ZEVANNO ALDEBARAN

ZEVANNO ALDEBARAN
[15 - Tertolak?]



"Besok jadi ke villa kan?" Tanya Loren ketika baru sampai diruangan kelas, meningat besok weekend dan janji Elara mentraktir mereka semua disalah satu villa miliknya.


"Jadi." Jawab Elara.


"Jadi nanti kumpul dirumah Elara ya, sabtu pagi jam berapa El? jam 8?" Tanya Della semangat.


"Iya." Jawab Elara singkat.


"Lo kenapa El?" Tanya Fandrea.


"Gak apa." Cuek Elara.


Jujur saja mood Elara sangat-sangat buruk pagi ini, hal ini tidak lain karena acara perjodohan gila semalam.


Benar-benar gila!


Drrt


Elara mengambil ponselnya yang memperlihatkan notifikasi chat dari kakaknya bahwa pesawat cowok itu akan segera terbang menuju Dubai, katanya ada pertemuan bisnis.


Elara tidak membalas pesan kakaknya karena gadis itu masih terlampau kesal dengan cowok itu. Bahkan Elara rasanya ingin memanggang cowok itu hidup-hidup.


Drrt..


Baru saja ingin memasukkan ponselnya, satu notifikasi dari kakaknya kembali menyita perhatian Elara.


"Nanti malam lo bisa ketemu sama anaknya Om Fero di Cafe Ly"


Elar menghela nafas jengah untuk kesekian kalinya, baiklah malam ini saja, Elara benar-benar akan keluar dari perjodohan gila ini.


Tidak ada niatan untuk membalas pesan dari kakaknya, Elara hanya menglock layar ponselnya dan membiarkannya dengan mode silent.


...________...


"Pagi Zev." Sapa Samuel hangat ketika melihat Zevanno masuk keruangan kelasnya.


"Hari ini ulangan harian matematika Zev." Beritahu Harry dengan cengengesan.


Zevanno menghela nafas jengah, pantas saja mereka hari ini kalem tidak berulah, ternyata ada maunya.


"Dev kan lo duduk disamping Zevanno, tar lempar jawaban kebelakang yak?" Kata Lucas.


"Bacot." Respon Kelvan yang sibuk mengerjakan latihan soal-soal.


"Ngapain lo belajar anjing. Dah ada Zevanno aman hidup lo." Gurau Vernon.


"Suka-suka gue anying, awas lo pada nanya jawaban sama gue." Kesal Kelvan yang masih asik dengan angka-angka didepannya.


Zevanno hanya menghela nafas jengah, memang teman-temannya tidak pernah waras.


"Hari ini gak jadi ulangan ya, Bu Dinda lagi sakit." Kata ketua kelas mereka tiba-tibas.


"YESS." Sorak seluruh siswa kecuali Zevanno dan Kelvan.


"Yaelah percuma gue belajar h-1." Kesal Kelvan.


"Udah gue bilangin ngab, kalo ulangan gausah belajar." Ledek Harry.


"Bisa-bisanya Bu Dinda ghosting gue." Kata Kelvan alay.


"Alay lo." Ucap Vernon sambil menoyor kepala Kelvan.


"Besok weekend gak ada kegiatan negatif nih?" Tanya Devon yang sejak tadi diam.


"Buset, kegiatan negatif." Heran Samuel.


"Gak gue serius, gimana Zev? Balapan?" Tanya Devon seperti sangat excited.


"Gak." Respon Zevanno malas.


"Lo kenapa sih? Semalem lo ngilang kemana Zev?" Tanya Lucas.


"Apaan? Lah iya, lo bilang ke toilet tapi sampe pagi ga balik-balik ke table." Tanya Daniel ikut penasaran.


"Gue liat kemarin juga gak ada Elara." Ucap Devon ikut-ikutan.


"Terus kenapa?" Tanya Zevanno balik.


"Ya enggak apa-apa Zev. Tapi kan bisa aja kalian pergi bareng." Gurau Harry sambil tersenyum seperti orang bodoh.


"Kenapa emangnya? Gak boleh?" Tanya Zevanno yang membuat sahabatnya heboh.


"Jadi beneran?!" Tanya Devon memastikan dengan heboh.


"Gak juga."


Jawaban singkat dari Zevanno membuat sahabatnya yang tadi excited langsung menunduk lesu.


"Halah, bodoamat Zev, sakit hati gue ngomong sama lo." Kata Vernon.


Zevanno tidak lagi menghiraukan sahabatnya, cowok itu mengambil ponselnya dan membuka satu aplikasi chat. Zevanno tanpa ragu-ragu mengklik roomchat seseorang yang entah kenapa dan kapan sudah disematkan dipaling atas olehnya.


Zevanno melihat roomchat yang masih sedikit, karena mereka memang tidak pernah chatting secara intens.


Zevanno mengetikkan pertanyaan dengan dua kata dan tanpa tanda tanya.


Entah kenapa tangannya langsung mengklik send padahal pikirannya tidak sepenuhnya ada disana.


Terlihat chatnya ceklist 2 tapi belum berwarna biru, yang artinya belum dibaca. Zevanno keluar dari aplikasi tersebut dan menaruh ponselnya diksakunya. Dan untuk pertama kalinya Zevanno mematikan mode silent diponselnya.


..._________...


Jam istirahat sudah tiba, hal itu tentu saja disambut kebahagiaan oleh seluruh siswa.


Elara berjalan dengan malas kearah kantin bersama sahabatnya. Moodnya benar-benar kacau sampai saat ini.


Elara dan sahabatnya duduk disalah satu meja dikantin yang sudah sangat ramai, dan kali ini Fandrea yang memesankan mereka makanan.


Elara mengambil ponselnya meningat dirinya tidak menghidupkan mode getar jadi jika ada notifikasi masuk maka Elara tidak akan tau.


Benar saja, ada beberapa chat dari beberapa grup dan chat teratas yang menarik perhatiannya.


"Lagi apa"


Elara mengernyitkan matanya ketika orang yang mengiriminya pesan juga sedang online.


Elara hanya membaca tanpa ada niatan untuk membalasnya, matanya melirik kearah kantin dan menemukan sosok yang tadi mengiriminya pesan juga sedang memperhatikannya.


Elara benar-benar merasa akan gila jika selalu berurusan dengan orang-orang gila seperti itu.


Elara kembali melirik notifikasi diposelnya yang masih dari orang yang sama.


"Lo gak bisa bales chat orang?"


Elara tersenyum sinis dan mengirim balasan dengan singkat.


"Gak penting."


Setelah mengirim dua kata tersebut Elara menutup ponselnya dan menaruhnya diatas meja layaknya tidak ada hal menarik.


Elara kembali teringat bahwa malam ini dirinya ada pertemuan dengan anaknya Om Fero. Sungguh hal itu malah membuat moodnya hancur berantakan lagi.


"Gue ketoilet bentar." Kata Elara kemudian meninggalkan sahabatnya.


Elara berajalan dengan santai kearah toilet, sebenarnya Elara tidak benar-benar memerlukan toilet, tapi Elara perlu kenyamanan, maksudnya tampat yang sepi yang bisa membuat pikirannya menjadi tenang.


"El."


Elara melirik Nessa yang berpapasan dengannya.


"Hm." Jawab Elara singkat.


"Makasi ya soal waktu ini."


"Its oke."


"Lo mau kemana?" Tanya Nessa berusaha mengakrabkan diri.


"Bukan urusan lo." Jawab Elara jutek seperti biasa.


"Ngapain lo disini?"


Elara menghentikan langkahnya ketika mendengar suara seseorang yang dikeninya.


Elara melihat kebelakangnya, benar saja disana ada Zevanno yang terus membully Nessa.


Nessa terlihat menunduk ketakutan, sedangkan Zevanno menatapnya tajam.


"Lo-"


"Vanno cukup." Potong Elara cepat.


"El gue-"


"Biarin dia pergi, Nessa sana kekelas."


Lagi dan lagi Nessa hanya bisa menunduk dan meninggalkan Zevanno dan Elara.


"Muak gue liat mukanya."


"Tapi dia juga korban sama kayak lo."


"El memandang semua orang baik itu belum tentu baik." Kata Zevanno tegas.


"Ya tapi lo jangan rusak mentalnya."


"Loh, mental gue aja gak ada yang mikirin."


"Jangan egois Vanno, kalo dia gak ada cari gara-gara sama lo, gausah disenggol. Kecuali dia sengaja cari masalah sama lo, baru lo boleh kaya tadi."


"Dia sama mamanya gaada beda El."


"Dih, kalo gue bilang lo sama papa lo gaada beda gimana?" Tanya Elara tegas.


"Shut the fucking up."


"Marah kan?! Makanya sebelum ngomong dipikir dulu."


Elara kemudian berbalik meninggalkan Zevanno, namun ternyata cowok itu mengikuti langkahnya.


"El entar dinner yuk?"


Elara memejamkan matanya lelah, apalagi sekarang?


"Lo kayaknya perlu ke dokter." Jawab Elara mengabaikan ajakan Zevanno.


"Gak, gue gak sakit, gak gila ataupun yang lain, gue waras, gue sadar dan gue serius."


"Diem, geli gue."


"El, gue serius soal pacaran."


"Hm." Gumam Elara malas menanggapi Zevanno.


Cewek itu masih melanjutkan langkahnya yang menuju rooftop sekolah, dan Zevanno yang setia mengikuti langkah dari Elara.


Koridor yang sepi membuat hanya ada derap langkah mereka saja, karena kebanyakan siswa saat ini sedang dikantin.


"Tar malem-"


"Gak bisa nanti Vanno, gue ada janji." Potong Elara cepat.


"Sama siapa?"


"Bukan urusan lo."


"Ck, yaudah besok."


"Gak bisa gue ada janji juga."


"Sibuk lo ngalahin direktur utama sumpah."


"Yaya terserah." Jawab Elara malas.


"Weekend staycation mau?"


"Gak."


"Ini gak mau, ini gak bisa, lo bisanya ngapain? Dan kapan?" Tanya Zevanno.


"Apa aja dan kapan aja asal gak sama lo."