ZEVANNO ALDEBARAN

ZEVANNO ALDEBARAN
[09 - Ice Chocolate]



Elara melihat kakaknya dengan pandangan malas, kakaknya itu sedang menerima panggilan dari ponselnya sembari mengendarai mobilnya dengan kecepatan kencang. Iya, kakaknya pagi ini bangun terlambat untuk meeting dikantornya. Sangat tidak disiplin.


Elara kembali melirik kakaknya yang baru saja memutus panggilan secara sepihak. Elara bisa menebak pasti kakaknya memarahi sekretarisnya karena tidak membangunkannya pagi ini.


"Gue mau dibawa kemana?" Tanya Elara malas.


"Rapat." Jawab Alvan singkat.


"Lo tau kan gue gak suka yang kaya gitu."


"Ya gue perginya lumayan jauh." Ucap Alvan.


"Ya kenapa? Lo aneh banget." Heran Elara, karena pagi tadi tumben sekali Alvan memintanya untuk ikut menemaninya rapat.


"Gue gak bisa kalo lo baru sembuh tapi gue tinggal jauh."


Elara melihat Alvan dengan pandangan aneh.


"Lo kenapa?"


"Gue gak apa-apa, tapi kadang otak lo yang bermasalah."


"Maksud lo apaan ngomong gitu?" Kesal Elara.


"Terakhir kali lo sakit, waktu lo baru sembuh, lo malah hiking ya setan, gimana gue gak jantungan. Mending sekarang gue ajak lo kemana-mana kalo lo gak sibuk sekolah."


Elara menghela nafas jengah, sudahlah Elara mengikut saja jika sudah begini.


"Lo kenal sama Zevanno?" Tanya Alvan tiba-tiba.


"Gak."


"Gak gimana, orang dia yang nganterin lo pulang waktuni."


Elara menghela nafas jengah. "Gak tau, gak penting."


"At least lo bilang makasih sama dia." Nasehat Alvan.


"Iya nanti."


"Iya-iya aja lo."


"Ck nanti kalo ketemu gue bilang makasih."


..._________...


Zevanno merobek surat ditangannya dengan kasar. Pagi ini cowok itu kembali mendapati pertengkaran hebat antara Mama dan Papanya.


Sebenarnya Zevanno tidak akan membesarkan hal ini jika saja Zevanno tidak tahu kenyataan yang terjadi sebenarnya.


Wajar jika Mamanya meminta cerai, bagaimana bisa seseorang bertahan dengan orang yang jelas-jelas menjadi alasan terbesar sakit hatinya.


Tapi disisi lain Zevanno masih belum bisa menerima semua ini, ditambah Papanya yang tidak ada melawan sedikitpun tentang permintaan cerai Mamanya. Papanya malah sibuk membela dirinya dengan pernyataan yang entah Zevanno tidak tahu haru percaya atau tidak.


Dengan amarah yang memuncak Zevanno merebut paksa surat cerai yang hendak ditanda tangani oleh Papanya. Zevanno pergi tanpa kata, meninggalkan hal yang tidak pasti yang terjadi dimansion utama keluarga Davariz pagi tadi.


Tangannya saat ini membuang asal robekan-robekan kecil surat itu.


Zevanno belum siap, dan dia mungkin tidak akan pernah siap untuk menyambut kenyataan bahwa kedua orang tuanya akan bercerai.


Sejak dulu Zevanno dididik dengan keras oleh Papanya, tapi Zevanno juga dididik dengan lembut oleh Mamanya. Jadi sekejam apapun Zevanno terlihat, cowok itu juga memiliki sisi rapuh yang hanya dirinya saja yang tahu.


"Lo punya alter ego apa gimana?"


Zevanno sedikit kaget ketika mendengar ada suara orang lain dibelakangnya.


Demi dewa, Zevanno sudah pergi ketempat terpencil di ujung kota agar tidak ada yang bisa mencarinya, tapi kenapa cewek ini selalu ada didekatnya.


"Lo ngapain disini?" Tanya Zevanno sinis.


"Bukan urusan lo."


"Pergi." Usir Zevanno kesal, cowok itu tidak suka jika ada yang melihatnya ada dititik terlemahnya.


"Lo gak bisa merintah orang seenaknya gitu."


"Ck, Elara pergi dari sini."


Elara, cewek itu mengalihkan pandangannya dari pantai didepannya, kakinya melangkah mendekati Zevanno yang duduk diatas bebatuan dipinggir pantai.


Zevanno merasa dejavu, sama seperti kejadian didanau waktu itu, pertemuan yang tidak direncakan oleh mereka.


"Gue gak-"


"Gue maksa."


"Gue gak suka coklat."


"Do i care? Di danau aja lo habisin." Jawab Elara sarkas.


"Lo gak berhak ngatur orang seenaknya Elara."


"Gue gak ngatur." Elak Elara.


"Lo-"


"Anggep aja ucapan makasih gue karena lo nganterin gue pulang waktu gue sakit, ya walau lo maksa dan bukan gue yang minta." Kata Elara cepat memotong penolakan Zevanno.


Zevanno hanya melirik Elara dengan malas, "Terserah."


Setelahnya Elara berbalik berjalan hendak meninggalkan Zevanno.


"Hemm, lo boleh disini" Ujar Zevanno pelan tanpa melihat kearah Elara.


"Ya kalo lo mau." Lanjut Zevanno lagi ketika tidak mendapat respon apapun dari Elara.


"Buat apa?" Tanya Elara, "Emang lo ada masalah apa?" Lanjut Elara lagi.


"Lo gausah pura-pura gatau." Ucap Zevanno malas, karena bagaimanapun Zevanno tidak bisa berbohong, cewek didepannya ini bisa memahami dirinya dengan sangat baik meski mereka belum pernah berinteraksi sebelumnya.


"Lo gak punya niatan buat bunuh diri kan?" Tanya Elara.


"Gue masih waras."


Elara melangkahkan kakinya dan duduk disamping Zevanno.


"Lo ngapain bisa sampai disini?"


"Kakak gue lagi meeting di Restoran Seafood disana." Tunjuk Elara.


"Terus lo jalan kesini?" Tanya Zevanno karena tidak melihat kendaraan Elara.


"Iya, maunya gue duduk healing, eh malah ketemu manusia yang lagi banyak beban." Ujar Elara lancar tanpa takut Zevanno marah.


"Ck, dunia sempit ya, diantara jutaan tempat kenapa kita harus ketemu?" Tanya Zevanno.


"Yang salah tempatnya? manusianya? atau sebenernya, emang gak ada yang salah?" Tanya Elara yang membuat Zevanno menatapnya dengan intens.


Elara tersenyum tipis, "Jangan dipaksa Vanno, kalau emang udah gak bisa lagi, kenapa harus dipaksa? Lo jangan egois, disini bukan cuma lo yang terluka." Kata Elara pelan.


Cewek itu memandangi hamparan laut yang luas didepan sana.


"Gue gak siap." Ucap Zevanno lirih.


"Gak ada orang yang benar-benar siap buat sebuah luka." Tandas Elara.


"Kalo gue bisa milih, gue juga pengen nyerah sama kehidupan gue. Gue capek, tapi gue gak bisa berenti."


"Setidaknya, lo bisa memutuskan mana yang terbaik buat Mama lo, buat Papa lo, dan juga buat lo sendiri. Dengan memaksa mereka untuk tetap bersama, lo yakin semua bakal baik-baik aja sama seperti semula?"


Elara melihat Zevanno dengan intens.


"Lo tau Mama sama Papa gue-"


"Iya, keliatan dari surat yang lo buang-buang." Jawab Elara menyela perkataan Zevanno.


"Diantara semua manusia, cuma lo yang tau apa yang terjadi dibalik keluarga Davariz yang selalu keliatan harmonis di berita entertainment." Ujar Zevanno kesal.


"Gue gak minta, lo sendiri yang cerita di danau."


Zevanno hanya terkekeh sinis, "Lagian kalo mereka beneran cerai, semua orang juga bakal tau apa yang terjadi sebenernya."


"Tapi, coba lo posisikan diri lo jadi Papa lo, terus jadi Mama lo, baru lo bisa mutusin dengan baik."


"Dan satu lagi, karena menurut gue, enggak ada obat yang bisa bener-bener nyembuhin sakit hati." kemudian cewek itu berdiri dan berjalan menjauh dari Zevanno.


Elara berjalan dengan santai meninggalkan Zevanno yang larut dalam pikirannya sendiri.