Yusuf Maura

Yusuf Maura
24. Hadiah untuk Aisyah



Yusuf membuka paper bag putih yang sedari tadi dia bawa, paper bag tersebut berisi kardus kecil yang baru saja dia dapatkan dari sebuah toko yang menarik perhatiannya. Dua kerudung dan tiga peci, serta enam buah tasbe. Dengan senyum yang sudah dari tadi mengembang Yusuf mengeluarkan secarik kertas kosong dari dalam tas, pulpen dan juga amplop. Dia merindukan masa-masa saat di Pesantren.


Untuk Aisyah...


Assalamu'alaikum wr.wb.


Apa kabar Aisyah? Kakak do'a kan kamu sehat selalu. Bagaimana kabar Kyai, Mamah, Bapa, Rizal dan anak-anak di pasantren? Kakak do'a kan juga kalian semua selalu dalam lindungan Allah swt dan sehat selalu. Aamiin.


Kakak tau surat ini pun kamu tidak akan membalasnya, seperti surat-surat yang lain hehe. Tapi bolehkan kakak membagi sedikit cerita selama seminggu kakak di sini?


Alhamdulillah semua yang ada di sini baik dengan kakak. Kakak juga punya temen yang pergaulannya baik, doa kan juga kakak ya Aisyah, agar kuliah kakak lancar. Semoga saja tidak ada masalah apa-apa disini. Doakan juga agar hati kakak selalu terjaga hehe.


Oh ya, ini ada sedikit hadiah yang akan kakak berikan untuk Aisyah, Mamah, Bapa, Kyai dan Rizal, semoga bermanfaat untuk kalian semua. Setelah UAS semester dua nanti kakak akan pulang ke pesantren, kakak dapat libur dua bulan. Titip salam kepada semua yang ada disana ya Aisyah. Semoga kamu akan selalu menunggu kakak sampai lulus nanti.


Waalaikumsalam wr.wb.


Yusuf melipat kertas tersebut dan memasukkannya ke dalam amplop putih. Lalu memasukkan amplop tersebut ke dalam kardus kecil yang berisikan dua kerudung, tiga peci, dan enam tasbe yang telah di bungkus rapi. Tak lupa Yusuf mengantongi satu tasbe untuk pak Firman sebelum dia keluar dari kamarnya.


Di ruang tamu Yusuf melihat Pak Firman sedang berbincang dengan seorang pria yang lebih muda dari Yusuf, terlihat sangat santai dan sepertinya tamu pertama yang Yusuf lihat di rumah ini.


"Assalamualaikum pak," ucap Yusuf sambil mencium tangan pak Firman sedang sopan.


"Waalaikumsalam, mau kemana Suf?" tanya pak Firman.


Yusuf menunjukkan paper bag yang dibawanya sambil tersenyum. "Mau kirim paket buat ke pasantren pak."


"Minta Didi anter kamu ya. Sekalian jalan-jalan keliling Bandung, biar tau indahnya Bandung gimana," ujar pak Firman dengan sedikit tawa kecil di akhir ucapannya. "Oh ya, kenalin Suf ini Alif. Al kenalin ini Yusuf, anak saya," lanjut Pak Firman. Yusuf yang mendengar namanya sedang diperkenalkan langsung tersenyum dan mengulurkan tangannya terlebih dahulu.


"Iya, Yusuf anak saya." Al mengerutkan keningnya heran ditatapnya wajah Yusuf dengan raut wajah tak suka.


"Pak, tadi pagi saya beli hadiah buat di pesantren, kebetulan saya liat ini cocok buat bapa. Sekalian saya pamit pergi ya pak. Assalamualaikum," ucap Yusuf sekaligus berpamitan. Yusuf memberikan tasbe tersebut dan disambut senang oleh pak Firman.


"Waalaikumsalam, wah terimasih Suf hati-hati di jalan," Yusuf mengangguk sambil mencium tangan pak Firman kembali.


"Al oleh-oleh dari Kalimantan nya mana? Yusuf aja ngasih om hadiah," ujar pak Firman dengan nada bercanda.


"Ada di rumah om, tadi Al buru-buru ketemu temen dulu sekalian pulangnya mampir ke sini." pak Firman mengangguk mengerti. Al menatap kepergian Yusuf dengan tatapan tajam 'Munafik' cibirnya dalam hati.


Saat keluar dari dalam rumah, Yusuf langsung menghampiri Pak Didi ke pos yang ada sebelum pagar. "Pak Didi," sapa Yusuf.


Pak Didi yang tengah menonton televisi didalam pos menengok. "Eh Den. Ada apa ya?"


"Maaf pak, bisa minta tolong anterin saya ke tempat pengiriman barang."


"Oh boleh Den. Tunggu sebentar, bapa keluarin mobilnya dulu."


"Makasih ya pak, saya tunggu di depan."


Pak Didi menganggukkan kepalanya. "Iya den."


⬛◼️◾▪️🌞▪️◾◼️⬛