
Sudah kali ke tujuh Maura menolak panggilan masuk dari Satria, namun masih saja Satria menghubunginya terus menerus membuat Maura mau tak mau dengan malas harus mematikan ponselnya. Maura mulai berbaring di atas ranjangnya yang nyaman, memandang langit-langit bagian atas kamarnya dengan nyaman.
Yusuf, sekelebat nama itu yang dia ingat sekarang, secara tiba-tiba. Maura yakin dirinya sangat cantik, dia juga tahu banyak laki-laki yang diam-diam mengaguminya tanpa berekspresi, bahkan ada beberapa yang menunjukkan secara terang-terangan ketertakikan mereka padanya. Tapi Yusuf berbeda, dia mengira saat di taman Yusuf hanya sengaja ingin bertabrakan dengannya, ya sama halnya seperti laki-laki lainnya. Namun pikiran Maura rupanya salah besar, Yusuf tak menunjukkan ketertarikannya pada Maura sedikit pun, yang ada hanya wajah ramah dan sopan, tidak ada sedikitpun Yusuf seperti menggodanya. Semenjak Yusuf membantu mobilnya yang mogok, Hampir seminggu ini Maura diam-diam memperhatikan Yusuf di kampus.
"Gue deketin baper gak ya?" gumam Maura pelan. "Tapi dia ganteng banget." Maura menghidupkan kembali ponselnya, lagi-lagi nama Satria muncul dilayar, Maura langsung menolaknya dan cepat-cepat mencari nama Vina didaftar kontaknya.
Tak menunggu lama, Vina menerima panggilan telepon Maura. "Vin!" pekik Maura saat panggilannya terhubung.
"Apaan?" jawab Vina terdengar sedikit sensi.
Mendapatkan jawaban seperti itu Maura langsung menggerutu pelan, dia memperhatikan kuku-kuku yang baru dia cat sambil berkata. "Dih jutek amat, gue ganggu ya?" tanya Maura. Niatnya ingin curhat sedikit ragu karena jika Vina sedang dalam mood yang kurang bagus bisa-bisa dia tidak akan didengarkan.
"Iya, gue lagi main game Ra. Kenapa sih?" tanya Vina tak sabaran.
"Satria nelponin gue terus."
"Ya iya lah, lo kan belum ngasih keputusan ke dia. Lo inget kan waktu hari senin?" Maura mengerutkan keningnya bingung, cukup lama tak menjawab pertanyaan Vina. "Itu loh yang kalian ketemu waktu di club," ucap Vina mengingatkan.
Seketika ingatan tentang di taman masuk ke dalam pikiran Maura, dia benar-benar melupakan ucapannya pada Satria. "Oh itu, gue inget."
"Nah, kata lo kan dia ngajak balikan terus lo cuma jawab gimana besok, dan besok nya lo ngehindar terus, udah seminggu loh ini. Kalo lo emang gak mau lagi sama dia, angkat telfon dia. Bilang aja masing-masing dulu lah. Biar lo nya tenang, terus si Satria gak digantung, harusnya lo ada sedikit kasian sama dia, inget perjuangan dia selama ini, gue bingung kok berantem kali ini lo marahnya lama banget."
"Ia sih, tapi ada satu lagi yang pingin gue tanya," ujar Maura ragu-ragu.
Terdengar jelas jika Vina kini menarik nafasnya dalam, seakan sedang bersabar dengan panggilan ini. "Apa lagi?"
"Ada satu cowok yang bikin gue penasaran. Dia tuh ganteng, cuma sok alim. Gue susah banget deketin dia, gengsi dong gue duluan yang deketin, dia kaya jaga jarak banget sama gue," ucap Maura langsung menceritakan sosok Yusuf yang selama ini mengganggu pikirannya, belum pernah juga Maura merasakan hal seperti ini pada seorang laki-laki.
Vina menjerit kecil di sebrang sana, membuat Maura mengerutkan keningnya sedikit terkejut. "OMG! lo udah suka sama cowo lain? Itu artinya karma lo udah dateng. Lo cantik, tapi sok jual mahal haha. Nama cowoknya siapa?" tanya Vina yang kini terdengar semangat, tidak seperti sebelumnya yang terasa Maura ini sedang mengganggu.
"Lo jangan terlalu agresif lah bego, yang ada tuh cowok malah takut sama lo. Harusnya lo cari obrolan yang dia suka, yahh atau gak mulai besok lo cari tau kegiatan apa aja yang dilakuin," usul Vina.
Jawaban yang sangat dibutuhkan Maura, dia kini sudah tahu apa yang harus dilakukan. "Ah oke, thanks ya," tanpa menunggu jawaban dari Vina, Maura langsung menutup panggilannya. Tak lama panggilan pun masuk, Satria, nama itu tertera dilayarnya.
"Hallo Sat," jawab Maura sabar.
"Maura kamu kemana aja sih? Udah seminggu kamu gak mau angkat telfon aku, semua sosmed aku kamu blokir. Kamu mau ngejauhin aku? Aku nunggu jawaban kamu."
Baru saja berbicara kembali sudah seperti ini, menambah tingkat kemalasan Maura semakin bertambah. "Aduh Sat, harusnya lo nyadar diri, kalo gue ngelakuin itu semua, tandanya gue udah gak mau ada hubungan apapun lagi sama lo."
"Kamu bener-bener mau putus sama aku?"
Maura menatap kuku-kuku tangannya yang indah, ia sudah malas mendengarkan semua perkataan Satria. "Hmm."
"Maura dengerin aku, pikirin ini baik-baik. Aku bisa ngejamin hidup kamu bahagia, aku bakal kerja keras buat kita nanti, jadi apapun yang kamu mau kamu tinggal minta. Please Ra, jangan kayak gini lah. Aku udah terlanjur cinta sama kamu," mohon Satria yang sudah membuat Maura malas.
"Satria, makasih buat semuanya yang udah lo kasih buat gue. Tapi sorry gue udah gak bisa lanjutin hubungan ini. Kita temenan aja ya."
"Pikirin baik-baik Maura! Banyak perempuan cantik yang ngantri buat jadi pacar aku, tapi— "
"Satria! Setiap cewek itu beda-beda. Gue mohon lo bisa terima keputusan gue," beberapa detik Maura tak mendengar jawaban Satria.
"Kamu bakalan nyesel Ra," gumam Satria. Tutt. Maura mematikan telepon nya. Ia menarik nafas dalam lalu membuangnya dengan kasar. Ia bingung dengan kehidupannya sekarang, ia merasa hampa, tidak ada semangat lagi dan yang lebih parah ia seakan tidak tau tujuan hidupnya.
...▪️◾◼️⬛◼️◾▪️...