Yusuf Maura

Yusuf Maura
32. Mengajak Bertemu



"Terus dimana? Apartemen gue?" tanya Maura asal.


Yusuf menarik nafasnya dalam, selalu mengabaikan ucapan Maura adalah pilihan yang baik. "Saya kemarin jalan-jalan sama pak Didi keliling Bandung, kayaknya ada satu tempat yang cocok, penasaran juga pengen ke sana."


"Di mana?" tanya Maura penasaran.


"Udah nanti malem saya jemput kamu, tempatnya ramai, enak buat ngobrol, banyak hiburannya juga," ucap Yusuf pada akhirnya, terlalu sulit untuk menjelaskan tempat yang dia sendiri bingung menjelaskannya.


Maura mengerutkan keningnya. "Oke deh, mau jam berapa?"


"Ba'da Isya," jawab Yusuf.


"Ba'da tuh apa sih?" tanya Maura bingung.


"Ba'da itu artinya setelah Isya, beres shalat Isya saya jemput kamu atau mau Ba'da Maghrib? biar bisa shalat Isya di sana."


Di sana Maura meremas bonekanya kencang, sedikit ragu untuk menjelaskan semuanya. "Gue gak sholat," lihir Maura pelan. "Ya udah, ba'da Isya aja," sambung Maura dengan cepat.


Yusuf terdiam sejenak lalu bertanya. "Tapi bisa sholat kan?" kekeh Yusuf pelan.


"Enggak lah," jawab Maura apa adanya.


Yusuf terdiam sesaat, lalu ia kembali fokus pada ponsel. "Ya udah saya tutup dulu teleponnya ya, nanti saya jemput, minta alamat kamu."


"Nanti gue kirim ya."


"Iya Maura, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Maura pelan.


Yusuf memutuskan panggilan tersebut, ia membuka tasnya dan mengeluarkan laptopnya.  'Buku atau PDF ya' pikir Yusuf sejenak. Ia memasukkan kembali laptopnya dan menelpon seseorang. "Assalamualaikum Jar."


"Waalaikumsalam Yusuf."


"Sibuk gak?" tanya Yusuf.


"Lagi nyari buku Pengantar Manajemen, bantuin sini ke perpus, bentar lagi tutup duh, udah diliatin gini sama petugasnya."


"Saya ke sana ya, assalamualaikum."


"Iya waalaikumsalam."


"Gue di perpus." Yusuf berhenti mencari dan menghampiri Fajar.


"Ah lo gak ngasih tau, pantes nyari gak ada. oke deh thanks ya." Fajar memasukkan kembali ponselnya kedalam saku. "Hehe maaf Suf, itu ternyata modul dari dosen, tinggal beli di Fotocopy bawah."


Yusuf menggelengkan kepalanya. "Mau sampai besok dicari juga gak bakalan ada Jar," sindir Yusuf.


"Jam segini udah tutup ya Fotocopy?" tanya Yusuf.


"Iya, besok aja belinya. Oh iya, tadi nelfon ada apa?" ucap Fajar mengingatkan.


"Kita keluar dulu yuk, udah mau ditutup."


Yusuf dan Fajar keluar dari perpustakaan dan memilih duduk dikursi dekat tangga. "Gini Jar, nanti malem saya mau ngobrol sama temen saya, kamu ikut ya."


"Temen? Siapa?" tanya Fajar penasaran.


"Maura, anak semester 3."


"Oh iya tau, yang lagi digosip deket sama lo kan?" Goda Fajar.


"Astaghfirullah, gosip apa?"


"Eh, lo gak tau? katanya akhir-akhir ini kalian sering barengan di kantin, perpustakaan."


Yusuf yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Gak lah, saya temenan biasa."


"Syukur deh. Soalnya mahasiswi semester 1 banyak yang gak suka sama dia."


"Kenapa?" tanya Yusuf penasaran.


"Dia tuh gak aktif di organisasi kampus, tapi waktu welcome student dia ada, sombongnya minta ampun, galak, gue aja pernah dimarahin sama dia." Yusuf mendengarkan dengan serius. "Tau gak gara-gara apa?" lanjut Fajar.


"Apa?" jawab Yusuf.


"Gara-gara gue ngeliatin dia pas lagi marah-marah, sumpah dia cewek paling cantik yang pernah gue liat, apalagi waktu marah-marah, tambah cantik. Pas lagi enak mandangin dia, eh dia bilang gini 'Apa lo liat-liat, naksir?' anjir gue malu dong diliat semua mahasiswa baru" Yusuf terkekeh mendengarnya.


"Makannya mata dijaga," kekeh Yusuf pelan.


"Abisnya cantik banget," jawab Fajar sambil tertawa kecil mengikuti Yusuf.