
Malam pun tiba, Al benar-benar datang menjemputnya jam 10. Yusuf menoleh ke arah Al yang baru saja masuk secara diam-diam. "Om Firman udah tidur?" tanyanya sangat pelan.
"Dari jam sembilan," jawab Yusuf dengan nada bicara seperti biasa. Dia cukup bingung melihat tingkat Al yang lagi-lagi membuatnya curiga.
Al langsung menghembuskan nafasnya lega, dia kini terlihat lebih santai dari tadi. "Oke, bagus. Sekarang kita berangkat," ucap Al.
Yusuf tak banyak bertanya, dia hanya mengikuti Al yang berjalan menuju mobilnya. "Mau pada kemana ini?" tanya pak Didi keluar dari dalam pos.
"Mau ngajak main Yusuf pak, kebetulan temen lagi ada yang ngadain pesta, lumayan biar Yusuf banyak temen."
Merasa tidak yakin dengan ucapan Al, Pak Didi langsung menatap Yusuf seakan memastikan jika semuanya benar atau tidak dan Yusuf hanya tersenyum menjawabnya. "Ya sudah hati-hati," jawab pak Didi pada akhirnya.
"Saya berangkat ya pak, Assalamualaikum," ucap Yusuf.
"Waalaikumsalam."
Saat menutup pintu mobil kegelisahan Yusuf seakan semakin bertambah, dia sebenarnya tidak yakin namun tidak memiliki alasan untuk menolaknya. Tak lama mobil pun mulai berjalan dengan perlahan, meninggalkan halaman rumah. "Sebenarnya kita ini mau kemana?" tanya Yusuf, Al yang sedang menyetir pun hanya tersenyum santai.
"Nanti juga lo tau, tempatnya deket banget dari sini,"
___
Yusuf membuka pintu mobil, parkirannya sangat penuh hingga mobil mereka parkir di sebrang jalan. Yusuf dengan bingung memperhatikan gedung bertema hitam di depannya, sebenarnya tempat apa ini? Banyak orang yang mengantri masuk ke dalam dan harus melewati dua orang security terlebih dahulu.
"Nah itu temen gue." Yusuf mengikuti arah pandangan Al pada dua orang laki-laki yang sedang berdiri.
"Hey Al, apa kabar lo? Dari kapan di Bandung?" tanya Rey.
"Semingguan kurang lah. Masuk?"
Rey menggelengkan kepalanya dan mempersilahkan Al untuk masuk terlebih dahulu. "Lo duluan, gue nunggu si Aulia."
"Oke, gue ke dalem duluan."
"Sip," jawab Rey sambil menunjukkan ibu jarinya.
Sesampainya di dalam, hati Yusuf semakin tak tenang dan berdebar, bau asap rokok begitu menyengat di hidungnya, pakaian perempuan di sini sangat minim membuat Yusuf seakan terjebak di tempat yang salah. "Astagfirullah" gumam Yusuf. "Saya nunggu di luar ya," ucap Yusuf sedikit berteriak.
Al menoleh dan melihat Yusuf seakan mengejeknya. "Banci lo, udah ikut gue aja." Al seakan mancari seseorang dan berjalan mendekati perempuan yang sedang berdiri di dekat sebuah meja.
"Lo gak usah gugup gitu, di sini semuanya enjoy, bawa happy aja!" teriak Al.
"Maura?" Hati Yusuf sedikit lega karena ada orang yang dia kenal disini.
Maura mengerutkan keningnya dan berjalan mendekati Yusuf. "Lo ngapain disini?" tanya Maura bingung.
"Saya nemenin Al disini." Maura langsung menatap laki-laki yang tengah tersenyum ke arahnya.
"Al?" tanya Maura yang terlihat semakin kebingungan dengan apa yang dia lihat.
Al mengulurkan tangannya menyapa Maura. "Iya gue Ra, lo apa kabar?" tanya Al santai.
"Baik, lo yang apa kabar? Lama gak liat lo."
Yusuf yang melihat hal itu pun tak kalah bingung dengan Maura. "Kalian udah kenal?" tanya Yusuf bingung.
"Al adik kelas gue waktu SMA, lo kok bisa kenal Al?" tanya Maura.
Bukan Yusuf yang menjawab tetapi Al yang dengan santainya menjawab pertanyaan itu. "Yusuf ini anak pungutnya om gue," jawab Al. Maura langsung manatap Yusuf yang tampak biasa saja, seakan tidak terganggu dengan kata 'anak pungut' yang diucapkan Al. "Kalian ngobrol dulu aja, gue ke toilet dulu."
Al langsung pergi meninggalkan keduanya. Maura menarik tangan Yusuf menuju kursi. "Lo sering kesini?" tanya Maura dengan cepat.
Yusuf menggelengkan kepalanya. "Saya gak pernah kesini, diajak Al."
"Lo kok mau-maunya sih? Gimana kalo dia jahat? Ada niat ngebunuh lo?" tanya Maura dengan wajah serius.
"Astagfirullah, gak mungkin lah. Saya yakin dia gak sejahat itu."
Yusuf mengerutkan keningnya saat melihat Maura tertawa. "Lo tuh ya, polos banget sih jadi cowok. Jangan terlalu percaya sama orang," pesan Maura.
"Kamu udah sering ketempat kayak gini?" tanya Yusuf sambil memperhatikan sekitar, ia langsung menundukkan kepalanya saat ada perempuan yang mengedipkan mata padanya. Sungguh, ini tidak biasa bagi Yusuf.
"Seringlah. Lo mau gue ajarin minum?" tawar Maura dengan nada bercanda.
Yusuf menatap bingung ke arah Maura. "Minum? Dari kecil juga saya udah bisa minum," jawab Yusuf polos.
Seketika Maura pun tertawa, ia tak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu. "Haha lo tuh ya. Bukan minum itu, tapi mabok."
"Astagfirullah, kamu itu perempuan, dalam agama kita gak boleh meminum minuman keras," ucap Yusuf dengan spontan.
Maura menganggukan kepalanya mengerti. "Lo risih ya disini?" Maura memperhatikan gerak-gerik Yusuf yang tak nyaman.