berdua membuat Elara malas.


"Lo udah makan malam?"


Elara menggeleng jujur, karena tadi Elara tertidur sampai sore dan langsung bangun untuk bertemu dengan Arlan dan ternyata cowok itu terlambat yang membuatnya malas berlama-lama dengan cowok itu.


"Mau makan sama gue gak?"


Elara melihat kesekeliling cafe.


"Disini?"


"Disini gak ada makanan berat El, ditempat lain lah."


"Gak, gue bisa makan sendiri." Tolak Elara cepat.


"Sekali aja El, nanggung udah bareng juga."


"Gak."


"Baru kali ini ada yang nolak gue seenaknya." Kesal Zevanno.


"Suka-suka gue." Balas Elara acuh.


Zevanno hanya menatap Elara dengan intens, benar-benar menarik.


"El lo masih disini?"


Elara dan Zevanno mengalihkan pandangannya kepada seseorang yang baru saja melemparkan pertanyaan kepada Elara.


Arlan, cowok itu tampaknya baru saja akan meninggalkan cafe.


"Iya." Balas Elara cuek.


"Oh, mau sekalian balik sama gue?"


"Gak." Jawabnya lagi.


Arlan hanya tersenyum canggung. "Oke gue duluan ya."


"Hm."


Zevanno melihat kedua orang yang berinteraksi itu sedikit membuatnya kesal, entah kenapa Zevanno tidak suka jika Elara berinteraksi dengan cowok lain.


Ya meski Elara menjawabnya singkat, tapi tetap saja.


"Arlan, anaknya Fero?" Tanya Zevanno.


"Hm." Jawab Elara malas.


"Jangan bilang lo dijodohin sama anaknya?" Tebak Zevanno.


"Hm."


"Ck, gaguna." Jawab Zevanno dingin.


Elara melihatnya dengan tatapan aneh.


"Lo gausah ikut campur urusan gue Vanno." Tegas Elara.


"Iya."


"Iya apa?"


"Iyain aja dulu."