Yusuf Maura

Yusuf Maura
30. Masalah Baru Bagi Maura



Yusuf menggelengkan kepalanya dengan yakin. "Gak, kamu bawa lagi aja novel itu. Saya lebih suka karya Habiburrahman."


"Siapa tuh?"


Yusuf menggelengkan kepalanya. "Kamu gak tau? Novel yang beliau buat selalu disukai banyak orang, contohnya Ayat-ayat Cinta, pasti tau filmnya?"


Maura menganggukan kepalanya. "Itu mah udah tau dari dulu, kan pacar gue yang jadi,, siapa sih pemeran utamanya, lupa gue."


"Fahri. Katanya pacar tapi nama diperannya aja gak tau."


Mendengar gumaman Yusuf, Maura tertawa kecil. "Sinis mulu," ejek Maura.


"Kapan-kapan saya ceritain tentang novel cinta temanya islami, lebih adem bacanya, dapet banyak ilmu juga. Baca juga cerita-cerita di zaman nabi, itu gak kalah serunya, nambah pengetahuan."


"Kalo lo yang ceritain gue mau denger."


Yusuf mengangguk, lalu mengangkat telunjuknya sedang. "Tapi gak berduaan kayak gini lagi, sekarang kamu geser, ini pembatas gunanya buat jaga jarak, biar fokus sama buku atau kegiatan masing-masing. Ganti novel kamu itu sama tugas kamu, kerjain sekarang," ucap Yusuf dengan mode serius.


Maura mendengus, menjauhkan kembali kursinya dan mengeluarkan ponselnya. "Satria," gumamnya pelan. Maura segera membuka pesan tersebut, perasaannya mulai tak enak.


'Sayang, aku bikin surprise di Apartemen kamu, semoga suka'


"****, tau dari mana sih password Apart gue," gerutunya, Maura langsung bergegas mengambil tasnya dan berdiri. "Yuf, gue balik dulu ya," ucapnya sekilas dan langsung pergi dengan buru-buru meninggalkan perpustakaan.


"Maura kenapa?" tanya Yusuf pelan pada dirinya sendiri, ia yakin ada sesuatu yang membuat Maura seburu-buru itu.


...---...


Maura mengendarai mobilnya dengan cepat, sesampainya di parkiran apartemen dia langsung berlari ke kamarnya.


Hal yang pertama dia liat ruang tamunya sudah dihias rapi dengan beberapa mawar merah dan beberapa balon silver, dia langsung bergegas membuka kamarnya. Tak kalah hebohnya dengan ruang tamu, kamarnya indah, kelopak bunga mawar di mana-mana, beberapa barang bermerek bertumpukan di atas kasur. Baru sejam dia meninggalkan Apartemen ke kampus, bagaimana dia bisa mendekorasi ini.


"Satria, lo keluar sekarang, gue tau lo masih di sini," teriak Maura dengan nada tak suka.


Sungguh diluar ekspektasinya, yang keluar dari kamar mandi adalah empat orang. "Al? Lo masih deket sama dia? Vina, Ryan, ini maksudnya apaan sih? Kalian sekongkol?" tanya Maura tak percaya.


"Maura! tiup lilinnya dulu," protes Vina.


Dengan malas Maura meniup lilin diatas kue yang dibawa Satria. "Ahhhh, temen gue satu ini udah umur 19 tahun lagiii." Vina memeluk Maura.


"Ihh jelasin dulu Vin!" Maura mencoba melepaskan pelukan Vina.


"Lo balikan sama Satria ya. Dia beneran udah berubah, gue udah ngasih nasihat ke dia. Satria beneran serius sama lo, dia nyiapin ini semua dari kemarin, banyak minta saran ke gue. Tadi pagi aja dia jemput kita bertiga dari jam lima, saking semangatnya. Kita lama nungguin lo berangkat ngampus di parkiran."


Maura melihat Satria sekilas, entahlah rasanya sudah berbeda. "Thanks buat suprise dari kaliannya, Satria gue udah maafin lo, tapi sorry gue gak bisa kalo balikan."


"Yah kok gitu, dia beneran udah banyak berubah, gue yakin dia gak akan kaya dulu." Kali ini Al protes.


"Jangan baperan gitu Ra, gak enak jadi jomblo, inget kalian udah lama pacaran, lo selalu manja ke dia. Sekarang liat kalian diem-dieman gini kayak ada yang aneh."


"Nah bener," sahut Vina setelah ucapan Ryan.


"Sayang, mau ya balikan sama aku."


Maura menggelengkan kepalanya. "Sorry, gue udah gak bisa. Selama ini gue udah banyak sabar buat lo sama keluarga lo, kemaren puncak kesabaran gue."


Satria memberikan kue kepada Al. Ia mendekati Maura, mengambil kotak cincin dari saku celananya. "Aku beneran serius sama kamu, untuk pertama kalinya aku bantah keluarga demi kamu. Mau ya kalo kita tunangan." Satria membuka kotak cincin.


"So sweet," teriak Vina.


Maura mendengus, ia tau betul siapa Satria, tidak mudah menyerah. "Tolong kasih gue waktu lagi buat balikan, tapi sorry buat tunangan gue belum siap. Gue baru semester 3, gue mau tamatin kuliah gue dulu terus cari kerjaan baru."


Satria tersenyum dan memeluk Maura diikutin dengan tepuk tangan Vina dan Ryan, Maura berusaha melepaskan pelukan Satria yang kencang. Dengan kata-kata itu semoga saja setelah ini Satria tidak terlalu mengganggu hidupnya.


...••🖤••...