Yusuf Maura

Yusuf Maura
26. Anak Muda



Sudah lima hari ini Al selalu rutin datang ke rumah Pak Firman dan seperti biasa saat bertemu dengan Yusuf Al selalu menunjukkan wajah tidak suka nya dengan begitu jelas.


Dari pak Didi Yusuf menjadi tahu bahwa Al adalah keponakan pak Firman, memang dari kecil Al sudah sering ke sini bermain dengan anak pak Firman, namun sudah 3 tahun dia pindah membuat jarak keduanya semakin jauh. Namun, hari ini Al sangatlah tidak biasa menurut Yusuf. "Mau anterin gue jalan gak?" tanya Al yang tampak biasa saja seakan selama ini tidak menaruh rasa benci pada Yusuf.


Yusuf yang merasa diajak berbicara langsung menghentikan langkahnya, dia menatap Al yang tengah asik menonton TV. "Kemana?" tanya Yusuf bingung. Bukannya bermaksud berpikiran aneh, namun rasanya sungguh tidak masuk akan ketika ada seseorang yang secara terang-terangan tidak menyukai meminta antar seperti itu.


"Ketemu temen gue. Sekalian om Firman nyuruh gue buat beliin baju buat lo," jawab Al yang kini sudah menoleh pada Yusuf.


"Gak usah, baju saya masih banyak di lemari," tolak Yusuf halus.


Al yang di tolak seperti itu langsung menunjukkan wajah tidak sukanya kembali. "Lo tuh ya, om udah terlalu baik sama lo. Apa susahnya sih nurut, baju lo tuh kaos semua, jadul semua. Udahlah gue bantu pilih yang bagus buat lo," ucap Al tampak ketus.


Karena tidak ingin menyebabkan perdebatan panjang pada akhirnya Yusuf menghela nafasnya lalu menganggukan kepalannya pelan.


Di dalam mobil Yusuf hanya diam memperhatikan jalanan, lagi-lagi hatinya tidak tenang, seakan dipenuhi kecurigaan kepada Al. "Astagfirullah," gumam Yusuf dengan cepat. Sangat tidak pantas dia berpikir seperti itu di saat Pak Firman sudah sangat baik padanya.


"Lo kenapa? Ngeliat setan?" tanya Al.


"Engga, boleh saya nanya sesuatu?" tanya Yusuf yang langsung diangguki oleh Al. "Anaknya pak Firman meninggal kenapa?" tanya Yusuf kembali dengan hati-hati, selama di Bandung dia sudah ingin tahu tentang masalah ini namun bingung harus bertanya pada siapa.


"Dulu itu om pergi lumayan lama lah, empat bulan lebih. Tante sama Bayu seneng banget waktu tau kabar om pulang, tadinya keluarga gue juga mau ikut jemput ke bandara, tapi bokap gue ada masalah di bengkelnya, jadi bokap sama nyokap gue gak ikut. Gak tau kenapa waktu itu gue pengen naek motor yang di pinjem ade gue. Sekitar 20 menitan ade gue pulang, ada kabar kalo mobil Bayu kecelakaan."


Seketika Yusuf terkejut, betapa hancurnya hari pak Firman saat itu, pulang untuk keluarga namun kejadian mengerikan terjadi. "Tabrakan?" tanya Yusuf memastikan.


Al menganggukan kepalanya dan saat Yusuf hendak bertanya lebih jauh ponselnya berdering. "Assalamualaikum," sapa Yusuf terlebih dahulu saat ada nomor tak dia kenal masuk.


"Waalaikumsalam, Yusuf."


Senyum Yusuf seketika itu juga mengembang, dia merindukan suara ini. "Kyai? Kyai apa kabar?" tanya Yusuf tampak bersemangat.


"Alhamdulillah baik, paket mu sudah sampai kemarin, Aisyah sudah menerima nya."


Wajah Yusuf seakan memerah mendengarnya. "Itu, untuk mamah bapa juga kyai," jawab Yusuf malu.


Kyai terkekeh pelan lalu terbatuk kecil. "Yusuf ada yang Kyai ingin tanyakan." Hati Yusuf berdebar tak karuan mendengar suara Kyai yang tampak serius, ada apa ini? "Apa benar Yusuf sangat menyukai Aisyah?"


"Jawab saja. Dengar Yusuf, jangan dipendam, tidak baik memikirkan wanita yang belum jadi istri mu."


Yusuf terdiam sejenak, dia sedikit malu membahas ini bersama Kyai. "Tapi apa Aisyah mau Kyai?"


"Kalo memang saling suka kenapa tidak? Menikah muda baik dari pada saling memendam rasa, kamu bisa bawa Aisyah ke Bandung, jika mengingat atau meridukannya bukan dosa lagi melainkan pahala."


"Tapi Yusuf belum lulus, belum bekerja, belum mempunyai tabungan untuk berumah tangga."


"Tabungan selama kamu mengajar di pesantren sudah cukup Yusuf, masih kyai simpan dengan baik. Menikahlah jika sudah yakin pada Aisyah."


"Yusuf gak berani ambil sedikitpun Kyai, diurus oleh Kyai saja Yusuf sudah bersyukur," jawab Yusuf sopan.


"Kyai tidak memaksa, sebaiknya jika ada waktu mainlah kemari, bicarakan baik-baik bersama Aisyah. Sudah hampir Magrib, Kyai tutup telepon nya ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, terimakasih Kyai."


"Lo mau nikah?" tanya Al yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan Yusuf.


"Insyaallah kalo memang dia jodoh saya."


"Gue kira orang kayak lo gak akan pernah punya pacar." Yusuf hanya tersenyum menjawabnya.


"Nah udah nyampe. Lo pilih aja baju yang lo mau, gue pilihin satu buat lo nanti malem oke." Al membuka pintu mobilnya dan berjalan meninggalkan Yusuf yang masih duduk. 'Apa aku dan aisyah sama saja seperti pacaran?' batin Yusuf menjadi bimbang.


...___...


"Jam sepuluh gue jemput lo, pake baju yang gue pilihin."


Mendengar itu Yusuf seketika melihat Al dengan kebingungan. Dia kira sudah sampai sini saja Yusuf bersama Al. "Kenapa malam banget Al?"


"Nama nya juga acara anak muda, lo harus gaul dong. Lo bakal suka tempat itu, tenang aja gue gak jahat kok." Lagi-lagi karena tidak ingin berdebat dan menghargai Al yang menjadi keponakan Pak Firman akhirnya Yusuf mengangguk


...⬛◼️◾▪️🌺▪️◾◼️⬛...