ZEVANNO ALDEBARAN

ZEVANNO ALDEBARAN
[06 - Insane]



Elara melirik jam dinding yang terpasang apik disalah satu dinding kamarnya.


19.50


Berarti kurang sepuluh menit dari sekarang Zevanno akan menjemputnya, begitu?


Tapi Elara tidak menghiraukan hal tersebut, karena bagaimana ya, Elara saja tidak memberitahukan alamatnya kepada Zevanno, begitu juga Zevanno tidak ada bertanya.


Jadi bagaimana—


Ting!!


Elara segera meraih ponselnya yang berbunyi menandakan notifikasi masuk dari salah satu aplikasi chat miliknya.


08xxxxxxxxxx


Turun


Elara sedikit kaget, tidak, bukan, ini bukan Zevanno kan?


Gadis itu berlari kebalkon kamarnya kemudian melihat halaman depan mansionnya.


Holly ****!


Elara melihat Zevanno berada didepan pintu utama mansionnya. Elara melihat Zevanno dari kejauhan dengan tatapan kesalnya. Bagaimana bisa laki-laki itu mengetahui alamatnya dan juga nomor ponselnya.


Terpaksa Elara melangkahkan kakinya dengan setengah hati untuk menuju lantai satu dengan perasaan kesal. Ada masalah apa sih Zevanno dengannya? Kenapa Elara harus berurusan terus dengan manusia satu itu.


"Ayo." Ajak Zevanno ketika Elara baru saja muncul dihadapannya.


"Gue gak bisa, gue lagi sibuk."


Zevanno yang sejak tadi menaruh perhatiannya kepada ponselnya sekarang menatap Elara dengan tajam.


"Gue gak nerima penolakan."


"Gue gak nerima pemaksaan." Balas Elara sambil melipat tangannya didada.


Zevanno memasukkan ponselnya kesaku celananya, laki-laki itu dengan cepat menarik lengan Elara dan menyeretnya dengan paksa.


"Sialan, lo kira sopan gini?" Ucap Elara berontak.


"Masuk." Perintah Zevanno ketika Elara sudah berada dipintu penumpang mobil laki-laki itu.


"Gak."


"Mau dipaksa lagi? Oke." Zevanno hendak mendorong Elara masuk kedalam mobil, namun gadis itu nendang dengan keras kaki Zevanno yang membuat Zevanno berhenti dengan pergerakannya. Bukan karena sakit, tapi baru kali ini Zevanno berhadapan dengan gadis seperti ini.


"Stop! Berhenti paksa gue karena gue gak bakalan mau pergi sama lo, sekalipun lo jungkir balik maksa gue."


"Kalau gitu gue bakal bawa lo pergi tanpa persetujuan lo." Ujar Zevanno cepat dan tetap mendorong Elara masuk kedalam mobilnya.


"Setelah malam ini lo sama gue gak ada urusan kan?" Tanya Elara jengah, setidaknya jika malam ini dia menurut maka malam-malam berikutnya hidupnya akan tenang.


"Hm."


"Gue gak mau pake baju gini ke sirkuit." Ujar Elara ketika Zevanno hendak menyalakan mobilnya.


Zevanno melirik Elara yang hanya menggunakan crop top putih dengan celana pendek sepaha.


Laki-laki itu menghela nafas jengah. "Gue tunggu 5 menit."


...________...


"Lo mau balapan?" Tanya Elara ketika mereka mulai memasuki area sirkuit.


"Hm."


"Terus gunanya gue apa?"


Zevanno tidak menjawab, tapi hanya menampilkan smirk tipisnya.


"Lo—"


"Panggil nama gue yang bener." Sela Zevanno cepat.


Elara merotasikan bola matanya malas. "Gak jadi." Ucapnya malas.


Zevanno tidak peduli, laki-laki itu memberhentikan mobilnya dimana sahabatnya yang lain sudah berkumpul.


"Zevanno, nice to see u bro!" Sambut temannya bahkan ketika Zevanno baru membuka pintu mobil untuk turun.


"Wah siapa nih?" Tanya salah satu laki-laki disana melirik Elara dengan matanya.


"Elara, Elara Deverson." Jawab Devon yang ada disana, juga sahabat Zevanno yang lain.


"Deverson? Serius? Buset anak emas Deverson emang maunya sama yang selevel." Heran salah satu laki-laki disana.


Karena menurut informasi yang beredar, putri satu-satunya dikeluarga Deverson itu tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun. Hidupnya terlalu tertutup untuk digapai.


"Jadi juga." Celetuk Vernon menaik turunkan alisnya menggoda.


"Sialan, Zevanno sekalinya bawa cewek kelasnya gak main-main."


"So, kalian berdua pacaran?" Tanya salah satu teman Zevanno yang lain.


"No!" Jawab Elara cepat.


"Oh, masih pendekatan ternyata."


"Pertama kali nih, Zevanno bawa cewek." Celetuk Harry.


Elara menatap semua teman Zevanno dengan pandangan tanpa minat. "Mereka gak punya prmbahasan yang lain?" Tanya Elara kepada Zevanno.


Zevanno hanya mengidikkan bahunya acuh.


"Zevanno nih bos, senggol dong!" Heboh Kelvan.


"Oh ini kan yang mojok berdua dilapangan basket tadi?" Canda Daniel yang langsung mendapat tatapan tajam dari Zevanno dan juga Elara.


"Mojok? Wah ngapain kalian main mojok? Kata Papa Wello gak boleh lo."


Seketika semua mata menatap satu sosok laki-laki yang duduk diatas motornya sambil meminum susu kotak rasa coklat.


Kelvan memberikan senyum manisnya. Laki-laki itu memegang bahu Ello dan berbisik. "Kan gue udah bilang kalo gak disuruh ngomong lo jangan ngomong." Ucapnya sehalus mungkin.


"Woi, siapa yang ngajarin lo begituan?" Tanya Daniel heran.


"Ada, Samuel bilang kalo cewek sama cowok berduaan bisa aja hamil, makanya gue gak berani deketin cewek nanti hamil."


Semua yang ada disana menghela nafas lelah, dan pelaku utamanya, Samuel hanya menggaruk kepalanya asal.


"Bego lo." Umpat Vernon sambil menendang kaki Samuel.


"Gue kira otaknya nyampe ngab." Jawab Samuel acuh.


"Buktinya otaknya emang kaga nyampe, lo ngomong sama dia jangan ngadi-ngadi, lo ngomong a yang disimpen diotaknya b." Jengah Devon.


"Jangan gituin anak orang woi, engga boleh, kasian otaknya baru tumbuh." Lerai Harry yang mendapat tatapan tajam dari Zevanno pertanda mereka harus berhenti membicarakan Wello.


Wello Fariarta Derion, bagian dari teman perkumpulan Zevanno namun berada disekolah yang berbeda dengan Zevanno dan sahabatnya. Memang teman-teman akrabnya sudah mengenal Wello dengan tingkah polosnya yang pikirannya yang kadang seperti anak kecil. Tapi jangan salah, jika Wello mengamuk, bisa saja musuhnya dibuat meninggal atau minimal 3 bulan koma.


Tidak banyak, sekitar 25 laki-laki malam itu yang berkumpul bersama Zevanno, dan mereka juga sudah cukup akrab meski berbeda sekolah.


Suasana sirkuit yang cukup ramai malam ini seperti biasanya, karena selain kelompok perkumpulan Zevanno ada juga beberapa kelompok lain yang akan ikut balapan nanti. Namun yang berbeda kali ini bukan hanya Zevanno yang menjadi pusat perhatian.


Zevanno menyalakan rokoknya dan berjalan kearah Elara yang hanya diam disamping pintu penumpang dengan melipat kedua tangannya didada dan tidak ketinggalan tatapan datarnya yang tidak dihilangkan sedetik pun. Tapi justru itu malah membuatnya semakin terlihat menarik dimata orang lain. Elara bukan tipe orang yang banyak tingkah, tidak sengaja mencari perhatian atau apapun. Tapi justru Elara yang diam saja bisa mendapatkan banyak perhatian. Entah mengagumi kecantikan gadis itu, atau hanya karena penasaran dengan sosok Elara yang cukup tertutup tapi sering dibicarakan oleh orang-orang. Terutama kaum laki-laki.


Elara melirik Zevanno yang ikut bersandar disampingnya dengan salah satu tangan yang memegang rokok, dan satunya lagi bergerak merangkul pundak Elara.


Sialan, mereka benar-benar menjadi pusat perhatian yang paling diminati malam ini.


Elara melirik tangan Zevanno, "Nggak usah sok akrab." Ketusnya.


"Wowww." Sorak teman-teman Zevanno.


"Tertolak hm?" Canda Harry.


Zevanno hanya cuek dan tetap menaruh tangannya dipundak Elara dengan santai.


Elara yang saat itu menggunakan celana jeans yang oversized dan juga crop top hitam tanpa tali dan hanya ditambah outer jaket jeans berwarna hitam yang senada dengan celananya, dan jangan lupa juga sepatu boots hitamnya, yang membuat Elara hampir menyamai tinggi Zevanno.


Sebenarnya tidak heran jika Elara menjadi pusat perhatian karena selain gadis itu yang memang sialnya sangat cantik, ditambah kehadirannya bersama Zevanno.


"Ini tugas lo." Bisik Zevanno ditelinga Elara.


Elara tidak begitu paham apa maksud Zevanno, tapi tiba-tiba ada empat gadis yang datang mendekati mereka, ah tidak, hanya mendekati Zevanno.


"Zev, nanti aku nemenin kamu balapan boleh?" Tanya salah satu gadis yang menggunakan crop top tanpa outer dan juga rok mini setengah paha. Dan jangan lupa rambutnya yang di cat merah terang.


*****! Komentar Elara dalam hati.


Zevanno semakin merangkul Elara hingga tubuh mereka berdekatan Zevanno mengkode Elara dengan matanya. Elara yang mengerti maksud Zevanno hanya memutar bola matanya malas.


"He's with me gurl." Ketus Elara yang terlampau datar, membuat semua kalangan yang berada disana menjadi takjub.


Gadis itu melirik Elara dengan pandangan tidak suka. "Zev, kamu bawa siapa? Aku udah dandan cantik buat nemenin kamu malam ini."


Lagi, Zevanno hanya diam dengan pandangan lurus.


"Hey girl, I don't fucking care all about you. Can you go away from here?" Tandas Elara lagi seakan kata-kata barusan sudah biasa keluar dari bibir manisnya. Ayolah ini salah satu sifat Elara, jika sudah kesal maka ucapannya akan mudah menyakiti hati orang lain.


"Zevv." Rengek gadis itu menatap Zevanno.


Zevanno tidak melihat sedikitpun kearah gadis itu, Zevanno malah menatap Elara yang sepertinya kesal sendiri.


Gadis dengan rambut merah itu menghentakkan kakinya kesal karena tidak mendapat perhatian dari Zevanno kemudian pergi menjauhi tempat itu bersama teman-temannya.


Elara kembali menghembuskan nafasnya kesal.


"Cih," Decih Elara pelan.


"Fans lo gila semua." Lanjut Elara kesal.


Zevanno menaikkan alisnya, "Karena itu gue juga perlu cewek yang sama gilanya buat nyingkirin mereka."


What the hell.


Jadi Zevanno menganggap Elara gila?


"Kalau cewek yang disebelah lo ini gila, mungkin dia tanpa pikir panjang, bisa aja cakar lo sampai mampus saat ini juga." Jawab Elara.


Zevanno meliriknya lagi, "You're very insane El, because only you dare talk to me like that."


"Kapan gue bisa pulang?"


"Nanti."


"Iya nantinya kapan? Jam berapa?"


"Setelah gue balapan."


"Lo—"


"Panggil nama gue yang bener." Sela Zevanno cepat.


"Kak Vanno balapan terus tiap malem?"


"No, kalau gue mood aja."


"Oh— gue ngapain disini kalau lo balapan?"


"Ikut gue balapan, kali ini balapan mobil."


"Enggak. Gila aja lo, gue gak mau mati muda."


"Gue gak bakal bunuh diri El."


"Kali aja lo dendam sama gue."


"Dendam? Dendam soal apa? Soal lo cium gue?"


"Damn, kak itu gak kena bibir." Bantah Elara tidak terima.


"Kena."


"Dikit." Lirih Elara.


"Tetep aja namanya ciuman."