
Cuaca siang ini di SMA Cakrawala sudah mulai panas, mengingat waktu sudah menunjukkan pukul sebelas, padahal tadi pagi hujan cukup deras, namun sekarang cuaca sudah berbanding terbalik.
Dan dijam yang sama, jam sebelas merupakan waktu istirahat kedua di SMA Cakrawala. Tentu saja banyak siswa siswi yang ingin pergi kekantin untuk sekedar makan siang atau membeli camilan.
Derap langkah kaki delapan laki-laki menggema disepanjang koridor sekolah. Laki-laki yang berjalan paling depan memberhentikan langkah kakinya ketika melihat mangsa yang sedari tadi dicarinya berjalan sendiri kearahnya.
Laki-laki itu maju dua langkah dari sahabatnya yang lain. Melipat tangannya didada dengan angkuh dan pandangan datar dan lurus menatap satu objek. Seorang gadis yang kemarin, dengan beraninya mencari gara-gara dengannya.
Sayangnya, gadis yang ditatapnya tidak menyadari bahwa dirinya sedang ditatap tajam oleh laki-laki yang paling berpengaruh disekolahnya.
Gadis itu sibuk melihat ponselnya tanpa memperdulikan sekitar, hingga tiba-tiba,
Bruk.....
"Aduh.." Ucap gadis itu memegangi dahinya yang terbentur dengan cukup keras.
Laki-laki itu memandangi gadis yang menabrak dada bidangnya dengan mandangan horizontal.
"Sakit astaga, lo ngapain diem ditengah jalan?!" Marah gadis itu menatap nyalang laki-laki didepannya.
"Remember? Lo yang kemarin di club kan?" Ucap laki-laki itu to the point, mengabaikan perkataan gadis itu.
Deg..
"H—ah? Apaan?! Bukan!"
"Yes, and you kiss me in this lip."
Gadis itu sedikit kaget, sedangkan laki laki didepannya mengeluarkan smirk tipisnya.
"Oh, you're Zevanno?" Ujar gadis itu sembari menetralkan wajahnya.
Zevanno menaikkan sebelah alisnya ketika baru kali ini seorang adik kelas berani langsung memanggil namanya tanpa ada kata 'kak' didepannya.
Menarik.
"And you're Elara, Elara Athanasia Deverson, huh?"
Gadis didepannya memutar bola matanya malas.
Catat, ini juga pertama kalinya Zevanno diberlakukan seperti itu.
"What do you want? I don't have time."
"Who the hell think you're?" Balas Zevanno tajam.
Apa gadis didepannya tidak segan sedikitpun dengannya? Biasanya gadis-gadis lain akan gugup karena terpesona dengannya, tapi lihat, gadis ini bahkan menatapnya tanpa minat.
"I'm human, and you too!" Ucap Elara diiringi senyum miringnya.
Gadis itu melipat kedua tangannya didepan dada sebelum mengangkat tangan kanannya dan memainkan kukunya didepan dagu.
"Dan ya, jangan berharap gue jadi cewek kurang belaian yang genit, centil, kalau didepan lo. No, you are wrong, because I'm not!"
Zevanno mengeluarkan senyum tipisnya.
"Little devil, lo berani ngomong gitu sama gue? You don't know me, girl!"
Elara mengerutkan keningnya, "I know, karena temen-temen gue yang ngomongin lo," Ujar Elara jujur. "Bukan gue." Tekannya lagi
Elara melirik sekitarnya, banyak ternyata yang memperhatikan interaksinya sejak tadi.
"Udah? Lo bisa minggir kan? Gak usah halangin jalan gue lagi."
"Belum, lo punya urusan sama gue Elara."
"Apalagi?"
"You make a mistake!"
"Gue gak ngerasa ngebuat kesalahan sama lo."
"But, you did."
"Kapan?"
"Club, you kiss me."
"No, I'm not kiss you."
"Yes,"
"No,"
"I don't care if you said yes or no, apologize now."
"No, itu cuma dare, bukan gue yang mau." Tolak Elara
"But, you do that." Zevanno memandang mata Elara dengan tajam. "Lo pikir lo siapa berani jadiin gue bahan dare?"
"I don't care all about you."
"Apologize!"
"No."
"Oke, tetap disini sampai seribu tahun mendatang."
"Fine, sorry." Jengah Elara
"No,"
Elara mengerutkan keningnya kesal. "Udah kan? Gue udah minta maaf Zevan."
Sekarang giliran Zevanno yang mengerutkan keningnya mendengar Elara memanggilnya dengan panggilan Zevan.
"Lo gak ikhlas." Zevanno berdehem sebentar, "Don't call me like that!" Lanjutnya kemudian.
Elara menghela nafas kesal.
"Kak Zevanno, I'm so sorry. Okey?"
"No,"
"****, I don't have to much time for this joke!" Umpat Elara kesal.
"Joke?" Ulang Zevanno. "Gue bukan orang kurang kerjaan yang sibuk ngejoke didepan cewek kayak lo." Lanjutnya.
"Terus ini apa? Tinggal kasi gue jalan buat lewat, beres, gue udah minta maaf, harusnya urusan kita selesai sampai disini." Jengah Elara.
"Gak, nanti malem gue tunggu lo di sirkuit veneza, lo gak dateng, berarti lo gak tulus minta maaf."
"Gak, enak aja, nggak ada hubungannya, ngapain juga gue harus ke sirkuit. Buang-buang waktu gue aja" Tolak Elara cepat.
"Terserah lo, tapi kalau lo dateng urusan lo sama gue kelar." Jawab Zevanno cuek "Tapi, kalau lo gak dateng, let's see!" Ujar Zevanno penuh penekanan kemudian melangkahkan kakinya menjauhi Elara.
"Sialan, siapa dia bisa merintah gue?" Gumam Elara.
Elara berbalik badan, hilang sudah niatanya kekantin hari ini. Menyebalkan sekali, entah mimpi apa Elara semalam sampai pagi ini harus berhadapan dengan manusia bernama Zevanno itu.
"Elara, gue bawa coklat nih buat lo."
Elara melirik seorang laki-laki yang menyusul langkahnya dari belakang.
Ah, Landra, ketua ekstra catur disekolahnya, laki-laki ini cukup gencar mengejarnya dari dua bulan yang lalu. Sungguh, apa Elara benar-benar tidak bisa hidup tenang ya?
"Ini coklat gue beli dari Swiss, weekend lalu gue kesana. Ambil ya?" Tanya Landra penuh harap ketika berada didepan Elara.
"Gue gak makan coklat." Kata Elara kemudian melanjutkan langkahnya, bahkan gadis itu tidak melirik sedikitpun coklat tersebut.
"Hah? Beneran? Gue kira lo suka coklat. Terus makanan yang lo suka apa?" Tanya Landra masih belum menyerah dan mengejar langkah Elara.
"Gak ada." Ketus Elara.
"Yaudah, kalo makanan yang sering lo makan mungkin?"
"Gak ada, gue gak pernah makan." Jawab Elara asal.
"Loh, bohong lo El."
Sekarang Elara memberhentikan langkahnya dan menatap Landra dengan pandangan malas.
"Iya gue bohong, gue udah bilang, jangan naruh harapan apapun ke gue, berhenti ya sampai disini?"
Elara menghela nafas, sudah sering hal ini terjadi kepadanya, tapi untuk menghindari hal yang Elara tidak harapkan terjadi, tentu saja cepat atau lambat Elara harus bisa lebih tegas.
"Gue gak mau ngasi harapan palsu dengan pura-pura suka sama apa yang lo lakuin, gue gak mau buat lo berharap terlalu banyak sama gue, emang bener hak lo mau ngejar siapa aja, dan sampai kapan aja, tapi sorry to say, gue juga gak mau ngeliat lo patah hati karena gue!"
Landra menatap Elara dengan pandangan sayu.
"Yah, gagal ya gue," Sedihnya.
"Enggak gagal, cuma belum berhasil, dan sulit buat berhasil, bahkan engga mungkin Lan." Ucap Elara kemudian mengkahkan kakinya meninggalkan Landra.
"Ya sama aja El, gagal itu namanya." Gumam Landra sambil memakan sendiri coklat miliknya.
Memang ada beberapa hal yang harus dijelaskan dengan sedikit kejam sebelum menghasilkan luka yang terlalu dalam.
..._______...
Elara menghela nafas jengah ketika sahabatnya menatapnya terus-terusan sejak Elara memasuki ruangan kelas dan duduk dibangkunya dari 20 menit yang lalu.
"Apa?" Tanya Elara akhirnya.
"Gue gak heran lo buat anak orang patah hati." Mulai Fandrea.
"Iya udah banyak korban lo." Lanjut Carla.
"Gue gak pernah ngasi harapan." Ketus Elara malas.
"Oke lupain soal ketua ekstra catur itu. Lo ngapain gak jadi kekantin tadi?" Pancing Della.
"Males."
"Bohong banget." Ujar Carla cepat.
Elara hanya mengidikkan bahunya acuh
"Tadi lo ngapain tadi sama Kak Zevanno dikoridor?" Tanya Seola akhirnya.
Elara menghela nafas jengah, sudah menduga hal ini akan terjadi.
"Dia nyuruh gue minta maaf soal kejadian di club." Ujar Elara sesingkat mungkin, Elara sungguh tiak minat membahas seditikpun topik tentang Zevanno.
"Itu aja?" Tanya Loren tidak percaya.
Elara mengangguk acuh.
"Kok ngomongnya lama El, 20 menit." Tanya Carla mengintimidasi.
Astaga Elara ingin teriak saja rasanya, bagaimana mungkin ada orang kurang kerjaan yang memantau waktu berinteraksinya dengan Zevanno tadi? Dan sialnya orang-orang kurang kerjaan itu adalah para sahabatnya.
"Dia nyuruh gue ke sirkuit nanti malem."
"Oh wow, wait, wait, beneran?" Tanya Loren antusias.
Lagi-lagi Elara hanya mengangguk.
"Lo harus dateng." Putus Fandrea yang disetujui yang lain namun Elara menatapnya keberatan.
"Gak."
"What the **** El, ini kesempatan emas." Ujar Della dramatis sambil menggerakkan tangannya diudara.
"Gue bukan cewek yang suka cari kesempatan kayak kalian." Cuek Elara.
"Gini nih, susah ngomong sama cewek yang apa-apa sempurna banget, jadinya diajak nyari kesempatan instan sekali aja gak mau." Ketus Seola.
"Lo beneran berani nolak perintah Kak Zevanno?" Tanya Loren.
"Itu bukan perintah, emang dia siapa merintah gue?"
"Astaga El, dateng aja lah, kita temenin." Saran Seola.
"Itu sih kalian yang pengen."
"El, emang ngapain lo disuruh ke sirkuit? Kok dia tau kita sering ke sirkuit?" Tanya Carla penasaran.
"Apasih yang Kak Zevanno gak tau." Ucap Fandrea sambil merotasikan matanya malas.
"Dia bilang kalo gue dateng, masalahnya kelar. Padahal menurut gue permasalan di club itu bukan hal yang besar."
"Nah, ada maunya nih Kak Zevanno." Tebak Loren. "Be careful El, Kak Zevanno orangnya gak bisa ditebak." Lanjutnya lagi.
"Dateng aja El, soalnya setau gue, berurusan sama Kak Zevanno itu gak pernah gampang kelarnya." Saran Della.
"Bener tuh, lagian kita udah biasa main di sirkuit, gak mungkin juga lo dijak balapan. Dia gak nyari lawan cewek El." Ucap Fandrea.
"No, bukan itu masalahnya, gue gak ada masalah sama sirkuit, gue gak mau aja dia seenaknya ngatur gue, tadi gue udah minta maaf, harusnya cukup kan." Jelas Elara agar sahabatnya tidak mendesaknya terus-terusan.