ZEVANNO ALDEBARAN

ZEVANNO ALDEBARAN
[07 - Secret]



"Kamu kenapa kasar sama aku?!"


"Aku gak kasar, kamu duluan yang marah-marah."


"Maksud kamu apa?! Jelas aku marah, kamu kemana aja kenapa gak pernah ngabarin aku? Aku ini Istri kamu."


"Aku kerja Wen, berapa kali aku bilang aku kerja, kamu gak bisa ganggu aku terus."


"Oh jadi maksud kamu aku pengganggu?"


"Iya, kamu pengganggu, kamu gangguin aku. Kerjaan aku, semua hal yang bersangkutan sama aku, kamu ikut campurin."


Brakk...


Pandangan kedua pasangan suami istri yang sedang ribut diruang keluarga mansion bergaya eropa itu jatuh kepada seorang laki-laki yang baru saja memasuki mansion dengan membanting keras pintu utama mansion.


Zevanno menatap jengah kedua orang tuanya yang beberapa bulan belakangan ini selalu bertengkar karena masalah yang Zevanno rasa tidak penting untuk dibesar-besarkan.


Inilah sisi lain yang tidak diketahui orang lain terhadap keluarga Zevanno. Keluarga Zevanno tidak selalu harmonis seperti diberita-berita mingguan majalah, lebih tepatnya keluarga Zevanno pintar bersandiwara atau membayar media untuk menampilkan berita yang baik-baik saja.


"Zevanno."


Zevanno menghentikan langkahnya ketika panggilan Papanya menggema dimansion megah itu. Zevanno tidak berbalik hanya melirik dari ujung matanya.


"Yang sopan kamu." Peringat Papanya.


Zevanno mengidikkan bahunya acuh kemudian melangkahkan kakinya menuju lift untuk kelantai 3 dimana hanya ada kamarnya dilantai itu.


Sejak kecil Zevanno besar dengan didikan jarak jauh orang tuanya. Papanya yang selalu sibuk, begitu juga Mamanya yang merupakan seorang chef yang memiliki banyak cabang restoran mewah.


Apalagi memang Zevanno sejak awal sudah mandiri, tidak suka dicampuri urusannya, sejak TK besar, Zevanno sudah memakai pakaian sekolahnya sendiri, jadi Zevanno tidak merasa tergantung kepada orang tuanya.


Zevanno membuka seragam sekolahnya dengan kasar sehingga tiga kancing atasnya terlepas, laki-laki jangkung itu memasuki kamar mandi dan keluar setelah 10 menit membersihkan dirinya didalam sana.


Laki-laki itu mengambil jaket yang tergeletak diatas ranjangnya setelah selesai memakai pakaiannya. Catat, bahkan untuk bermalam dimansion ini saja rasanya Zevanno tidak betah.


"Kamu mau kemana?" Tanya Wendy, Mamanya.


"Keluar."


"Mama udah masak, kamu tadi pulang dari sekolah, sekarang mau keluar lagi?" Tanya Mamanya.


Zevanno menghela nafas kasar, bukan, Zevanno tidak bermaksud menyakiti perasaan Mamanya, tapi kenapa wanita itu sekarang terlihat berkaca-kaca?


"Yaudah, Mama minta tolong sekalian anter Mama kerestoran boleh?"


"Hem." Jawab Zevanno.


Wendy tersenyum kecil mendengar jawaban Zevanno, wanita itu segera memasuki kamarnya dan mengambil tasnya.


..._______________...


"Kamu mau nambah?" Tanya Wendy perhatian kepada putranya.


Tadi ketika Zevanno sudah sampai didepan restoran Wendy memaksa Zevanno untuk makan sebelum pergi. Akhirnya mau tidak mau Zevanno turun mengikuti Mamanya.


Zevanno menggeleng mendengar pertanyaan Wendy, laki-laki itu menghabiskan minumannya sebelum berdiri dari duduknya.


"Zevanno pergi dulu, nanti Mama bisa minta Papa jemput sekalian." Ujar Zevanno bermaksud baik karena kantor Papanya juga berada diseberang restoran mewah Mamanya.


"Papa kamu gak bakal pulang malam ini." Zevanno melihat Mamanya yang sepertinya tidak sedang baik-baik saja.


"Kenapa,"


Wendy mendekati anaknya, memegang kerah baju kemeja yang dikenakan Zevanno sebagai luaran dari kaos hitamnya.


"Mama curiga Papa kamu selingkuh."


Zevanno tersenyum paksa, "Mama jangan kebanyakan nonton drama. Papa udah biasa dari dulu jarang pulang, Papa itu kerja bukan berarti Papa selingkuh." Ujarnya cepat.


Tidak, sekalipun Zevanno tidak dekat dengan Papanya tapi Zevanno tidak pernah memikirkan Papanya berbuat hal yang bisa membuat Zevanno membencinya.


"Jam 6 sore, hari ini, ikuti aja mobil Audi R8 punya Papa kamu." Lirih Wendy.


"Mama kebanyakan overthinking." Ujar Zevanno menolak percaya, laki-laki itu melangkah lebar meninggalkan restoran Mamanya.


...___________...


Menolak perkataan Mamanya tadi tidak bisa membuat Zevanno berhenti memikirkan hal itu sebelum memastikan sendiri dengan mata kepalanya.


Zevanno mengencangkan kecepatan mobil yang baru dibelinya 30 menit lalu, salah satu mobil yang ditunjuknya asal untuk membantunya memecahkan rasa penasarannya.


Mata tajam yang memang pas melekat diwajahnya menjadi semakin menyipit tajam. Smirk tipis terlihat diwajahnya, didepan sana laki-laki paruh baya yang diam-diam menjadi tokoh favorite-nya sedang menjemput seorang wanita lain yang terlihat keluar dari salon mewah.


****!


Zevanno segera memutar balik mobilnya, pikirannya semakin kacau ketika rintik hujan jatuh membasahi kaca mobilnya, Zevanno memang tidak pernah mengharapkan keluarga yang harmonis yang sangat sempurna karena Zevanno sendiri bukan golongan orang yang suka berhubungan terlalu intens dengan siapapun. Tapi kejadian yang dilihatnya barusan membuatnya serasa ingin membakar dunia ini.


Zevanno mengendarai mobilnya dengan kecepatan kencang, entah kemana yang jelas ini menjauhi tempat-tempat yang bisa saja membuat emosinya semakin meledak.


Setelah 2 jam mengendarai mobilnya Zevanno memarkirkan mobilnya asal di salah satu resort miliknya yang berada didekat perbukitan, jauh dari suasana kota yang selalu sibuk.


"Tuan muda,"


Zevanno melewati begitu saja para maid dan bodyguard yang bertugas di resort itu. Zevanno melangkahkan kakinya ke rooftop bangunan itu, kakinya dengan otomatis menendang meja bar yang berada disana hingga minuman-minuman mahal diatasnya jatuh berserakan.


Bukan hanya itu, Zevanno juga memecahkan barang-barang yang dilihatnya, Zevanno benar-benar melampiaskan emosinya. Jika biasanya Zevanno akan balapan atau ke club, tapi saat ini Zevanno benar-benar ingin sendiri.


Zevanno melemparkan pandangannya kepada foto besar yang terpajang disetiap dinding resort ini, foto Papa, Kakeknya dan dirinya yang sengaja dipajang sebagai pemilik utama.


Harusnya Zevanno tahu, Anak dan Ayah sama saja, begitu banyak berita baik tentang keluarga Zevanno yang tersebar diluar sana hingga berita buruknya hilang tanpa jejak. Bagaimana mungkin Zevanno lupa kakeknya juga dulu selingkuh dan mengakibatkan neneknya meninggal bunuh diri. Bahkan Zevanno tidak tau bagaimana wajah neneknya kecuali dari foto. Zevanno tahu cerita itu karena kakeknya sendiri yang menceritakannya. Tapi sialnya kenapa Papanya sekarang seperti kakeknya.


Zevanno melirik danau dibawah sana, kemudian menatap kekacauan yang terjadi atas perbuatannya.


Laki-laki itu keluar dari area rooftop dan menatap tajam semua maid dan bodyguard disana, "Bersihkan sebelum saya kembali" ujarnya singkat kemudian berjalan turun kearah danau dibelakang resortnya.


Zevanno mengambil tempat duduk dipinggir danau yang memang sengaja dibuat untuk piknik atau camping. Zevanno melempar kerikil-kerikil kecil kearah danau, pikirannya kacau, bagaimana bisa Papanya tega melakukan hal itu.


"Mungkin lo lebih perlu."


Zevanno menatap satu cup hot chocolate yang disodorkan kepadanya, entah darimana gadis ini muncul dan bisa menawarkan coklat panas untuknya.


Zevanno tidak berniat berbicara dengan siapapun saat ini, laki-laki itu hanya menggeleng tanpa minat.


Gadis yang tadi menyodorkan hot chocolate itu kemudian ikut duduk disampingnya.


Tunggu, kenapa tatapan gadis itu seperti prihatin, memang Zevanno terlihat semenyedihkan itu?


"Ngapain?" Tanya Zevanno tanpa melihat gadis itu.


"Duduk."


"Ck, jangan disini."


"Setengah danau ini punya Deverson," Jawab gadis itu angkuh.


"Iya terus? Setengahnya juga punya gue. Dan lo ada di wilayah gue, jadi jauhan sana."


Gadis itu mengidikkan bahunya acuh. Kemudian membuka tas kecil yang dibawanya mencari sesuatu.


"Mau rokok ga?"


Zevanno melirik sebungkus rokok yang lagi disodorkan kepadanya.


"Boleh." Jawabnya cepat, Zevanno baru ingat dirinya tidak membawa rokok, padahal biasanya rokok yang menjadi pelampiasan terbaiknya.


Zevanno meraih sebungkus rokok yang diberikan oleh gadis itu. Ketika membuka bungkusnya, dan menyesap satu batang, sialnya Zevanno ingat dirinya tidak membawa korek. Laki-laki itu mendesah kesal.


"Sini."


Zevanno menoleh kemudian gadis itu langsung membakar ujung rokok yang sudah terselip dibibir Zevanno.


Sial.


Zevanno menatap mata gadis itu yang fokus membakar rokoknya. Entah kenapa menatap mata gadis itu membuat darah Zevanno mendesir aneh.


"Udah."


Zevanno segera memalingkan wajahnya, "Darimana lo dapet rokok?"


"Beli."


"Lo-"


"Gak, gue gak ngerokok, sengaja gue beli buat lo."


Zevanno melirik gadis dengan nama belakang Deverson itu dengan tatapan aneh, "Gue gak lagi bercanda, Elara."


"Gue juga gak bercanda." Jawab Elara sambil membenarkan topi rajut yang dipakainya. Cuaca dingin hari ini membuat Elara menggunakan hoodie putih yang oversized kemudian dilengkapi bawahan celana jeans yang pas dikaki jenjangnya, dikemudian sepatu sneakers putih senada dengan hoodie gadis itu.


"Resort keluarga gue didepan sana," tunjuk Elara, "Terus, dari rooftop tadi gue lihat lo lagi marah-marah sambil lempar barang. Jadi waktu gue lihat lo turun kesini, gue kira lo perlu sesuatu."


Zevanno mengalihkan perhatiannya dari Elara, laki-laki itu tidak malu, tapi baru kali ini orang yang cukup asing bisa masuk kedalam daerah jangkauannya sejauh ini.


"Kenapa lo nyamperin gue?"


"Entah,"


Zevanno menghela nafas kasar, tidak ada gunanya berbicara dengan devil kecil itu.


"Lo pernah kecewa?" Tanya Zevanno setelah lama hening.


Elara menggelengkan kepalanya.


"Hidup di planet mana lo sampai gapernah kecewa?!"


"Alam bawah, kan lo yang bilang gue setan."


Zevanno kembali mendesah kasar. Sialan, baru kali ini Zevanno diajak bermain kata-kata.


"Lo kesini gak karena kasihan sama gue kan?" Tanya Zevanno dengan nada sedikit keras.


"Eh, enggak, gue juga pernah kayak gitu, bahkan lebih parah dari yang lo lakuin tadi. Jadi sesama manusia yang pernah terluka, ayo kita healing bareng."


Deg..


"Berarti lo pernah terluka kan?"


"Ya, terlukanya dalam hal apa?" Tanya Elara.


"Dalam hal yang gak pernah lo bayangin."


"Pernah."


"Terus, cara lo sembuh gimana?"


"Gak bisa."


"Gak bisa?" Beo Zevanno yang saat ini sudah menatap kedua mata Elara yang juga menatapnya. Zevanno memang sejak kecil terbiasa mendapatkan apapun yang diinginkan, termasuk permintaan maaf dari orang lain bisa ia dengar dengan mudah. Tapi Zevanno tidak pernah meminta maaf kepada siapapun.


"Gimana caranya sembuh kalau gue aja udah ditinggal beda alam?"