ZEVANNO ALDEBARAN

ZEVANNO ALDEBARAN
[02 -The Night]



"Oh **** man, bentar lagi lo bisa tepar." Ucap seorang laki-laki yang padahal matanya sendiri sudah memerah karena minum alkohol. Laki-laki dengan nama lengkap Devon Fabian Ardilangga itu menggeleng pelan melihat temannya yang selalu kalap jika melihat alkohol tanpa memperhatikan kesehatannya.


Sedangkan Kelvan, laki-laki yang diperingati oleh Devon itu masih saja minum gelas demi gelas champagne yang berada didepannya.


"Stress gue, ulangan sejarah tadi beneran kacau nilai gue." Ucap Kelvan melangsa.


"Berapa emang nilai lo?" Tanya Vernon penasaran.


"90" Lirihnya.


"Bangsat, itu lo beneran sedih karena nilai apa ngejek gue?!" Sahut Daniel ngegas.


"Sembarangan, gue aja gak tahu nilai ulangan lo berapa." Tukas Kelvan tidak terima.


"90 udah besar jancok, bandingin aja sama nilainya Daniel." Ucap Samuel


"Emang nilai lo berapa Niel?" Tanya Kelvan.


Daniel membuang mukanya acuh. "Empat pulu-"


"Bahahahahaha anjing. Lo sekolah ngapain aja ngab?" Heboh Harry.


"Yakan gue gak belajar-"


"Daniel kan tidur tiap jam sejarah." Sahut Lucas memotong pembicaraan Daniel.


"Lo ngapa jadi seneng gitu muka lo?" Tanya Daniel melihat Kelvan yang menjadi ceria seketika.


"Sebenernya gue kesel, Zevanno gak belajar aja nilainya sempurna, lah gue belajar seharian penuh nilai gue masi mentok 95 paling gede."


Zevanno, laki-laki itu melirik Kelvan sejenak ketika namanya disebut. "Takdir." Ucapnya singkat.


"Zevanno kan emang pinter anjir." Sahut Daniel.


"Dia mah tipe pacarable, badboy nya dapet, jeniusnya juga dapet." Celetuk Devon.


"Sayangnya sampe sekarang doi masih jomblo, bahahahaha." Ucap Kelvan, "Dalam hal itu gue menang sih." Sahutnya bangga.


"Besok aja putus, nanges." Ejek Samuel


"Eh, itu gengnya Elara bukan sih?" Tanya Devon.


"Mana-mana?" Sahut Harry antusias.


"Itu yang lurus sama kita ngab."


"Oh iya, gila, Elara dari belakang aja cakep." Komentar Daniel sambil menggelengkan kepalanya takjub.


"Idola kelas 11 tuh." Sahut Kelvan.


"Elara tuh sebenernya hampir mirib kayak Zevanno. Pinter tapi ada badnya." Kata Devon.


"Engga semua ngab, kalo Zevanno badnya udah kelas tinggi, kalo Elara sih cuma dia terlalu cuek sama sekitarnya, buktinya cowok-cowok yang deketin dia aja jarang ada yang di notice." Sahut Vernon.


"Bukan jarang, emang gaada yang dinotice." Ucap Kelvan.


"Elara pinter, sama kayak Zevanno, sama sama langganan juara 1 pararel, gue heran apa sih isi otaknya? Gak bosen apa belajar mulu?" Tanya Daniel.


"Zevanno gak belajar ngab dia pinter, kalo Elara sih gue liat emang suka baca gitu."


"Lo nguntit Elara?" Tanya Vernon ketika Devon sepertinya tahu lebih banyak tentang gadis itu.


"Bukan, kan sering keliatan gitu di instagram geng ceweknya."


"Oh iya, lo sepupuan kan sama Loren, sahabatnya Elara?"


"Gue mau sih jadi pacarnya Elara, cuma vibesnya dia bikin gue insecure duluan." Celetuk Samuel.


"Yee, emang Elara mau sama lo?!" Ketus Vernon.


"Kalo disekolah yang klop sama Elara tu cuma Zevanno." Ucap Devon.


"Udalah Zev, kalo punya pacar tu enak banget bener deh, mumpung ada satu primadona sekolah yang paling populer masih jomblo." Kata Harry melirik Zevanno yang masih diam tidak menghiraukan pembicaraan temannya.


Sepertinya mereka terlalu sibuk hingga tidak menyadari topik utama pembicaraan mereka sedang berjalan mendekat kearah mereka.


Zevanno membuang asap rokoknya keudara sebelum melihat kearah samping. Zevanno merasa ada yang seperti memperhatikannya, jangan salah, Zevanno bahkan peka dengan secuil gerakan atau suara, karena itu Zevanno lebih suka sendiri jika ingin mencari ketenangan. Agar tidak ada yang mengusiknya. Karena Zevanno benci diusik.


Zevanno melirik kebelakang, benar saja ada seorang gadis yang berdiri dua langkah dibelakangnya, gadis itu terlihat semakin mendekat, dan tanpa Zevanno duga,


Cup....


Zevanno merasa ujung bibirnya dikecup singkat.


Sialan?!


Namun, mata gadis didepannya sungguh membuat Zevanno seperti tenggelam didalamnya, kedipan mata singkat yang membuat Zevanno kembali kedunia nyata. Sialan ini terlalu mendadak dan terlalu singkat.


Zevanno melihat dengan tajam bagaimana gadis itu melepaskan tangannya dari tengkuknya dan kemudian berjalan menjauh tanpa mengatakan apapun.


Damn, Zevanno bahkan masih bisa merasakan wangi parfum yang digunakan gadis itu masih melekat ditubuhnya.


Zevanno menyorot gadis itu dengan tajam, hingga akhirnya gadis itu kembali keteman-temannya, Zevanno melihat ada sedikit kehebohan disana hingga gadis itu kembali meliriknya dan memberikan kedipannya sebelum membuang pandangannya kearah lain.


"BUNUH GUE KALO INI MIMPI!" Heboh Vernon berdiri dari duduknya.


"Bukan, bentar gue masih shock." Ucap Kelvan.


"Itu Elara kan? Elara yang kita omongin tadi?!" Tanya Daniel.


"Gila, menang banyak Zevanno." Celetuk Harry yang dibenarkan oleh teman-temannya.


"Emang bro, sekelas Elara yang dicari pasti sekelas Zevanno, gak heran sih gue, cuma kenapa Elara ambil start duluan?" Ucap Samuel.


"Nah itu, kenapa ya?!"


Zevanno hanya diam, tidak melakukan apapun bahkan deru nafas laki-laki itu tidak terdengar.


"Gimana Zev? Enak gak rasanya di kecup sama primadona kelas 11?"


Zevanno melirik Devon selana 3 detik kemudian membuang pandangannya kerah rokoknya tanpa menjawab pertanyaan Devon.


Zevanno mengeluarkan ponsel mahalnya yang sedari tadi berada didalam jaketnya.


Perlu dicatat, bahwa ponsel seorang Zevanno akan selalu hidup, tapi dengan mode hening. Zevanno tidak suka diganggu dalam hal apapun.


"Zev, serius? Elara gak ngaruh apa-apa nih buat lo?" Tanya Devon ketika Zevanno berlagak seperti tidak terjadi apa-apa.


"Yaelah, emang dasar batu, dikasi yang cantik di diemin." Ucap Kelvan.


"Udah Van, lo iri mulu." Jawab Daniel.


"Engga ngab. Sekali-kali notice kali Zev, lumayan cocok sama lo."


"Bukan lumayan lagi Van, emang setara." Sela Harry.


"Mungkin Elara yang lo cari selama ini Zev." Celetuk Vernon asal.