ZEVANNO ALDEBARAN

ZEVANNO ALDEBARAN
[10 - Asing]



Elara berjalan dengan santai dikoridor sekolahnya, kali ini sekolah cukup sepi karena Elara sengaja datang lebih awal.


"Hai." Elara menatap cewek yang berada didepannya.


"Hai." Jawab Elara singkat.


"Eh, gue boleh tanya?"


Elara menaikkan alisnya, "Ya, kenapa?"


"Ruang kepala sekolah dimana? Gue murid baru."


Oh pantas saja, cewek itu terlihat kebingungan.


"Digedung A, deket lapangan basket." Jawab Elara singkat.


"Oh, okay makasi ya."


Elara hanya berdehem sebagai jawaban, kemudian Elara berjalan mininggalkan cewek itu.


Elara masuk kekelasnya dan belum ada siapapun disana, biasalah anggota kelasnya memang malas-malas, sebelum jam 08.15, mereka tidak akan datang, lebih tepatnya 15 menit sebelum pelajaran pertama dimulai.


"Loh, tumben banget lo dateng pagi gini." Heboh Loren ketika melihat Elara sudah duduk dibangkunya.


"Liburan yuk."


Loren membulatkan matanya senang, jika Elara mengajak liburan, pasti 100% biaya ditanggung oleh cewek itu, meski kadang sahabatnya mengancam ini itu supaya tidak di bayarkan Elara tapi tidak akan meluluhkan hati Elara.


"Serius? Lo ada masalah apa?" Tanya Loren curiga.


"Kenapa kalian berdua?" Tanya Della dan Fandrea yang baru tiba.


"Ini Elara ngajak liburan ngab." Jawab Loren masih dengan kehebohannya.


"Hah? Lo kenapa setan?!" Tanya Della cepat.


"Kalian kenapa sih, ikut aja, weekend kita liburan, nanti gue atur." Sahut Elara cuek.


"Gue sih kalo lo maksa udah pasrah gue El." Jawab Fandrea."


"Lah itusih lo emang mau monyet." Cibir Della.


"Yey, dah gausah ribut gue infoin ke Carla sama Seola dulu biar mereka cepetan dateng."


"Emang kita mau kemana?" Tanya Della.


"Salah satu villa gue yang deket pantai." Jawab Elara.


"Loh, kan lo gak bisa renang El." Ucap Loren heran.


"Kenapa? Emang kalo gak bisa renang, gue gak boleh liburan kepantai?" Tanya Elara sewot.


"Ya enggak gitu El, lo kenapa sih? PMS ya?" Tanya Della.


"Iya." Jawab Elara cuek.


Loren, Fandrea dan Della saling lirik, pantas saja Elara mudah emosi.


"Lagian ada hal yang harus gue lakuin disana." Ujar Ealara yang membuat sahabatnya menatapnya penuh tanya.


"Rada privasi sih, gue gapantes juga ceritain." Lanjut Elara ketika sahabatnya meminta penjelasan dari perkataannya.


"Oh, its okay, cerita kalo lo siap aja, kalo enggak juga its okay." Jawab Loren.


Inilah yang membuat Elara betah dengan sahabatnya meski mereka rada heboh tidak jelas, tapi mereka mengerti kondisi, tidak akan membongkar privasi jika tidak diijinkan oleh pihak utamanya. Its simple tapi sangat dibutuhkan dalam setiap pertemanan, karena tidak semua hal harus diumbar, tidak semua hal harus diketahui, we need a privacy.


"Pada ngomongin apa ni?" Tanya Seola yang baru saja memasuki kelas bersama Carla dan juga terlihat beberapa teman sekelasnya yang juga baru masuk kekelas.


"Nanti gue cerita, bentar lagi jam masuk." Kata Loren sambil mengkode mereka untuk duduk ditempat masing-masing, karena jam pelajaran kurang lagi 5 menit. Dan jika mereka dibiarkan terus bercerita, tentu saja tidak akan pernah selesai.


"Selamat pagi anak-anak. Hari ini kita kedatangan murid pindahan baru. Ayo masuk."


Tuhkan benar, Bu Dena selaku guru BK sudah memasuki kelas dengan seorang murid baru.


Elara menaikkan alisnya ketika mengetahui cewek yang tadi ditemuinya dikoridor itu adalah murid baru yang sekelas dengannya.


"Jadi ini Nessa, teman kelas kalian yang baru. Ayo kenalin diri kamu."


"Hai, aku Zavira Nessa Argandra. Kalian bisa panggil aku Nessa, aku pindahan dari bandung, thank you."


"Oke, kamu boleh duduk dibelakang Carla, tolong Carla angkat tangan biar Nessa tau."


Elara memperhatikan Nessa yang sepertinya sangat polos, terlihat sekali kalimat perkenalan dirinya adalah hafalan. Tapi entah kenapa Elara merasa ada yang aneh.


"Baik ibu akan mulai pelajaran kita ya."


Elara tersadar dari pikirannya ketika Bu Dena mulai membuka pelajarannya.


...___________...


"Jadi lo ada hubungan apa sama Elara?" Tanya kelvan.


Zevanno menatap Kelvan dengan alis terangkat.


"Lo suka sama dia?" Pertanyaan to the point dari Lucas membuat Zevanno mengerutkan alisnya dan menatap Lucas tajam.


"Nganterin pulang belum tentu suka." Jawab Zevanno ketus.


"Ya abisnya lo kesambet apaan sampe segitunya?" Heran Daniel.


"Ngapa si ngab, biarin aja kali, kaya gapernah pacaran aja lupada." Respon Harry kesal.


"Lo sebagai orang yang gak pernah pacaran mending diem." Celoteh Devon.


"Iya ini kita lagi bahas masalah serius, lo diem aja disana." Kata Samuel ikut-ikut.


"******." Umpat Harry makin kesal.


"Jadi gimana? Lo suka sama dia?" Tanya Vernon.


Lagipula waktu itu Zevanno mengantar Elara pulang karena Zevanno merasa Elara membantunya menenangkan dirinya divilla kala itu. Tapi cukup sekali, karena Zevanno tidak suka berhutang budi dengan siapapun.


Tapi nyatanya dipantai, Elara kembali membantunya, sialan, kenapa harus cewek itu?


Dan sayangnya, untuk pertama kali Zevanno diberikan bantuan dan menerima bantuan dengan keadaan yang sepasrah itu.


"Zev, lo ngapain nganterin dia pulang kalo lo gak suka sama dia?" Tanya Kelvan heran.


Zevanno kembali kedunia nyata ketika mendengar pertanyaan Kelvan.


Tidak ada niatan menjawab pertanyaan itu, karena Zevanno tau, semakin ditanggapi maka temannya akan semakin berulah.


"Zev-" Baru saja Lucas akan berbicara teriakan menggelegar dari pintu masuk kelas membuatnya terlonjak kaget.


"SELAMAT PAGI."


Seluruh penghuni kelas 12 IPS 1 langsung terperanjak kaget dan kembali ketempat duduknya masing-masing.


Pak Ruver, guru sejarah, salah satu guru yang cukup garang.


"Kalian ini, bukanya belajar malah ribut sekali, apa tidak cukup ribut diluar sana? Ini sekolah, tempat belajar, haduh, mau jadi apa kalian nanti?!" Heran Pak Ruver sambil menggelengkan kepalanya.


Hening, tidak ada yang menjawab ataupun merespon celotehan Pak Ruver.


"Diem kan, diajak ngomong malah diem, disuruh diem, malah ngomong." Celotehnya lagi.


"Baik, jadi saya akan melanjutkan materi minggu lalu."


...___________...


Jam istirahat sudah tiba, dan tentu saja hal itu membuat seluruh siswa menjadi riang gembira, dan juga semangat lagi. Bisa dilihat dari keadaan kantin yang sangat ramai dipenuhi oleh siswa-siswi.


"El lo mau pesen apa?" Tanya Loren yang saat itu akan memesankan makanan untuk mereka semua.


"Apa aja bebas." Jawab cewek itu sambil memainkan ponselnya.


"Oke." Sahut Loren kemudian mulai memesankan makanan untuk mereka.


"Eh, itu si Nessa kasian bingung nyari tempat duduk." Ucap Carla.


Elara mengalihkan pandangannya kepada Nessa, entah kenapa ada yang janggal kepada cewek itu tapi Elara tidak bisa menebak apa.


"Ajak aja duduk disini." Kata Azella santai sambil menutup ponselnya.


"Boleh-boleh." Respon Fandrea.


"Ness, sini duduk." Panggil Carla yang langsung diangguki Nessa.


"Ness, kenalan dulu ya sama mereka, ini Fandrea, terus disampingnya Della, depannya Seola, yang mesen makanan tu Loren, nah yang paling ujung Elara." Kata Carla memperkenalkan mereka. Yang dibalas senyum oleh Nessa


"Lo kenapa pindah?" Tanya Della.


"Aku ngikut Mama." Jawab Nessa singkat.


"Lo pemalu ya?" Respon Seola.


"Eh hehe, aku gak suka keramaian." Ujarnya.


"Sama kaya Elara." Kata Fandrea.


Nessa langsung melirik Elara yang saat itu kembali memainkan ponselnya.


Seketika suasana kantin yang sedikit ramai berubah menjadi lumayan sunyi ketika gerombolan cowok memasuki area kantin.


"Itu Zevanno sama sahabatnya kok kekantin sini mulu sih." Kata Loren yang saat itu sudah kembali dari memesan makanan.


"Ada yang dicari gak sih?" Heboh Fandrea sambil melirik Elara.


Elara yang merasa ditatap langsung menajamkan matanya, "Apa?!" Responnya sewot.


Elara tidak melirik sedikitpun kearah Zevanno, begitu juga cowok itu yang terlihat acuh melewatinya, dan hal itu membuat para sahabat dari dua insan itu menjadi kebingungan.


Bagaimana tidak, kadang mereka cukup dekat sampai Zevanno mengantar Elara pulang, tapi sekarang mereka terlihat seperti orang asing yang seolah-olah tidak pernah kenal.


"Itu siapa?" Tanya Nessa.


"Itu Zevanno sama sahabatnya." Jawab Fandrea.


"Oh gitu, dia kaka kelas?"


"Iya, ganteng kan?!" Tanya Carla.


"Hum lumayan." Jawab Nessa malu-malu.


"Iya emang ganteng, tapi lo gak boleh suka sama Zevanno ya, soalnya dia punya Elara."


"Della." Sela Elara tajam mengingatkan Della.


"Loh bener kan?!" Ujar Loren ikut-ikutan.


"Apaan sih! jangan bahas yang enggak-enggak." Kata Elara kesal.


"Aduh sewot banget yang lagi pms, belom disemangatin sama ayang ya?" Tanya Carla sambil tertawa.


"Iya kenapa kalian ga saling sapa woi?!" Lanjut Seola.


"Gak penting!" Ketus Elara.


"El." Panggil Loren serius yang membuat Elara menatapnya dengan datar


"Apa?"


"Zevanno liatin lo." Jawab Loren yang membuat mereka semua melihat kearah cowok itu yang memang menatap Elara dengan tajam.


Elara dengan santainya membuang pandangannya seolah semua itu adalah hal biasa untuknya.


...___________...