
Beberapa minggu berlalu dengan cepat, waktu seakan tak terasa bergulir begitu saja. Yusuf baru saja keluar dari kelas paginya dan ketika dia sedang berjalan terdengar suara seseorang memanggilnya. "Yusuf!" teriak seorang laki-laki membuat Yusuf langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah belakang.
Raut wajah itu terlihat senang ketika mendapatkan Yusuf menatapnya. "Benerkan nama lo Yusuf?" tanya laki-laki itu ramah.
Yusuf dengan cepat mengangguk dengan raut wajah heran. "Gue Rendi, anak semester tiga. Lo Yusuf anggota IRM kan?"
Lagi-lagi Yusuf menganggukkan kepalanya, lagi pula mengapa laki-laki ini tidak langsung mengutarakan keperluannya dengan Yusuf. "Iya, saya Yusuf." Yusuf menyambut uluran tangan Rendi. "Ada apa ya?" tanya Yusuf langsung pada intinya.
"Di suruh temen gue, lo ke kantin aja dia pake baju coklat," ucapnya dengan santai. Yusuf mengerutkan keningnya saat melihat Rendi yang sudah berlari menjauhinya. Benar-benar aneh dan membingungkan. Karena rasa penasaran juga akhirnya Yusuf pun bergegas menuju kantin yang di maksud.
Sesampainya di kantin, Yusuf mengedarkan pandangannya. "Yang pake baju coklat banyak," gumam Yusuf saat sudah berada di kantin.
"Hai," seorang perempuan melambaikan tangannya. 'Oh perempuan itu,' gumam Yusuf dalam hati.
Yusuf berjalan menuju meja tempat Maura duduk. "Assalamualaikum, kenapa ya?" ujar Yusuf saat sudah duduk didepannya.
"Panggil gue Ra aja. Nih gue bawain makanan buat lo. Ya anggap aja makasih dari gue," ucapnya dengan ramah, jauh dari pertama kali mereka bertemu. Yusuf ingat mungkin yang dimaksud tanda terima kasih adalah saat Yusuf membantunya membenarkan mobil Maura yang mogok.
Maura memberikan tempat makan berwarna hitam. "Gak usah repot-repot, saya ikhlas," tolak Yusuf dengan cepat.
"Ihh ambil. Lo gak ngehargain gue kalo nolak," ucap Maura.
Mendengar itu Yusuf tersenyum ramah, dia pun mengulurkan tangannya mengambil tempat makan tersebut. "Ya udah saya ambil. Makasih ya."
"Iya. Lo masih ada kelas?" tanya Maura yang terlihat begitu santai bersama Yusuf.
"Gak, saya mau kumpul IRM dulu."
"Oh, belum mulai kan?"
Yusuf menggelengkan kepalanya. "Gimana sama pacar kamu?" tanya Yusuf yang masih sangat mengingat pertengkaran Maura dengan Satria di taman, entah kenapa Yusuf selalu mengingat setiap pertengkaran seseorang yang pernah dia lihat, seakan trauma tersendiri untuk dirinya.
Maura mendengus kesal, ia mengeluarkan ponselnya. "Gue gak punya pacar, yang waktu itu tuh temen gue. Minta no WhatApps lo." Tanpa sungkan Maura mengulurkan tangan dan memberikan ponselnya pada Yusuf.
"Ini, tapi saya jarang on," jawab Yusuf saat sudah mengetikkan nomor ponselnya dan memberikan ponsel Maura kembali.
"Kenapa? Gue save ya," ucap Maura.
Yusuf diam sebentar seakan sedang berpikir, lalu dia tersenyum kecil. "Umm, sebenernya saya instal itu buat grup doang, temen saya baru dikit, jadi sepi," jawab Yusuf jujur.
Maura tertawa mendengarnya, benar-benar terlihat seperti anak kecil yang polos, tidak ada rasa malu saat mengatakan hal yang jujur. "Lo tuh polos banget. Emang pacar lo gak pernah chat apa?" tanya Maura sedikit bingung, sebenarnya cara pacaran Yusuf seperti apa dengan pasangannya.
"Dia di pasantren, bukan pacar sih, temen biasa. Tapi saya janji nikahin dia," jawab Yusuf.
Maura cukup kebingungan dengan jawab Yusuf, bagaimana bisa seseorang saling percaya begitu saja, hanya janji tidak akan mungkin dapat dipercaya. "Lo gimana sih? Jangan ngasih harapan doang, harus ngasih kejelasan dong. Lo pacarin dia, gimana kalo lo udah lulus waktu kesana dia udah nikah? apa lagi kalian jarang komunikasi."
Maura memutarkan bola matanya dengan malas, jawaban seperti apa itu? "Ck, pasrah banget lo jadi cowok. Tuh gue udah chat lo, save Maura cantik. Oke."
"InsyaAllah," kekeh Yusuf pelan, dia seakan melihat perpaduan Rani dan Jihan dalam diri Maura, ceria dan berani seperti Rani, juga tegas dan galak seperti Jihan.
"Kok insyaallah? harus di save," ucap Maura memaksa.
Yusuf menganggukkan kepalanya, dia melihat sekilas layar ponselnya. "Iya, iya, saya ke ruangan IRM dulu ya, udah mulai kayaknya," ucap Yusuf dengan senyuman yang seakan tidak pernah tertinggal.
"Oh oke, bye."
"Assalamualaikum," pamit Yusuf sambil berdiri.
Maura hanya tersenyum sambil mengangguk. "Waalaikumsalam," gumam Maura pelan sedikit ragu, Yusuf yang hendak pergi menatap Maura, senyumnya mengembang mendengar jawaban Maura yang walaupun terdengar pelan.
"Nanti saya chat kamu. Makasih makanannya."
'Plak' Maura memukul pipinya sendiri. "Kok dia senyum sama gue sih? tuh kan baru dideketin gini aja tuh orang udah suka sama gue! Ihh kenapa kalo senyum ganteng sih," gumam Maura, mata nya terus menatap punggung Yusuf yang pergi.
________
Ponsel Yusuf bergetar, sebuah panggilan telfon masuk. "Assalamualaikum, Mega ya?" sapa Yusuf.
"Waalaikumsalam, iya ini aku Mega. Di mana? kang Imran udah nyariin."
"Nyariin saya? ada apa ya?" tanya Yusuf penasaran.
"Minggu inikan bagian kamu yang jadi pembuka."
Yusuf langsung memejamkan matanya, dia benar-benar lupa. "Astagfirullah, iya saya lupa. Udah pada kumpul?" tanya Yusuf mulai terdengar panik.
"Belum semua sih. Aku baru aja dari ruang IRM, aku ijin hari ini, adik ku sakit."
"Sakit apa?" tanya Yusuf.
"Demam."
"Semoga cepat sembuh ya. Saya ke sekre sekarang, Assalamualaikum."
"Iya waalaikumsalam."
_____