Yusuf Maura

Yusuf Maura
29. Maura kembali mendekati.



...••🖤••...


...Rasa sakit yang sama...


...Oleh orang yang sama...


...••🖤••...


Pagi ini Yusuf diberi laptop oleh pak Firman, mau tak mau dia harus menerimanya karena Pak Firman selalu tidak ingin ditolak apapun yang sudah dia tawarkan pada Yusuf. Entah berapa banyak balas budi yang harus dia berikan nantinya pada pak Firman, bahkan pada keluarganya yang ada di pesantren pun belum sempat dia balas kebaikan mereka sedikitpun. "Kalo perlu apa-apa bilang ya Yusuf, jangan sungkan, Bapak ini Bapak kamu sekarang," ucap pak Firman dengan sangat lembut. Entah semenyenangkan apa Bayu memiliki Ayah kandung seperti Pak Firman.


"Sebenarnya belum terlalu banyak tugas pak," jawab Yusuf sopan.


"Tapi sudah mulai ada kan?" tanya pak Firman.


Yusuf tersenyum ragu. "Yusuf gak enak pak," jawab Yusuf jujur pada akhirnya, semua ini terlalu berlebihan bagi Yusuf, mendapatkan kesempatan kuliah dan mendapatkan tempat tinggal saja sudah membuat Yusuf sangat senang.


"Gak enak gimana?" tanya pak Firman tampak bingung.


"Saya di sini udah di kuliahin, dikasih tempat tinggal, dikasih HP, dikasih uang bulanan, sekarang laptop."


Pak Firman tersenyum lalu memegang bahu Yusuf dengan lembut. "Ini semua udah rezeki kamu. Semangat terus untuk sukses, buat semua orang yang selalu dukung kamu semakin bangga."


"Sama-sama Yusuf. Sekarang kita berangkat ke kampus ya."


---


Sesampainya di kampus Yusuf bergegas menuju perpustakaan, dia melewati beberapa kelas yang mulai terisi mahasiswa. Yusuf langsung membuka laptop barunya di perpustakaan dan sedikit tak menyangka akan memiliki benda ini. Di pasantren dia sering menggunakan komputer, yang memiliki laptop hanya Kyai dan beberapa orang lainnya, itupun sangat jarang digunakan.


"Hei, gue nyariin lo, taunya di sini."


Yusuf menoleh ke arah sebelahnya. Setengah badan Maura tertutup oleh pembatas meja. "Saya masuk kelas jam setengah sepuluh, sekarang baru jam tujuh jadi di sini dulu. Kamu gak ada kelas?" tanya Yusuf basa basi.


Maura tersenyum lebar. "Gue bolos kelas hehe," jawabnya dengan santai sambil menyimpan buku berwarna merah di atas meja.


"Kalo bolos ngapain ke kampus?"


Yusuf menatap Maura heran. Perempuan itu membuka buku merah yang berukuran sedang. Maura sedikit menggeserkan kursinya kearah Yusuf, mendekati pembatas meja yang lumayan tinggi. "Gue belum ngerjain tugas. Nih gue tunjukin buku bagus buat lo." Yusuf yang penasaran mengambil novel yang disidorkan Maura, ia semakin serius mendengarkan Maura yang mulai bercerita tentang Novel tersebut, Novel percintaan yang bertema perjodohan jaman kerajaan. "Nah nanti pangeran ini nikah sama putri dari kerajaan yang paling besar. Awalnya pangeran nikah sama putri ini tuh karena dia anak satu-satunya, yang artinya dia bakalan jadi ratu, dan pangeran bakalan jadi raja, apalagi kalo daerah mereka disatuin. Nah sebelum nikah ini sebenernya pangeran udah punya 'wanita' kayak punya pacar lagi tapi gak boleh ada yang tau hubungan mereka. Lo ngertikan?" Yusuf mengangguk. "Nah, bahkan setelah nikah pun pangeran kan udah berubah status jadi raja, dia tetep sama si wanita simpenannya itu, malahan dia bawa perempuan itu ke istana dan dijadiin pelayan, lambat laun ratu yang curiga mergokin mereka." Yusuf tetap fokus menunggu lanjutan ceritanya. Namun, Maura mengetuk novel itu pelan. "Lo baca sendiri, pasti lebih seru, apalagi nih novel—" Maura sedikit mendekati Yusuf dan berbisik. "Banyak adegan panas," canda Maura membuat Yusuf yang terkejut langsung menyodorkan kembali novel itu kepada Maura.


"Astagfirullah, saya suka baca buku sejarah, kerajaan-kerajaan, tapi bukan yang gini. Nih bawa lagi, saya gak mau baca."


Maura tertawa tanpa suara, andai ini bukan diperpustakaan ia sudah tertawa kencang. Ia hanya ingin mengjahili Yusuf dan ekspresi Yusuf membuatnya ingin tertawa. "Lo kenapa sih jadi cowo alim banget," ucap Maura sambil sedikit tertawa. Yusuf mulai fokus kembali pada laptopnya, mencoba mengabaikan Maura. "Ini tuh Novel Inggris tapi yang udah di translate, jadi wajar lah ada yang gitu, lo kaya yang belum pernah aja baca yang ginian. Beneran nih gak akan pinjem?"