
Elara berdecak kesal ketika melihat cuaca pagi ini yang menurutnya sangat buruk. Bagaimana tidak, jika hujan deras mengguyur Ibu Kota dari semalam belum juga reda. Belum lagi hari ini Elara ada pengambilan nilai olahraga basket.
Mengingat Pak Rendi, guru olahraganya yang pasti tidak akan kehabisan cara untuk membuat semua siswanya tetap mengambil nilai meski hujan, badai, atau angin topan sekalipun.
"Kenapa lo?"
Elara melirik sinis laki-laki yang berdiri dibelakangnya. "Bukan urusan lo."
"Dih, mau dianter gak?"
Kali ini Elara menatap serius. "Beneran?"
"Oh tentu saja tidak, berangkat sendiri, gausah manja!"
Elara mendengus kesal, menghentakkan kakinya dengan kasar meninggalkan laki-laki itu dan segera masuk kedalam mobilnya.
Elara memasang seatbelt nya dengan kesal. Menatap malas lewat kaca spion kearah satu sosok yang sangat menyebalkan baginya.
Sedangkan disana, laki-laki itu memberikan smirk tipisnya mengejek Elara.
Laki-laki jangkung yang tadi itu termasuk kedalam daftar orang yang ingin Elara singkirkan dari bumi ini, tapi itu dulu, sekarang Elara berdoa setiap malam agar laki-laki itu panjang umur, dan sehat selalu.
Kenapa? Oh tentu saja karena sosok laki-laki itu adalah Alvanza Lazuary Deverson. Satu-satunya keluarga Elara.
Iya benar, kedua orang tua Elara sudah meninggal ketika Elara masih kelas 2 SD.
Sedih? Tentu.
Tapi bagaimanapun itu takdir. Elara sudah merasa terlalu banyak menangisi kepergian kedua orang tuanya.
Tinn....
Sialan, sepertinya Elara terlalu banyak melamun sehingga tidak melihat bahwa lampu lalulintas didepannnya sudah berwarna hijau.
Elara melirik motor dibelakangnya yang begitu Elara melaju, motor itu langsung menyalipnya dengan kecepatan kencang.
Elara hanya merotasikan matanya malas melihat hal seperti itu. Apakah orang-orang yang suka mengebut dijalan dengan kencang itu suka menguji malaikat maut?
...___________...
"El, sini."
Elara mengerutkan keningnya melihat Loren yang sudah menggunakan baju olahraga pagi ini. Gadis itu sudah duduk santai dibangkunya, Elara melirik sekitar dan mendapati hanya ada beberapa orang saja yang sudah berada dikelas saat ini. Entahlah kenapa tumben Loren seperti sangat semangat untuk pelajaran olahraga.
"Tumben." Ucap Elara ketika sampai dihadapan gadis itu.
"Hehehe, hari ini kan ngambil nilainya barengan sama kelasnya Kak Devon." Ujarnya sambil menyengir lebar.
"Itu sepupu lo bego." Kesal Elara.
"Sepupu jauh El, masih boleh lah ya."
"Lo udah punya pacar Ren, Joy mau lo kemanain?"
"Kalo bisa dua kenapa harus satu El!"
"Serah, gue mau ganti baju dulu." Ucap Elara kemudian meninggalkan Loren dikelas untuk menuju kamar mandi.
Elara melirik keadaan sekolah yang masih sepi, memang benar, Elara adalah salah satu murid yang paling tidak suka diganggu, apalagi dilihat dengan pandangan berlebihan yang kentara sekali menjatuhkan orang lain.
Elara salah satu siswa pintar yang sering diandalkan untuk mewakili sekolah dalam lomba, baik akademik maupun non akademik. Memang Elara mengerti dengan baik semua mata pelajaran, tapi hanya ada satu hal yang Elara tidak bisa, renang. Elara tidak bisa berenang, bahkan Elara benci melihat air kolam, ataupun air laut.
"Hai El!"
"Pagi Elara,"
Elara memberikan senyuman tipis kepada beberapa siswa yang menyapanya dikoridor, pergaulannya tidak jauh dari anak-anak berprestasi lainnya. Dan juga siswa-siswa yang sudah pasti famous.
Sebenarnya Elara tidak cuek, tapi gadis itu tidak pernah mau menyapa dan berkomunikasi lebih dulu, entah via chat atau secara langsung. Kecuali kepada orang-orang terdekatnya.
...________...
"Baik, jadi karena minggu lalu bapak tidak bisa mengajar kelas 12 IPS 1 jadi hari ini kalian bapak jadikan satu dengan kelas 11 MIPA 1, ada masalah?"
"Tidak Pak." Kompak seluruh siswa.
"El, liat cowok yang pakek jersey basket nomor punggung 8 disana." Bisik Fandrea ditelinga Elara.
Elara menurut, dan Elara menaikan sebelah alisnya ketika melihat kakak kelasnya yang kemarin dikecupnya itu berada disana.
"Terus?" Tanyanya malas kepada Fandrea.
"Astaga El, lo gatau dia siapa?" Bisik Carla.
"Itu yang lo cium kemarin El." Ujar Seola gemas.
"Oh."
"What the hell, Dell urus temen lo." Jengah Loren frustasi.
Della yang merasa namanya disebut hanya merotasikan matamya malas. "Kalian kayak gak tau Elara aja. Jangankan Kak Zevanno, tetangganya aja dia gak tau namanya siapa."
Kebetulan memang, Elara dan teman-temannya satu kelas, yaitu 11 MIPA 1. Sebelumnya Elara dan Della memang berteman dekat semenjak TK, dan di SMP berteman dengan Loren. Kemudian di SMA berteman dengan Seola, Carla dan Fandrea. Akhirnya mereka bersahabat sampai saat ini.
"Emang penting banget gue tau dia?" Tanya Elara malas sambil melihat Kakak kelasnya yang bergiliran mengambil nilai basket didepan sana.
"Astaga gak kuat gue liat Kak Devon." Gumam Loren.
"Ren lo kayak kekurangan cowok." Protes Fandrea malas. "Gue aduin Joy nih!" Lanjutnya lagi.
"Kalo ada sepupu sendiri kenapa harus cari orang lain." Jawabnya cuek.
"Cinta itu buta, lo nasehatin jungkir balik juga Loren gabakal berpaling dari kak Devon." Ucap Carla jengah.
"Ih gue cuma ngefans tau ga, kalo dapetin ya syukur, kalo gak juga yaudah masih ada Joy." Sahut Loren santai.
"Bodoamat Ren, anggep aja gue gak denger." Ketus Della malas.
"El, Kak Zevanno kayaknya gamungkin diem aja kalau ada yang ngusik." Celetuk Seola serius.
"Iya bener, gak mungkin mereka gak tau lo El, lo kan famous." Ucap Carla.
Elara mengerutkan alisnya, "Terus kenapa?"
"Ya pasti Kak Zevanno bakal ngelakuin sesuatu, gak mungkin dia biarin lo cium dia gitu aja terus dia diem aja, sama aja lo lecehin dia kan." Gemas Fandrea.
Elara hanya melirik temannya sekilas, "Gue gak cium dia, gue cuma kecup ujung bibirnya."
"Sama aja bego." Jengah Della.
"Denger ya El, dia itu famous banget, hobi balapan, entah mobil, motor, dan katanya juga balapan jet. Terus, dia anak pemilik yayasan sekolah, dia punya segalanya, dia pinter, dia keren, dia boyfriend able, dan yang paling penting, dia ganteng dan banyak yang suka." Jelas Fandrea panjang lebar sambil melirik Zevanno yang kebetulan mendapat giliran mengambil nilai. "Satu lagi, dia captain basket disekolah ini." Lanjutnya.
"Ada lagi, dia pewaris tunggal keluarga sultan, jangan lupain nama lengkapnya, Zevanno Aldebaran Davariz."
"Ya intinya dia masih manusia kan?" Tanya Elara jengah, yang benar saja, kenapa teman-temannya tidak pernah bosan membahas tentang laki-laki itu?
"Susah ngomong sama Elara." Pasrah Seola.
"Ck, iya El, terserah lo."
..._________...
"Absen selanjutnya, Elara Athanasia Deverson."
Elara yang merasa namanya dipanggil maju kedepan dan mengambil nilai seperti siswa lainnya.
"Itu Zev, adik kelas yang nyium lo." Ucap Kelvan antusias.
"Namanya Elara." Lanjut Devon.
"Pentolan kelas 11." Ucap Lucas.
"Cakep, pinter, bodygoals, pinter nyanyi, tapi yagitu, cueknya kayak lo." Tambah Daniel.
"Kalo gak salah Mama Papanya udah meninggal." Ujar Harry.
"Ck, kalian udah kayak main sambung kata anjir." Respon Samuel.
"Lo gimana sih? Lagian siapa yang gak tau Elara." Ketus Lucas.
"Tuh, Zevanno gak tau."
"Tau Zev?" Tanya Harry.
Zevanno hanya mengidikkan bahunya acuh.
"Dih sok cuek." Komentar Devon.
"Pinter juga Elara main basket ya?" Celetuk Kelvan yang memperhatikan Elara sejak tadi, ralat sebenarnya mereka semua memperhatikan Elara sejak awal gadis itu dipanggil. Tidak tertinggal Zevanno juga, hanya saja Zevanno masih menampilkan raut datarnya.
Zevanno mengawasi Elara dengan intens, bibirnya menampilkan smirk tipis miliknya. Dan sayangnya tidak ada yang menyadari apa yang terjadi dengan Zevanno.
I got you, little devil