ZEVANNO ALDEBARAN

ZEVANNO ALDEBARAN
[01 - First Meet]



Suara petir yang bersahutan diluar sana terkalahkan oleh dentuman suara musik dj yang menggema keras di salah satu night club di kawasan elit Ibu Kota. Dan jangan lupakan kerlap kerlip lampu yang semakin membuat night club tersebut menjadi ramai.


Meskipun suasana diluar hujan lebat, namun orang-orang yang berada disalah satu night club ternama itu tidak memberhentikan kegiatannya sama sekali, bahkan banyak yang menikmati suasana malam itu dengan menari bebas di dance floor.


Mereka bergerak dengan bebas, meminum alkohol sebanyak yang mereka mau. Ataupun mencari pasangan entah untuk semalam saja atau untuk selamanya. Hell, tapi tidak semua orang yang ada di dalam night club itu memiliki tujuan seperti itu.


Malam itu, diantara banyaknya manusia yang berada disana, terlihat lima orang gadis cantik menempati salah satu meja VVIP yang tersedia dilantai dua.


Bahkan, semenjak mereka menginjakkan kaki dipintu masuk, mereka sudah berhasil menjadi pusat perhatian. Apalagi mereka memang cukup sering datang ketempat ini, jadi tentu saja beberapa orang mengenali mereka meski hanya sebatas tahu wajahnya saja.


Satu orang gadis yang terlihat lebih menarik perhatian, lebih menonjol dari yang lainnya. Wajahnya yang datar-datar saja, tatapannya yang horizontal, tidak terbaca dan penuh misteri dan terkesan menyorot dingin apapun yang ditatapnya. Namun tidak dapat dihindari, hal tersebut mampu membuat orang lain menatapnya dengan terang-terangan. Menatap penuh minat, penasaran, kagum, dan lainnya lagi.


"Elara Athanasia, lo selalu sukses jadi pusat perhatian." Ucap temannya sambil menuangkan champagne miliknya kegelas yang tersedia.


Sedangkan gadis yang namanya disebut hanya mengidikkan bahunya acuh. Sudah hal biasa bukan?


"Gosh, Carla siapa sih yang gak tahu Elara?" Sahut temannya yang lain, gadis yang biasa dipanggil Della itu merotasikan matanya ketika mendengar pernyataan Carla.


"Yash, she is one and only one. Athanasia-nya Deverson family right? Hahahaha."


"Loren udah, kalian jangan mulai." Peringat Elara. Sedangkan Loren masih tertawa atas pernyataannya sendiri.


"How about Truth or Dare?" Tanya


Seola yang sejak tadi hanya menyimak percakapan konyol teman-temannya yang selalu bisa membuat Elara kesal.


"Sorry guys, gue telat." Ucap seseorang yang baru saja tiba. Gadis itu langsung mengambil tempat duduk disamping Elara dan Loren.


"Apa?" Tanya gadis itu ketika semua sahabatnya menatapnya.


"Siapa lo?" Tanya Carla sarkas.


"Sialan, gue tadi ketemu temen lama dibawah. Sorry."


"Fandrea dengan segala relasi-relasinya." Komentar Loren.


Fandrea, gadis yang baru saja tiba itu mengidikkan bahunya acuh. "Mau ngapain?" Tanyanya ketika melihat Seola menaruh botol kosong diatas meja.


"Truth or Dare." Jawab Della.


Seola memutar botol pertama dan berhenti tepat kearah Loren.


"Gosh." Umpat Loren.


"Oke, Loren Truth or Dare?"


"Of course Dare." Sombongnya.


Semua sahabatnya tersenyum senang. Ini akan seru, lihat saja.


"Putusin pacar lo."


"Anjing, gak bisa gitu." Sergah Loren tidak terima.


"Chill, besok tinggal bilang Dare." Suruh Della.


"****, okay-okay." Pasrah Loren akhirnya.


Loren kemudian mengambil ponselnya dan segera menghubungi pacarnya.


"Halo?"


Teman temannya menyimak dengan seksama diantara kerasnya musik dj yang terputar di night club tersebut.


Seola mengkode Loren agar menggunakan mode speaker.


Loren yang mengerti langsung melakukan itu dan menaruh ponselnya diatas meja.


"Kenapa sayang?" Tanya Joy, kekasih Loren.


"Em, Joy kita putus." Ucap Loren cepat kemudian mematikan ponselnya. "Puas?" Tanyanya menatap teman temannya yang tertawa puas.


Ting....


Ting....


Ting....


Ting....


"Tuh, gue di spam." Kesal Loren.


"Bahahahaha.. ekspresi lo ngakak banget." Komentar Carla.


"Sialan emang kalian."


"Udah-udah, next, putar botolnya Ren."


Loren memutar botolnya dengan kesal.


"Oke El sayang, Truth or Dare?" Tanya Loren.


"Dare."


"Good, lo lihat cowok pakek kaos hitam yang ada disana?" Tunjuk Loren dengan kode matanya.


"Yang mana?" Tanya Elara. "Oh yang membelakangi gue?"


"Yash, yang rambutnya under cut, yang lagi ngerokok."


"Itu kakak kelas kita, anjir." Ucap Fandrea.


"Jadi gue harus ngapain dia?" Tanya Elara mengabaikan perkataan Fandrea.


"Kiss him."


"Wow, wow, wow." Sorak teman temannya kecuali Elara dan Loren.


Elara menaikkan alisnya merasa tertantang. For your information, Elara itu suka tantangan.


"Good idea. Hahaha, dia yang sering kita omongin El, dia banyak yang sukain, hebat kalau lo bisa cium dia." Ujar Fandrea.


"But, i don't know him." Jawab Elara kemudian berdiri.


"Iya, kan lo menutup diri kalo kita lagi ngomongin dia." Cetus Loren.


"Just kiss?" Tanya Elara pada Loren.


Sahabatnya cukup terkejut, mereka kira Elara tidak akan mau.


"In lip." Ucap Loren menaik turunkan alisnya menggoda Elara. Loren awalnya tidak serius, tapi setelah dilihat seru juga ketika Elara mengangguk dengan angkuh, khas Elara sekali.


"What the ****. Ren lo serius? Kita tahu dia, but, Elara enggak." Kata Carla, Elara memang tipe manusia yang tidak pernah memperdulikan orang lain yang tidak ada kaitannya dengan hidupnya. Salah satunya kakak kelas yang itu, Elara tidak tahu bahwa kakak kelas yang menjadi incaran dare nya malam ini adalah orang yang paling berpengaruh disekolah.


"Tapi sahabat kita itu udah kesana guys." Ucap Seola seraya menonton sambil menggigit bibir bawahnya.


"Anjir, anjir, gue nyimak, lo ya Ren kalau sampai ricuh disana." Ujar Della heboh.


Loren hanya menggigit bibirnya sedikit gugup. Entahlah, semoga saja Elara tidak membuat masalah besar disana.


Sedangkan Elara berjalan lurus menuju salah satu meja VVIP yang ditempati sekitar delapan orang laki laki.


Elara tahu siapa targetnya, salah satu kakak kelasnya yang terkenal dengan segala kelebihannya disekolah, ya meski totally bad boy.


Bukan, bukan Elara yang mencari tahu, tapi sering kali temannya membicarakannya dalam berbagai kesempatan ketika mereka berkumpul. Dan kakak kelasnya ini selalu menjadi topik utamanya. Dan jujur saja Elara muak akan hal itu, menurut Elara sahabatnya yang membicarakan kakak kelasnya ini terlalu berlebihan. Padahal sebenarnya laki-laki itu biasa saja.


Elara berdiri dua langkah dibelakang laki-laki itu. Elara memperhatikan laki-laki itu yang asik merokok sesekali menanggapi candaan teman-temannya.


Tepat ketika laki-laki itu menghadap kesamping, Elara mendekat, dan dengan gerakan cepat gadis itu menangkup tengkuk laki-laki itu, dan,


Cup...


Elara bisa merasakan semua mata menatapnya. Elara memberikan kedipan mata sebelum melepas kecupan singkatnya.


Tidak, Elara tidak menciumnya, hanya sedikit mengecupnya diujung bibir laki-laki itu.


Elara melihat laki laki itu menatapnya dengan campur aduk. Tapi lebih tepatnya marah dan dan emosi yang sangat jelas terpancar dimatanya.


Elara tidak begitu peduli, gadis itu meninggalkan laki-laki itu dan kembali kemeja teman-temannya. Bisa Elara lihat ekspresi aneh yang ditunjukkan oleh teman-temannya.


"El, lo bunuh diri." Ucap Della masih dalam mode speechless.


"Apaan sih! Kenapa kalian keliatan takut gitu? Dia masih manusia, selama masih makan nasi totally aman."


"Anjir, dia ngeliat lo!" Keluh Seola.


"Matanya tajem banget." Lirih Loren.


Elara menoleh sedikit kebelakangnya dan menemukan mata laki-laki itu menatapnya tajam, Elara memberikan kedipan mata lagi kemudian membuang pandangannya dari laki-laki yang masih menatapnya itu.


"****, mungkin lo pernah denger, tapi gue mau perjelas, dia kakel disekolah yang paling garang anjir, cowok aja mikir mikir kalau cari masalah sama dia, relasinya banyak, apalagi yayasan sekolah punya papanya." Tukas Seola menggebu-gebu.


"Dan lo beneran bunuh diri tadi." Lanjut Fandrea.


"Sumpah El, dia idaman cewek-cewek. Siapasih yang gak tau dia disini?!."


"Tapi gue gak tahu dia. Lagian ada bad boy idaman." Ujar Elara merotasikan matanya menjawab ucapan Loren.


"Dia kan langganan juara 1 pararel, El lo gak bisa tutup diri dari kenyataan terus." Ucap Della.


"Circlenya juga cakep-cakep." Lanjut Selona yang diangguki sahabatnya yang lain.


Tuh kan, mulai lagi. Elara mendengus malas ketika temannya tidak bosan-bosan membahas topik yang sama terus-menerus.


Elara heran, kenapa teman-temannya sangat mendambakan kakak kelasnya yang satu itu. Padahal menurut Elara biasa saja. Laki-laki seperti itu tidak akan berpengaruh dalam hidup Elara.