
Elara melangkahkan kakinya santai dikoridor sekolah, hari ini jam pelajaran pertama free, karena Bu Mio, guru biologinya kemarin ijin terlamat 1 jam pelajaran.
Brumm.....
Brumm.....
Brumm.....
Elara melirik sekilas gerombolan motor yang baru memasuki area sekolahnya. Bukan hal yang baru, bahkan hal biasa yang sering terjadi. Tapi hal itu masih saja membuat para siswi menjadi heboh seketika. Siapa lagi yang bisa membuat siswi-siswi lost control selain Zevanno dan sahabatnya.
Mereka memang selalu menarik perhatian bahkan jika mereka hanya bernafas saja hal itu dapat membuat siswi yang lainnya menjadi menahan nafas mereka. Berlebihan? Tapi itulah fakta yang Elara lihat selama ini.
Tapi semua itu tidak berlaku untuk Elara. Mungkin Elara saja sepertinya yang menatap mereka seperti manusia biasa. Ya, memang mereka manusia kan? Tapi hanya saja diperlakukan bagai dewa oleh banyak orang.
"Pagi El."
Ternyata Elara terlalu fokus dengan pikirannya sehingga tidak sadar ada seseorang didepannya.
"Pagi." Ucap Elara singkat. Karena Elara tidak mengenal laki-laki didepannya ini, jadi sangat tidak penting untuk membuang waktunya dengan berdiri dikoridor dan berbicara dengan laki-laki yang Elara tahu benar tujuannya apa.
Mungkin karena sifatnya yang cuek, dan to the point, apalagi kadang kalau berbicara itu savage, hal itu yang membuat banyak orang menilai bahwa Elara sombong. Tapi Elara adalah orang yang paling bodoamat dan tidak pernah memikirkan perkataan orang lain, Elara tidak peduli dan sepertinya tidak akan pernah peduli.
"Oh, by the way, gue Reyan."
Elara mengalihkan matanya kesembarang arah, sudah hafal sekali dengan kejadian seperti ini. "Oke."
"Em, lo nanti malem lo sibuk-"
"Iya gue ada acara malem ini, gue sibuk banget, mungkin setahun kedepan gue ada acara tiap malem, jadi gak bisa keluar bareng lo. Jadi gitu, hehe sorry ya, siapa tadi nama lo? Remon? Reon? Royan? Ah Iya Royan sorry ya. Next year coba." Jawab Elara datar dan cepat, kemudian meninggalkan laki-laki itu dikoridor tanpa menunggu balasan.
"Modus lo ketahuan bro." Ucap salah satu anak laki-laki yang mendengar percakapan mereka.
"Yang sabar ya bro."
Reyan hanya menghela nafas lelah. Benar, Elara terlalu tinggi untuk digapai.
Sedangkan Elara berjalan cepat menuju kelasnya. Ayolah, Elara sudah ketemu modelan seperti itu beberapa kali sebelumnya. Bagaimana sih caranya menjelaskan kalau Elara tidak ingin pacaran atau dekat dengan laki-laki atau apapun. Tidakkah mereka sadar hal itu malah membuat Elara risih?!
"PAGI ELARA."
Elara menghela nafasnya jengah ketika suara Fandrea menggema ditelinganya ketika Elara baru saja masuk selangkah kedalam ruangan kelas.
"Yuhu, selamat pagi kunci jawaban."
"Good morning sweety, how are you?"
Elara hanya memberikan tatapan datarnya kepada sahabatnya. Bukanya berhenti mereka malah semakin menggoda Elara.
"Pagi ini udah berapa cowok yang lo tolak?"
"Tadi lo ngomong sama Reyan kan? For your information, karena gue yakin lo gak bakal tau dia siapa. Jadi, dia anak kelas bahasa, anak organisasi debat. Udah ngasi beberapa piala juga buat sekolah."
"Tapi kayaknya dia gak bisa menangin hati Elara kan ya?"
Bisa tidak Elara pindah kelas saja? Jujur saja, Elara heran bagaimana bisa dirinya betah berteman dengan mereka selama ini. Apakah Elara harus membanggakan prestasinya yang satu ini? Membuat piagam dan memajangnya mungkin?
Elara mengabaikan pertanyaan sahabatnya yang selalu membuatnya pusing. Gadis itu belum ingin mati muda karena meladeni tingkah absurd mereka. Elara mendudukkan dirinya dikursinya dan melanjutkan membaca buku yang selalu dibawanya.
"Jadi gimana? Semalem lo gak dateng ke sirkuit kira-kira Kak Zevanno bakal ngapain lo ya?"
Elara mengalihkan perhatiannya dari bukunya, menatap Loren yang menyuarakan pertanyaan itu. "Jangan bahas dia, gak akan ada apa-apa." Tegas Elara.
Yang benar saja, tidak di grup chat, tidak secara langsung, yang dibahas hanya Zevanno Zevanno dan Zevanno.
"Gak mungkin gak ada apa-apa El, lo harus lebih hati-hati sekarang. Justru kita gak pernah tau isi pikiran Kak Zevanno yang gak bisa ditebak itu." Gerutu Fandrea gemas.
"Terserah." Acuh Elara.
"Udah gue bilang, jangan ngomong sama Elara." Celetuk Della sambil memainkan ponselnya.
"Tadi gue liat kak Zevanno dijalan pas mau kesekolah sama sahabatnya, sumpah mereka keren banget astaga." Ucap Carla yang tentu saja akan berlanjut dengan percakapan panjang pastinya.
"Beneran? Sumpah ya mereka emang sekeren itu, gue liat semalem di story Kak Devon, mereka di sirkuit party." Lanjut Loren.
"Biasanya pas mereka bawa mobil aja keren, terus sekarang pada bawa motor, nambah keren woi." Sahut Seola.
"Iya, mungkin semalem ada sesuatu di sirkuit gak sih?" Tanya Carla.
"Entah apapun itu pokoknya mereka beneran keren, gue sampai kehabisan kata woi buat mendefinisikan." Tandas Fandrea sambil memegang kepalanya seperti gerakan pusing.
Elara hanya menghela nafas lelah, begini jika Elara tidak memiliki kesamaan dengan sahabatnya tentang hal yang satu ini. Sungguh mereka terlalu mengangungkan Zevanno.
..._________...
Zevanno melangkahkan kakinya dokoridor sekolah yang sepi. Bagaimana tidak sepi jika jam pelajaran masih berlangsung. Tidak, Zevanno tidak bolos, hanya saja kebetulan Zevanno ada kewenangan untuk mengatur jam latihan basketnya sendiri. Jangan lupakan yayasan sekolah ini milik Papanya. Jadi bagaimanapun tingkah Zevanno, maka Zevanno tidak akan pernah dikeluarkan dari sekolah.
Laki-laki jangkung itu melirik sekilas beberapa siswa kelas lain yang sedang melakukan pelajaran praktikum outdoor dengan mengamati tumbuhan. Kebetulan letaknya dekat dengan lapangan basket indoor. Matanya mulai terfokus kepada satu objek yang sedang menulis didampingi salah satu sahabatnya yang memegang tumbuhan.
Zevanno semakin memantapkan langkahnya memasuki lapangan indoor, syukurnya tadi tidak ada yang menyadari kehadiran Zevanno, jika ada yang sadar sudah pasti suasana akan heboh. Mengambil sebuah bola basket dengan asal dan memainkannya seperti biasa. Kali ini Zevanno hanya sendiri, dirinya terlalu malas untuk diusik saat ini. Laki-laki yang sudah menanggalkan kemeja sekolahnya itu hanya menyisakan kaus hitam yang pas ditubuhnya, tidak lupa sebuah kalung yang melingkar dilehernya.
Zevanno memainkan bolanya dengan lihai, dan selalu sukses mencetak angka untuk dirinya sendiri. Untuk kesekian kalinya ketika Zevanno memasukkan bola kedalam ring, dan disaat bola itu memantul jatuh kebawah, ada tangan yang mengambilnya lebih cepat dari Zevanno.
"Lo gak bisa bedain jam belajar sama jam olahraga?"
Zevanno hanya menaikkan alisnya tidak peduli. "Balikin bola gue, dan pergi dari sini." Ujarnya cepat dan terlampau datar.
"Lo jangan seenaknya disini, meski Papa lo yang punya yayasan tapi yang lainnya juga perlu kenyamanan disini, kalau gak ada yang berani bilangin lo, setidaknya lo tahu diri."
"Gue udah peringatin, 5 detik lagi lo gak keluar dari sini jangan salahin gue." Balas Zevanno.
"Susah ya ngomong sama setan."
Zevanno melihat lagi gadis yang sejak tadi berdiri lima langkah didepannya. Baru pertama kali Zevanno dihadapkan dengan perempuan seperti ini.
Bugh...
Gadis itu melempar dengan keras bola ditangannya kearah Zevanno dan mengenai perut laki-laki itu. Tapi itu hanya seperti sapuan angin bagi Zevanno. Laki-laki itu masih memasukkan tangannya didalam saku dan berdiri tegak.
"Percuma punya otak cerdas, tapi gak pernah digunain." Gumam gadis itu sambil melangkah meninggalkan Zevanno.
Dengan gerakan cepat Zevanno mengambil lengan gadis itu yang hendak melewatinya. Zevanno melemparkan kasar tubuh gadis itu hingga menabrak tembok pembatas.
"Bajingan!" Umpat gadis itu sambil meringis. Sialan memang.
"Lo tahu gue bajingan kenapa masih cari masalah sama gue?"
Gadis itu tidak menjawab, tangannya berusaha menyingkirkan tangan Zevanno yang mengurungnya.
"Lo gak bakal bisa pergi sebelum gue ijinin."
Ucapan Zevanno mampu membuat gadis itu berhenti berontak. Gadis itu menatap kedua bola mata Zevanno dengan tajam.
"Lo maunya apa sih sama gue?"
Zevanno menaikkan alisnya tertarik. "Lo cari masalah duluan sama gue."
"Well, berapa kali gue bilang itu-"
"To the point, semalem kenapa lo gak dateng?"
Gadis itu hanya diam, menatap Zevanno tanpa minat. "Jawab, Elara Athanasia. Lo gak bisu kan?"
"Hak gue." Ketus Elara akhirnya.
"Give me a good reason then I will let you go."
Elara menghela nafas jengah, jika saja laki-laki ini tidak menganggu kegiatan belajarnya maka Elara tidak akan pernah sudi berdiri disini sekarang.
"Not important." Jawab Elara dengan tegas, gadis itu sekarang melipat kedua tangannya didada dan menatap Zevanno tidak kalah tajamnya.
"Oh pantesan, cabut ga ngajak, taunya lagi berduaan."
Perkataan Kelvan membuat Zevanno dan Elara mengalihkan perhatian mereka kearah pintu masuk lapangan, diatas sana yang letaknya lebih tinggi dari lapangan.
Ternyata Kelvan tidak sendiri, keenam sahabat Zevanno juga ada disana, tentu saja menatap speechless kepada Zevanno dan Elara.
"Bacot." Jawab Zevanno yang setia dengan posisinya yang mengurung Elara dengan kedua tangannya yang diletakkan disisi kepala gadis itu.
Zevanno hanya melirik sekilas sahabatnya, berbeda dengan Elara, gadis itu tidak merasa malu dilihat dengan keadaan seperti itu, malahan Elara menatap sahabat Zevanno dengan tajam.
"Pantesan baru masuk auranya dark banget, ternyata demon sama devil lagi adu kekuatan." Canda Harry.
"Diem bro, tonton aja kalo gamau diusir." Ucap Devon yang dibenarkan oleh semuanya.
Elara mengalihkan tatapannya kembali sepenuhnya kepada Zevanno. Dan Zevanno yang sejak tadi menatapnya sudah mengeluarkan aura berbeda. Iya, laki-laki ini terlihat emosi, berbeda dengan tadi. Kali ini auranya jelas terlihat emosi, entah karena Elara atau karena sahabatnya.
Elara menghela nafas kesal, "Okay, Kak Vanno maunya gimana?" Tanya Elara terlampau datar merasa tidak akan bisa lepas dengan mudah dari Zevanno.
"Buset, mau apaan Kak Vanno. Manis bener." Bisik Samuel.
"Diem ngab, Zevanno telinganya sakti, lo nafas aja didenger." Sahut Lucas menendang kaki Samuel.
"Dateng ke sirkuit malam ini."
Elara memutar bola matanya malas. Masih saja.
"Gak bisa."
"Why?" Tanya Zevanno menuntut.
"Gue sibuk."
"Lo gak punya alasan yang lebih bagus? Basi."
"Gue belajar, besok gue quiz."
"Besok guru-guru rapat, gak ada pelajaran ataupun quiz."
Elara mengerutkan alisnya, "Kak Vanno jangan sok tau"
"Emang tau, lo lupa gue siapa?" Remeh Zevanno.
"Gue gak dikasi keluar malem."
"Terus keluar malem buat ke club dan sempetnya cium gue, dikasi?"
"**** you!" Umpat Elara kesal.
"See, lo gak punya alasan yang bagus Elara, lo bisa bohongin orang lain, tapi gue bukan salah satunya."
"Gue gak tau dimana sirkuit yang lo maksud."
"Oke, gue jemput, dan masalah selesai."
Elara menatap Zevanno terkejut. Nonono, ini baru namanya neraka. Lebih baik Elara belajar matematika, fisika, kimia daripada ada diposisi ini.
"Gak."
"Okey, I'll pick you up at 8."
"No, you're so annoying."
"See you tonight!" Bisik Zevanno puas sebelum meninggalkan Elara dengan kekesalannya. Tidak lupa Zevanno mengkode sahabatnya untuk mengikutinya.