ZEVANNO ALDEBARAN

ZEVANNO ALDEBARAN
[12 - Hot News]



"Hari ini pasangan konglomerat Titan Handyan Davariz dan Wendy Aclandez dinyatakan resmi bercerai." Elara mematikan siaran televisi didepannya dengan tenang setelah mendengar berita itu.


Matanya melirik kearah kanannya dimana terdapat seorang cowok yang menatapnya dengan datar.


"Kenapa? Udah gue bebasin keduanya kan." Katanya acuh.


"Gak apa, semangat." Jawab Elara tenang.


Cowok itu menatap Elara dengan malas. "Lo siapa sih?" Tanyanya kesal.


"Manusia."


"Gue serius."


"Kenapa?"


"Lo tau semua hidupan gue." Jawab cowok itu malas. "Sebelumnya belum pernah ada yang berhasil nembus area privasi keluarga gue." Lanjutnya lagi.


"Vanno, lo gak perlu tahu darimana gue tahu, gue sebenernya bakal diem aja kalaupun gue tau, tapi lo yang dateng ke gue terus." Celoteh Elara menatap Zevanno datar.


"Hem." Dehem Zevanno malas.


"Lo gak pulang?" Tanya Elara.


Zevanno menatap kamar Elara yang kebanyakan didominasi oleh warna putih.


"Nanti."


"Nanti-nanti mulu, mau nginep lo dirumah gue?!" Geram Elara.


"Boleh?"


"Ya gak lah setan, dasar cowok gila." Celoteh Elara.


Siapa yang tidak kaget, jika pulang sekolah tadi, tiba-tiba Elara mendapati sosok Zevanno berada didalam kamarnya, entah bagaiman cowok itu bisa masuk kekamarnya dengan damai.


"Gila lo bisa masuk kekamar gue."


"Lebih gila lo yang tau semua urusan keluarga gue."


Elara hanya diam, cewek itu tidak terlalu banyak berbicara, sedangkan Zevanno masih menatap Elara yang sedikitpun tidak menatapnya.


"Lo-"


"Ternyata lo banyak omong juga ya." Ujar Elara menyela perkataan Zevanno.


Zevanno menutup mulutnya diam, "Pergi dari sini kalo urusan lo udah selesai, gue juga punya hal lain yang harus gue lakuin." Usir Elara dingin.


"Kemana? Gue udah gapunya rumah." Jawabnya pasrah.


"Kan lo punya private apartment." Tebak Elara.


"Lo pikir gue nyaman?"


"Ya lo nyaman atau enggak itu urusan lo, intinya pergi dari rumah gue, sekarang."


"Gak ada yang pernah berani ngusir gue sebelumnya."


"Do i care? Keluar sekarang." Tekan Elara.


Zevanno menatap Elara dengan tajam. "Yeah, kapan-kapan gue main lagi." Ujarnya sambil melangkah keluar dari kamar Elara.


"Gak ada kapan-kapan Vanno, hari ini pertama dan terakhir lo masuk kesini." Teriaknya kesal tanpa menoleh kearah Zevanno, tapi Elara tahu cowok itu bisa mendengar suaranya.


Gila memang.


..._______...


Zevanno melangkahkan kakinya memasuki Rumah mewah yang selalu dilewatinya dengan biasa saja, dulunya, entah kenapa sekarang Zevanno merasa enggan hanya untuk sekedar melangkah kedalam rumah mewah itu.


"Ngapain lo disini?" Tanya Zevanno ketika melihat cewek yang duduk diruang tamunya.


Terlihat cewek itu seketika menjadi tegang, dan terdiam kaku.


"Nessa, masuk kamar kamu." Ujar seorang laki-laki yang datang dari tangga.


Zevanno memutar bola matanya malas.


"Hebat banget, belum 24 jam resmi bercerai udah bisa kayak gini, emang busuk, baunya pasti kecium." Ejek Zevanno tersenyum miris.


"Ngapain kamu pulang?" Tanya Papa Zevanno tenang.


Sifat Zevanno persis seperti dirinya dulu.


"Kenapa? Anda risih melihat wajah saya disini? Yang harusnya keluar dari sini itu anda, bajingan."


Papa Zevanno menggenggam erat gelas kopi yang dipegangnya. Matanya menyorot tajam bola mata yang sama persis seperti dirinya.


"Apa?! Kenapa diem?! Dulu aja bacotnya paling gede."


Zevanno berjalan melewati Papanya dengan santai, padahal jiwanya sudah ingin melenyabkan laki-laki itu dari permukaan bumi.


Zevanno dengan cepat membersihkan dirinya kemudian menggunakan pakaian santai, Zevanno mengecek ponselnya sebentar sebelum menjatuhkan dirinya diatas kasur.


Entah kenapa Zevanno pagi tadi tidak masuk sekolah, pikirannya melayang jauh, seperu anak kecil yang perlu tuntutan dari orang dewasa, pikiran Zevanno malah membawanya kerumah Elara, gadis yang akhir-akhir ini muncul dihidupnya.


Zevanno menggeser-geser badannya diatas kasur mahalnya, dan sepertinya Zevanno benar-benar lelah hingga tanpa sadar cowok itu tertidur lelap.


...________...


4 jam berlalu Zevanno tersadar dari tidurnya, matanya melirik jendela yang ternyata sudah gelap.


Zevanno langsung masuk kembali kekamar mandi, dirinya dengan cepat membersihkan tubuhnya, Zevanno memilih celana panjang dan atasan kaos dengan jaket kulit.


Cowok itu menyisir rambutnya dengan cepat dan mengambil barang-barang penting dikamarnya kemudian keluar dari rumah mewah itu tanpa kata.


Zevanno benar-benar tidak ingin menginjakkan kakinya lagi untuk masuk kedalam rumah itu.


Cowok itu masuk kedalam mobilnya, tangannya mendial nomor seseorang, tidak lama kemudian Zevanno mendapat balasan cepat.


"Club-club" Kata Zevanno singkat dan langsung memutus panggilan.


Dari kaca spion Zevanno melihat rumah terkutuk itu untuk terakhir kalinya sebelum benar-benar pergi menjauh dengan kecepatan mobil yang tinggi.


15 menit perjalanan, Zevanno berhenti di salah satu club ternama didaerah Ibu Kota.


Zevanno memarkirkan mobilnya dengan asal, kemudian memasuki club dengan acuh, matanya meneliti keadaan club yang sangat ramai malam itu, langkah kaki jenjangny langsung membawanya naik ke area VVIP.


Sampai dilantai VVIP yang tidak seramai dilantai bawah, Zevanno langsung salah fokus dengan cewek yang duduk sendiri tanpa siapapun yang menemani cewek itu.


Zevanno menyipitkan alisnya kesal. Kakinya refleks melangkah kearah cewek itu.


"Banyak kerjaan yang harus lo ambil itu disini?" Tanyanya langsung yang membuat cewek itu cukup kaget.


"Siapa lo?" Tanya cewek itu acuh.


"Ngapain lo disini?" Tanya Zevanno lagi.


"Ini tempat umum."


"Dih, gue juga tau, lo ngapain disini? Cium-cium cowok sembarangan lagi?" Tanya Zevanno asal.


Cewek itu menatap Zevanno dengan kesal.


"Bisa gak gausah bawa-bawa masalah itu terus?!" Tanyanya kesal.


"Suka-suka gue."


"Ya tapi gue gak suka Vanno."


"Kenapa? Lo yang cium gue pertama kali loh, harusnya lo bangga."


"Ck, banyak omong banget lo."


"Sama lo aja gue gini El."


"Halah bacot." Gumam cewek yang tidak lain adalah Elara.


"Heran gue diantara banyaknya tempat kenapa mesti ada lo sih." Lanjut Elara malas.


"Kita jodoh kali." Kata Zevanno yang dia sendiri tidak sadar dengan perkataannya.


"Idih, diem deh, opini lo jelek." Jawab Elara cepat.


"Ck, udah gausah basa-basi. Lo ngapain disini Ell?" Tanya Zevanno dengan nada serius.


"Main."


"Gue serius."


"Main sama temen-temen."


Zevanno melihat sekitar, "Mana temen-temen lo?"


"Belom dateng."


"Lo-"


"Banyak tanya banget sih lo?! Udah kaya wartawan sumpah." Kesal Elara.


"Ikut gue aja, jangan disini sendiri, ada temen-temen gue juga." Ajak Zevanno mengabaikan perkataan Zevanno.


"Gak, gue disini aja."


"Ck, batu banget lo."


"Sumpah kok lo jadi cerewet sih, setau gue lo gak kayak gini." Heran Elara.


"Sama lo doang gue gini El." Jawab Zevanno.


"Sumpah pengen muntah gue dengernya." Balas Elara dengan nada serius.


"Gue serius."


"Diem, geli gue." Jawab Elara acuh.


"El, lo mau gak jadi pacar gue?"