Yusuf Maura

Yusuf Maura
19. Mantan?



Yusuf yang berjalan terlebih dahulu langsung diikuti oleh Maura, dia berjalan sedikit cepat agar bisa mensejajarkan langkahnya dengan Yusuf. "Thank's ya," ucap Maura yang langsung membuat Yusuf tersenyum sambil mengangguk pelan. "Lo udah punya pacar?" tanya Maura memulai percakapan mereka kembali, lagi-lagi Yusuf tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Tapi kecengan ada kan?" canda Maura sambil tertawa kecil.


Yusuf yang merasa baru mendengar kalimat tersebut menatap Maura dengan kebingungan. "Kecengan?" ulang Yusuf.


Maura memutar bola matanya dengan malas, dia berpendapat jika Yusuf hanya sedang bercanda dengan pertanyaannya sendiri. "Cewek yang lo suka," ucap Maura pada akhirnya.


Raut wajah Yusuf yang kebingungan langsung berubah seakan mengerti, tak lama kemudian Yusuf menganggukkan kepalanya. "Ya ada lah, saya juga normal," kekeh Yusuf.


"Orang sini?" tanya Maura cukup antusias.


Yusuf menggelengkan kepalanya lagi. "Satu pasantren. Insyaallah 4 tahun lagi beres kuliah saya ajak dia nikah," jawab Yusuf dengan nada bercanda.


"Yakin? 4 tahun itu lama loh. Kali aja lo 2 tahun lagi sukanya sama orang Bandung atau gak tuh cewek malah udah nikah sama orang lain," tanya Maura yang hanya niat bercanda berkata seperti itu.


Yusuf hanya tersenyum kecil. "Insyaallah, kalau jodoh gak akan kemana-mana."


"Orang Bandung cantik-cantik loh," goda Maura kembali.


Yusuf diam beberapa detik lalu menganggukan kepalanya. "Iya," jawab Yusuf.


"Temen gue ada tuh yang lagi jomblo, cantik, model. Kalo lo suka bisa gue bantuin," canda Maura kembali, entah mengapa jika dia sudah merasa nyaman pada seseorang sikap anak kecil Maura selalu keluar.


"Makasih, gak perlu repot-repot," jawab Yusuf sambil tersenyum kecil.


"Emm, sok jaim," gumam Maura pelan. "Oh iya, nama lo siapa?" tanya Maura yang baru menyadari jika mereka belum saling memperkenalkan diri.


"Yusuf."


Maura yang mendengar jawaban singkat seakan bingung harus memperpanjang topik pembicaraan, Yusuf terlalu berbeda dengan pada laki-laki yang Maura kenal. "Gak akan nanya balik, nama gue siapa?" tanya Maura membuat Yusuf berhasil tertawa pelan.


"Ya udah, nama kamu siapa?"


"Maura," jawab Maura dengan senang hati.


Benar-benar tidak ada percakapan lagi sampai mereka tiba di depan mobil Maura. "Gimana pak?" tanya Yusuf saat mereka sudah didepan pak Didi.


"Alhamdulillah udah."


Maura langsung membuka mulutnya tak percaya, ternyata tidak selama yang dia pikirkan. "Makasih banget ya pak." Dengan wajah gembira Maura tersenyum. Yusuf mengalihkan pandangannya saat Maura pun menatapnya. "Yusuf, thank's banget ya. Kalo gak ada kalian pasti gue bingung banget."


"Iya, sekarang mau kemana?" tanya Yusuf.


Maura cukup bingung harus menjawab jujur atau tidak, akhirnya dia hanya menunjuk kesembarang arah. "Nyusul temen gue. Gue berangkat sekarang ya, takut dia nyariin. Sekali lagi makasih banget ya Suf, Pak." Pak Didi tersenyum dan mengangguk.


"Hati-hati di jalan," ucap Yusuf.


Maura mengangguk tersenyum. Tak lama kemudian Maura menyalakan mesin mobilnya lalu melambaikan tangannya sebelum ia pergi.


...___...


"Omg Maura, sorry banget ya. Gue baru cek chat dari lo tadi banget," ujar Vina saat Maura duduk di sebelahnya dan mengambil gelas kecil yang ia pegang.


"Bodo," gerutu Maura kesal.


"Jangan marah dong," rayu Vina seakan mencoba untuk meredakan amarah Maura dan mengembalikan mood Maura.


"Makanya jangan pacaran mulu, temen sendiri dilupain. Jalanan sepi tau."


"Terus gimana?" tanya Vina khawatir.


"Ya untung ada Yusuf, dia nolongin gue disaat temen gue sendiri lagi seneng-seneng tanpa gue."


"Udah dong Ra, maafin gue ya. Gue gak akan kaya gitu lagi, sumpah gue gak lupain lo. Tadi gue diajak ngobrol sama..."


Maura mengerutkan keningnya, dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Sama siapa?" tanya Maura pelan.


"Pacar lo, eh mantan lo."


Mendengar itu Maura terkejut, dia menatap Vina dengan tak percaya. "Hah, Satria? Di mana? Gak mungkin di sini kan?" tanya Maura. Ia sangat mengenal Satria dengan baik, Satria tidak akan sudi menginjak kan kakinya ke club. Satria tipe pria yang tidak suka bising, rokok, minuman beralkohol, dan apapun yang akan merusak nama baik keluarganya.


"Tuh." Vina menunjuk kearah belakang Maura. Dengan cepat Maura menengokkan kepalanya kebelakang.


"Lo! Ngapain disini? " pekik maura.