
Maura memoleskan wajahnya dengan make-up yang terlihat natural, pakaian yang dipilih pun sangat santai, hanya sweater dan celana hitam. Maura mulai mengerti kalau Yusuf tidak terlalu nyaman dengan pakaian wanita yang terlalu terbuka, setiap kali di kantin ada mahasiswi yang menggunakan blouse terlalu rendah pasti Yusuf langsung memalingkan wajahnya kearah lain.
Ponsel Maura berdering, dengan semangat ia langsung mengangkatnya tanpa melihat nama yang tertera, matanya masih fokus pada bulu mata yang baru ia kenakan maskara. "Di mana Suf?"
"Maura ini aku sayang, kamu lagi janjian sama orang? aku chat dari tadi gak ada yang dibales, aku khawatir."
Maura menjauhan ponselnya, ia mendengus setelah melihat nama yang tertera. "Iya, aku mau pergi dulu kerja kelompok," jawab Maura pada akhirnya.
Beberapa detik hening. "Kamu dimana?" tanya Satria.
"Apartemen," jawab Maura cepat.
"Udah makan belum? aku masih di kantor, mau siap-siap pulang."
Maura menarik nafasnya dalam, dia sungguh tidak nyaman dengan percakapan ini. Tapi bagaimana pun dia tidak ingin memancing amarah Satria, dia ingin tenang untuk hari ini. "Baru mau pulang? Biasanya pulang jam 5," tanya Maura heran, iya melihat jam menunjukan jam tujuh malam.
"Iya baru beres, kan dari pagi sampe siang ngerayain dulu ulang tahun kamu," ucap Satria dan terdengar suara tawa kecil diakhir ucapannya.
"Umm, ya udah kamu siap-siap pulang dulu, temen aku udah nyampe kayaknya, bye." Maura dengan cepat mengakhiri panggilan tersebut, ia kembali menatap pantulan dirinya didalam cermin sambil menghela nafasnya.
Ting.
Seketika senyuman Maura pun mengembang, ia dengan cepat bergegas dan masuk ke dalam lift. Di dalam lift, Maura tak bosan-bosan melihat penampilannya yang sudah sempurna, ia begitu yakin jika Yusuf akan memujinya malam ini.
Pintu lift terbuka, Maura berjalan ke arah luar gedung dan melihat Yusuf tengah melambaikan tangannya melalui jendela mobil. Langkah Maura mulai melambat, keningnya mengerut samar. Di dalam mobil itu bukan hanya ada Yusuf, melainkan orang lain yang duduk di bagian kemudi, sedangkan Yusuf duduk di samping pengemudi. "Hai," sapa Maura dengan senyuman kaku, ia melihat disebelah Yusuf rupanya adik tingkat Maura di kampus.
"Masuk Maura, biar kita tidak terlalu malam pulangnya," ucap Yusuf.
Dengan sedikit kekecewaan, Maura pada akhirnya duduk seorang diri di bangku belakang, benar-benar diluar dugaan dan Yusuf sepertinya memang menjaga jarak darinya.
Selama diperjalanan, hanya ada beberapa percakapan ringan, Maura mulai tahu tempat yang mereka tuju adalah alun-alun kota, bukan tempat romantis seperti cafe atau— "Kita duduk di tengah saja ya," ucap Yusuf.
Maura yang sudah terlanjur ikut pada akhirnya hanya bisa menganggukkan kepalanya, tidak masalah untuk awal bermain mereka, masih ada banyak waktu dan semuanya akan jauh lebih baik.
Saat Yusuf dan temannya sedang asik bercerita tentang sejarah Bandung, pandangan Maura tertuju pada beberapa anak kecil yang berlari di atas rumput sintesis, mereka tampak gembira hanya dengan balon berhiaskan lampu kelap-kelip. Ada pula sepasang kekasih yang hanya berbincang dengan cemilan yang mereka makan berdua. Rupanya hal sesederhana ini cukup menyenangkan. "Maura," panggil Yusuf, membuat fokus Maura kembali pada laki-laki itu.
"Iya?" Tanya Maura.
"Saya udah siapin cerita buat kamu. Sebuah cerita yang InsyaAllah bisa menjadi setitik cahaya disaat kamu merasa lelah dengan semua ini." Mendengar penuturan kata yang sopan itu membuat daya tarik Maura terhadap Yusuf. "Untuk kamu juga Jar," lanjut Yusuf membuat Fajar menganggukkan kepalanya dan menanti apa yang akan Yusuf ceritakan.