
Maura terdiam di kamarnya sendiri, dia sudah meminta semua temannya termasuk Satria untuk pulang siang tadi, hatinya merasa tertekan dan memang Maura sudah katakan jika hatinya bukan untuk Satria lagi.
^^^Yusuf,^^^
^^^send.^^^
Maura menghembuskan nafasnya pelan, dia seakan tidak memiliki teman lagi untuk saat ini, Vina sudah berada di pihak Satria dan pastinya tidak akan mendengarkan keluhan Maura saat ini. "Gue harus ke mana ya biar tenang," gumam Maura pelan.
Tak berapa lama suara notif ponsel Maura berbunyi dan dengan cepat Maura membuka pesan tersebut.
^^^'Iya Maura? tadi kenapa? ada masalah?'^^^
Seketika itu juga Maura tersenyum, ini pertama kalinya Yusuf membalas pesan WhatsApp-nya!
^^^'Gue boleh nelfon? bingung banget harus curhat kesiapa 😔'^^^
^^^Send.^^^
Maura menahan senyumannya dan mencoba untuk mengalihkan rasa bahagianya dengan cara memeluk guling yang ada disebelah. Rasanya seperti mendapatkan sesuatu hal yang tak terduga. "Gak mungkin banget dia ngebolehin gue nelfon, ngebales aja gak pernah," gumam Maura sambil tertawa kecil, mood nya sudah membaik sekarang, tidak seperti tadi yang bercampur aduk rasanya.
Beberapa menit kemudian ponsel Maura berdering, dia mendengus karena dia sudah tau pasti Satria yang menelfonnya. Saat akan menolak panggilan, matanya mendadak membulat, ini tidak mungkin terjadi!
"What!" pekik Maura langsung duduk dari tidurnya, dengan cepat ia mengangkat panggilan itu.
___
Yusuf menalikan tali sepatunya di teras mushola dan mengeluarkan ponselnya. "Kang, nanti sore mau ikut futsal gak?" tanya Fajar yang baru saja keluar dari mushola.
"Jam berapa?" tanya Yusuf terlebih dahulu.
"Jam 5an."
Yusuf menggelengkan kepalanya. "Saya jam 5 pulang sama pak Firman."
"Ya udah minggu aja, kayak minggu kemaren, beres akang kumpul IRM."
"Nah boleh tuh, minggu aja saya ikut futsal. Oh iya Jar, panggil saya Yusuf aja, gak usah akang."
Fajar terkekeh. "Bener nih gak apa-apa?" Yusuf menganggukan kepalanya.
"Beneran."
"Iya hati-hati."
Fajar yang sudah berdiri hendak meninggalkan Yusuf. "Bye."
"Waalaikumsalam," jawab Yusuf sambil tersenyum.
"Assalamualaikum, maksudnya tadi hehe," jawab Fajar.
Yusuf kembali tersenyum kecil mendengarnya. Yusuf membuka chat yang masuk di WhatsApp nya. "Maura kenapa ya?" gumam Yusuf. Tanpa pikir panjang Yusuf langsung menelfon Maura.
"Hallo Yusuf!" Yusuf sedikit menjauhkan ponselnya karena suara Maura yang terlalu keras.
"Assalamualaikum Maura, saya Yusuf, kamu mau curhat apa?" Tanya Yusuf pelan.
"Iya gue tau lo Yusuf, makannya gue kaget lo nelfon gue," jawab Maura. "Gue galau banget," lanjut Maura.
Yusuf mengerutkan keningnya samar. "Masalah pacar kamu?" tanya Yusuf, Maura terdiam tak bisa menjawab. "Maura," panggil Yusuf kembali.
"Dia ngajak balikan, tapi rasanya kaya ada beban."
Yusuf cukup tidak mengerti dengan masalah hubungan seperti ini, terlalu bingung juga untuk memberikan masukan. "Kenapa? harusnya kan kamu seneng," tanya Yusuf bingung.
"Gue udah gak ada rasa ke dia. Hidup gue juga udah gak punya tujuan."
Seketika Yusuf terkejut, dalam pikirannya membayangkan Maura yang sedang putus asa dan kehilangan arah. "Astaghfirullah Maura, jangan karena cinta jadi putus harapan untuk hidup, ada orangtua yang harus kamu banggakan."
"Gue udah gak punya orangtua Suf, gue bertahan hidup sendirian, jadi kalo hidup gue udah kosong kayak gini suka pengen nyusul mereka aja ke—"
"Maura," potong Yusuf. Yusuf sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan Maura.
"Malam ini ada acara gak? kita bisa sharing masalah ini," lanjut Yusuf.
"Lo mau ngajak gue ketemu?" tanya Maura terkejut.
"Iya, saya mau coba bangkitin semangat hidup kamu lagi, walaupun kamu ngerasa sendirian di dunia ini, kamu harus inget masih ada Allah SWT yang selalu bersama kita," ucap Yusuf, Yusuf ingat saat ia diposisi Maura, semangat hidup sudah menurun, namun Kyai memberikan vidio dan cerita islami yang berhasil membuatnya bangkit kembali.
"Kita ketemu dimana? rumah lo?"
"Di rumah ada Al sama pak Yusuf, saya gak enak bawa temen perempuan ke rumah." Terlebih lagi Al sepertinya menyukai Maura, pikir Yusuf.