ZEVANNO ALDEBARAN

ZEVANNO ALDEBARAN
[11 - Hug]



"Elara."


Elara yang saat itu baru keluar dari kamar mandi dan merasa namanya dipanggil dengan cepat dia melihat kesumber suara.


"Hem?" Tanyanya malas.


Jujur saja, moodnya seharian ini sungguh tidak baik, bisa-bisanya Elara tidak bisa menahan kekesalannya jika ada yang mengganggunya, padahal biasanya Elara akan membalas dengan diam, diam-diam menghancurkan maksudnya.


"Gue gak punya waktu, kalo gak penting kapan-kapan aja." Lanjut Elara ketika orang didepannya hanya diam saja.


"E-eh enggak, gini.."


"Gimana Ness?" Tanya Elara gregetan dengan gadis itu.


"Lo bisa nolongin gue?" Tanya Nessa.


Elara mengerutkan alisnya binggung.


"Bisa gak lo ngomonv to the point, gue lagi gak pengen mikir." Sahutnya sewot,


"Em gini, kayaknya cuma lo yang gak suka sama Zevanno."


Elara mengerutkan alisnya bingung, random sekali pertanyaan itu.


"Lo mau ngomong apa sih?" Tanya Elara tidak sabaran.


"Gini, gue takut sama Zevanno."


"Kenapa?" Tanya Elara cepat.


"Mama gue selingkuh sama Papanya Zevanno. Gue dipaksa pindah kesini sama Mama gue, gue takut, gue introvert selama ini gue gapunya temen, dan gue gak bisa terus-terusan kayak gini." Cerita Nessa dengan cepat.


"Gamila? Mama lo Gamila Hannah?"


"Iya, kok lo tau?" Tanya Nessa heran.


"Gak penting darimana gue tau. Jadi urusannya sama gue apa?"


"Gue takut sama Zevanno El."


"Lo tau perbuatan Mama lo salah? Meski gue gak tau apa yang melatarbelakangi itu semua, tapi Papanya Zevanno udah beristri."


"Tau, Mama gue udah gak bisa dibilangin, kalo gue protes, dia main fisik ke gue." Jawab Nessa lemah.


"Jadi cewek gak boleh lemah, dan kalaupun Zevanno marah ke lo, gue rasa gak bisa salahin Zevanno juga, dan ya, lo harus pertanggungjawabin semua yang ada disini."


"El gue-"


"Jangan takut selagi lo bener Ness, dan ya, inget kata-kata gue, jadi cewek tu harus kuat, lo boleh nangis, tapi pada waktunya." Ujar Elara tegas kemudian berjalan meninggalkan Nessa.


"El."


Langkah Elara kembali terhenti ketika didepan sana ada Zevanno yang memanggilnya dan cowok itu hanya sendiri, tidak seperti biasanya dimanapun ada Zevanno, pasti ada sahabatnya.


"What?" Tanya Elara ketus.


Zevanno berhenti dihadapan Elara, matanya melirik Nessa yang menunduk ketakutan.


"Ngapain?"


"Gak penting banget pertanyaan lo, minggir." Jawab Elara kesal.


Zevanno hanya matap Elara dengan datar, ketika cewek itu berjalan melewatinya dengan santai.


"Lo. Dengan sukarela lo masuk kesini heh?!" Tanya Zevanno sinis kepada Nessa yang terdiam membisu.


"Maaf kak."


"Cih, maaf?"


"Kak kita disini sama-sama korban." Ujar Nessa sedikit berani karena kata-kata Elara tadi.


"Bacot." Umpat Zevanno, "Mama sama anak sama aja, sama-sama gak tau diri." Lanjut Zevanno lagi.


Nessa menunduk takut, cewek itu benar-benar takut dengan aura Zevanno saat ini.


"Benci banget gue lihat muka lo."


Zevanno masih menyuarakan kebenciannya kepada Nessa, sedangkan gadis itu menunduk menahan tangisnya berharap ada seseorang yang dapat menyelamatkannya.


"Zevanno enough."


Zevanno mengalihkan pandangannya yang tajam dari Nessa kearah Elara yang tiba-tiba sudah berdiri dibelakangnya.


"Nessa, masuk kelas." Suruh Elara.


"Elara-"


"Masuk kelas Ness." Tegas Elara mengabaikan ucapan Zevanno.


Nessa mengangguk kemudian cewek itu berlari kecil kearah kelasnya.


"What?" Tanya Elara ketika Zevanno menatapnya tidak terima.


Elara melipat kedua tangannya didepan dada.


"Bukan cuma lo yang terluka, jangan seegois itu, Vanno."


Zevanno menghela nafas lelah.


"Lo gak tau perasaan gue El."


"Tau, jangan lampiasin ke dia, cari orang yang emang bener-bener dalang dibalik semua ini."


"Take ur time."


Elara melihat Zevanno yang juga menatapnya dengan intens. Cewek itu berbalik dan hendak berjalan kekelasnya.


"Elara."


Elara berhenti ketika Zevanno memanggilnya lagi.


"Gue udah kasi izin mereka cerai. Mama mau balik ke Italia, Papa gak pernah pulang, menurut lo gue harus kemana? Gue gak punya tempat lagi yang bisa gue bilang rumah."


Elara berbalik menatap Zevanno, cewek itu membenarkan poninya, menghela nafas sebelum menyuarakan ucapannya.


"Pulang ketempat dimana lo bisa ngerasa aman. Dan jangan pernah nyakitin orang lain cuma buat kuka yang penyebabnya itu lo sendiri."


Setelah mengatakan hal itu Elara berbalik meninggalkan Zevanno.


Namun baru beberapa langkah, Elara seketika tubuh Elara menjadi tegang ketika Zevanno memeluk ya dari belakang.


"El lo terbuat dari apa sih?!" Bisik Zevanno ditelinga Elara.


"Jangan kurangajar ya lo?! Nyari kesempatan banget jadi cowok." Jawab Elara sambil berusaha melepaskan pelukan Zevanno.


"Vanno awas ada CCTV, stop please."


Zevanno hanya diam mendengar celotehan Elara.


"Zevanno sialan." Sewot Elara kesal.


"Bentar aja El, gue tenang banget kalo sama lo, lo gak ada niatan jadi rumah gue?"


"Dasar cowok gila." Jawab Elara sambil menginjak kaki Zevanno, bukanya melepaskan pelukannya, Zevanno malah semakin mengeratkan pelukan itu.


"Sumpah, lepasin gue sekarang atau gue gak bakal pernah nganggep kita kenal?!"


Zevanno langsung melepaskan pelukan itu dan berlagak cool seperti tidak terjadi apa-apa.


"Cowok gila, peluk cewek sembarangan." Kesal Elara berjalan meninggalkan Zevanno sembari mengusap kasar seragam sekolahnya, seolah-olah membersihkan bekas Zevanno yang memeluknya tadi.


"Terus lo apa? Cewek gila kuadrat yang cium cowok sembarangan?"


Elara menghentikan langkahnya ketika mendengar kalimat Zevanno.


"Apa?!" Kesal Elara. "Sekali lagi lo ngomong gue pastiin sepatu gue bakal nempel dimulut lo." Ancamnya tegas.


Elara kemudian berjalan cepat meninggalkan Zevanno yang menatapnya dengan alis terangkat.


Zevanno melihat sekitar dan tidak ada siapapun uang melihat kejadian tadi, baguslah, setidaknya hanya Elara yang boleh tau sifat lain dari dirinya.