Yusuf Maura

Yusuf Maura
33. Meminta Ijin



Yusuf menoleh ke arah Fajar. "Eh iya gimana, mau ikut?" tanya Yusuf. Fajar langsung menganggukan kepalanya dengan cepat. "Ba'da Isya kamu nyamper lagi kerumah saya gak apa-apa?"


Seakan kebingungan Fajar kembali menganggukkan kepalanya lalu menggaruk pelan leher belakangnya. "Boleh sih, tapi kemaren tuh pake mobil kakak, cuma ada hari minggu aja," jawab Fajar pelan.


Yusuf tersenyum mendengar jawaban Fajar, dia menepuk bahu Fajar pelan seolah menyuruh Fajar untuk tenang. "Nanti saya coba pinjem mobil pak Firman ya," jelas Yusuf.


Seketika Fajar mengangkat ibu jarinya. "Oke. Nanti gue ke rumah lo pake motor," ucap Fajar ceria.


"Oh iya saya mau nanya Jar. kalo ngasih bacaan lebih baik buku atau PDF?"


Fajar berpikir sejenak lalu menatap Yusuf. "Mending buku sih, kalo PDF kadang orang males bacanya. Emang bacaan apa?" tanya Fajar penasaran.


"Buku Panduan Shalat."


Ponsel Yusuf bergetar, nama pak Firman muncul di sana. "Assalamualaikum pak."


"Waalaikumsalam Yusuf, udah beres kegiatannya?" tanya Pak Firman.


"Sudah pak, ini lagi ngobrol sama Fajar."


"Nanti keruangan bapak ya Yusuf. Sebentar lagi kita pulang."


"Iya pak. Sebentar lagi Yusuf ke sana, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam "


Setelah melihat Yusuf menurunkan ponselnya dari telinga, Fajar langsung mendekati Yusuf. "Kenapa?" tanya Fajar.


"Pak Firman, sebentar lagi saya pulang."


"Baru jam empat," gumam Fajar.


Yusuf menggelengkan kepalanya. "Saya duluan ya Jar, nanti saya kabarin ya."


"Siap Suf, gue juga mau ke kantin nunggu futsal mulai."


...___...


"Assalamualaikum Pak," ucap Yusuf memasuki ruangan Pak Firman.


"Waalaikumsalam Yusuf, duduk dulu, ada yang ingin bapak bicarakan."


Pak Firman tersenyum lembut. "Begini Yusuf, dua hari lagi ada kajian, anaknya pak Jujun yang jadi penanggung jawab acara. Dia ingin kamu menjadi pembuka acara, baca Al-Qur'an dan sedikit sharing tentang keislaman."


"Temanya mengenai apa ya pak?" tanya Yusuf.


"Tentang perjuangan dalam hijrah."


"Bisa pak, nanti Yusuf bahan bacaannya."


"Makasih ya Yusuf, katanya ustadz Iqbal bisa datang jam sembilan, sedangkan informasi sudah tersebar jam delapan. Kamu mengisi acara satu jam tidak apa-apa kan?"


"Tidak apa-apa pak."


"Sekarang kita pulang ya, kasian pak Didi udah nunggu diparkiran." Yusuf menganggukan kepalanya patuh dan membantu pak Firman membawa tas kerjanya.


..._____...


"Pak maaf, ada yang mau saya bicarakan." suara Yusuf memecahkan keheningan didalam mobil.


"Ada apa Yusuf? Kuliah kamu ada masalah?" Yusuf menggelengkan kepalanya.


"Alhamdulillah kuliah saya lancar. Tapi bukan tentang kuliah yang ingin saya bicarakan."


Pak Firman mulai memperhatikan Yusuf dengan tenang. "Bicarakan saja Yusuf, jangan terlalu tegang, anggap bapak ini ayah kamu ya."


"Iya pak, makasih sebelumnya. Yusuf mau minta ijin buat pinjem mobil sebentar, mau pergi ke Alun-alun Bandung sama Fajar sebentar, ada keperluan."


"Silahkan Yusuf, Di nanti kamu antar Yusuf dan Fajar ya."


Pak Didi yang ada didepan sana terlihat mengangguk. "Siap pak"


"Gapapa pak, saya sama Fajar aja, Fajar udah punya SIM A."


"Ya sudah kalau begitu, nanti hati-hati di jalan ya Yusuf."


"Iya pak, terimakasih." Yusuf tersenyum dan mulai memikirkan apa saja yang akan ia berikan untuk Maura.


"Kamu ambil 22sks kan Yusuf?" Yusuf mengangguk. "Bagus, harus di full kan terus ya per semesternya biar semester 7 kamu bisa mulai bimbingan. Berapa mata kuliah?"


"Sembilan mata kuliah pak" Pak Firman mengangguk dan tersenyum. Yusuf melihat wajah Pak Firman yang terlihat lelah, namun Yusuf pun masih canggung untuk menawarkan diri memijitnya. Di Pesantren Yusuf terbiasa memijit bapak dan kakek, terkadang Kyai Abdullah, untuk merelaksasi.