
Zevanno tersenyum seperti orang bodoh ketika melihat Elara turun dari mobilnya dan menghampirinya dengan perasaan kesal.
"Sumpah, lo terbuat dari apa sih?! Bisa banget bikin orang kesel." Kesalnya berbicara didepan wajah Zevanno.
"Mau lo apa sih?"
"Jadi pacar gue ya?"
"Gila. Gue serius Zevanno."
"Gue juga serius."
"Basi tahu gak." Kesal Elara membuang pandangannya dari Zevanno.
"Kenapa? Apa susahnya jadi pacar gue?"
"Bego, lo bodoh apa gimana sih?!" Heran Elara, entah hal apa yang membuat Zevanno seperti kehilangan akal sehatnya.
"Sumpah ya, kalo orang lain lihat tingkah lo yang kayak gini bisa jadi mereka langsung ilfeel sama lo." Lanjut Elara heran.
"Kan gue udah bilang El, gue gini sama lo aja."
"Tapi gue risih Vanno." Tegas Elara.
Cewek itu menggaruk kasar rambutnya.
"Lagian kenapa lo bisa minta gue jadi pacar lo sih? Dapet pemikiran gila darimana lo?" Jengah Elara.
"Gue serius El."
"Ck, lo suka sama gue?" Tanya Elara asal.
Zevanno terdiam, entah kenapa pikirannya menjadi kacau.
"Diem kan lo. Lo lagi capek aja, makanya lo bingung harus ekspresiin kayak gimana, mending lo pulang, tidur, lo perlu istirahat." Ujar Elara dan langsung meninggalkan Zevanno yang masih terdiam disana tanpa pergerakan apapun, bahkan cowok itu sudah tidak memperhatikan Elara lagi.
Sedangkan Elara sudah masuk lagi kedalam mobilnya, cewek itu memasang sabuk pengamannya lagi dan bersiap menjalankan mobilnya.
Tinn..
Elara mengklakson Zevanno yang entah kenapa langsung membuat Zevanno melangkah mundur dan memberikan jalan untuk mobil Elara.
Elara menghela nafas lelah. Cewek itu meninggalkan club dengan perasaan tidak karuan.
..._______...
Elara mengernyitkan alisnya ketika melihat halaman rumahnya terdapat beberapa mobil terparkir rapi. Dilihat dari mobilnya yang bisa dibilang mewah, Elara yakin pemiliknya bukan orang sembarangan.
Elara segera turun dari mobilnya, kakinya melangkah dengan cepat memasuki rumah mewah yang terlihat diruang tamunya sudah terdapat beberapa tamu.
"Sini El." Panggil Alvan, kakaknya.
Elara tersenyum kaku kemudian mendekati kakaknya dan duduk disamping Alvan.
"Ini Elara? Udah gede aja ya." Tanya salah satu laki-laki paruh baya disana.
"Iya Om, emang waktu cepet banget." Jawab Alvan dengan kekehan kecil.
"Jadi gimana Al, kamu udah mikirin tawaran Om minggu lalu?" Tanya perempuan paruh baya yang juga ada disana.
Elara melihat ada satu sosok laki-laki paruh baya dan juga 2 perempuan yang usianya tidak jauh berbeda dari laki-laki itu.
"Oh ini sama Elara aja langsung Om. Saya gak pernah maksain atau mutusin sesuatu tanpa Elara." Jawab Alvan bijak.
"El, Ini Om Fero, nah Tante ini Tante Lusi sama Tante Fina, mereka berdua istri dari Om Fero."
Elara mengangguk mengerti dengan semua itu.
"Kamu mau gak Om jodohin sama anak Om?"
Elara yang tadinya diam dengan anteng langsung menatap semua orang disana dengan tajam.
"Gak." Jawabnya singkat. "Saya gak suka perjodohan, lagipula masih terlalu awal untuk membahas pasangan." Lanjutnya lagi dengan perasaan jengkel.
"Anak Om ada satu, dan dia laki-laki, dia akan mewarisi semua kekayaan Om, apa kamu tidak tertarik?"
"Mungkin diluar sana banyak ada yang tertarik, dan Om bisa menawarkannya kepada yang lain." Jawab Elara cepat.
"Begini El, kami rasa cuma kamu yang cocok bersama anak kami untuk memimpin perusahaan yang kami punya, kalian akan jadi pasangan yang serasi, anak kami juga pintar, tampan dan tentunya sesuai dengan latar belakang kamu."
Elara menghela nafas jengah, "Maaf om, tapi saya benar-benar tidak tertarik dengan hal ini."
Elara menghela nafas kasar dan melihat Alvan yang mengidikkan bahunya acuh, artinya kakaknya menyerahkan semua keputusannya kepada Elara.
"Oke, aku ketemu anak Om, tapi sekali aja ya, setelah itu kalo aku bilang gak cocok berarti gak akan ada perjodohan kayak gini lagi." Tegas Elara.
"Ya, tentu kamu bisa memutuskan El. Nanti Om kabari kapan kalian bisa bertemu."
Elara hanya mengangguk dengan ogah-ogahan, selanjutnya Elara terdiam dengan raut wajah datar, sekali dua kali menjawab jika ditanya, selebihnya Elara hanya diam.
Dua jam berlalu akhirnya mereka pergi dan meninggalkan Alvan yang duduk manis dengan secangkir teh pahitnya ditemani Elara yang menatap kakaknya dengan tajam.
"Apa?" Tanya Alvan santai.
"Lo apa-apaan sih? Udah tau jawaban gue bakal gak."
"El gue gaenak, dia temennya Papa, please ngertiin gue, lagian dia gak maksa."
"Lo egois tahu gak?!" Geram Elara kesal.
"El cuma ketemu sekali setelah-"
"Yayayaya, selalu aja gitu, lo kapan ngertiin gue sih?!" Dumel Elara memotong pembicaraan Alvan dan langsung naik tangga untuk menuju kamarnya.
...____________...
Zevanno menghempaskan tubuhnya asal kekasur apartment miliknya, pikirannya yang sudah kacau menjadi semakin kacau.
Elara, gadis yang selalu bisa membalikkan keadaannya dengan mudah.
"Vanno sayang? Kamu udah balik?"
Mata tajam Zevanno semakin menajam ketika mendapati sosok perempuan yang melahirkannya berdiri dipintu kanarnya.
"Mama sejak kapan disini?" Tanya Zevanno sembari mendudukkan badannya.
"Kenapa? Mama gaboleh kesini?" Ucap Mamanya dan mendekati Zevanno kemudian ikut duduk disebelah putranya.
"Hm, boleh, Mama boleh kesini kapan aja."
"Besok penerbangan Mama, kamu yakin gak mau ikut Mama?"
"Iya Ma, lagi bentar Vanno lulus, ini mau mikir lanjut kemana."
"Papa kamu kan saranin di Belanda sama California." Jawab Mamanya.
"Ck, gausah inget dia lagi Ma."
"Meski dia mantan suami Mama, dia tetep Papa kamu Vanno."
"Iya-iya tahu, tapi kalaupun dia Papanya Vanno, bukan berarti setiap kesalahannya bisa Vanno maafin Ma."
"Anak Mama udah dewasa ya. Maaf ya sayang, Mama gak bisa ngasi kamu keluarga yang utuh."
Zevanno menatap Mamanya dengan intens.
"Ma, Vanno yang minta maaf, Vanno baru tahu semua ini setelah sekian lama, Mama juga berhak dapet kebahagiaan Mama, dan itu gak harus selalu sama Papa." Jawab Zevanno yang membuat Mamanya terharu.
"Kalau kayak gini gak ada yang harus Mama khawatirin dari kamu kalo Mama jauh dari kamu. Kamu udah bisa nempatin emosi kamu ditempat yang tepat, pertahankan ya sayang."
Zevanno hanya berdehem singkat, Elara, gadis itu yang membuatnya seperti ini.
"Ma, definisi suka itu apa?"
"Suka? Kamu suka sama siapa?"
"Ck, jawab aja Ma."
"Suka, kalau menurut Mama, suka itu artinya kamu mau dia, kamu butuh dia, kamu tertarik sama dia, dan ketika kamu lihat dia sama orang lain kamu gak suka, kamu kesal, kamu marah, kamu maunya dia cuma buat kamu."
Zevanno memejamkan matanya lelah, perkataan Mamanya semakin membuatnya pusing.
"Jadi, kamu suka sama siapa?"
"Gak ada."
"Terus kenapa nanya gitu?"
"Random aja."
"Yaudah kalau kamu gak mau bilang, Mama cuma mau bilang, kalau kamu beneran suka, kejar dia, dapetin dia, jangan sampai kamu terlambat. Ya, karena patah hati itu obatnya cuma waktu, dan itu gak pasti kapan akan sembuh, jadi kejar dia selama kamu bisa kejar, jangan nyerah selama jalan kamu benar dan wajar."