Yellow Lily

Yellow Lily
Bab 9: Kencan Berkedok Jogging



Hari ini sudah memasuki penghujung pekan. Beberapa orang sudah memulai aktivitas di pagi yang indah itu. Mungkin ada yang melakukan lari pagi, atau mungkin juga hanya sekedar jalan-jalan di sekitar taman bersama keluarga masing-masing.


Tetapi, ada juga yang menikmati masa pagi mereka dengan tidur sampai siang. Salah satunya gadis berambut kemerahan itu, yang masih asyik bergelung di kamar tidurnya yang berantakan. Rambutnya berantakan, selimut yang terjatuh mengenaskan di atas lantai yang dingin, dan sprei yang sudah hampir lepas. Dapat dipastikan, jika ada yang masuk ke dalam kamar gadis itu, pasti ia akan berkata kalau kamar itu sama berantakannya seperti kapal pecah.


Suara dering telfon menghiasi ruangan tersebut. Gadis yang masih tertidur itu, membuka matanya sedikit. Kepalanya menoleh ke nakas di dekat kasur. Tangannya menggapai handphone dan mengangkatnya tanpa melihat siapa penelponnya.


"Halo? Siapa ini?" tanyanya dengan suara serak.


"Kamu masih tidur, Jahe? Dasar kebo!"


"Apa sih?! Kalo nelpon hanya mau ngejek aku kayak kebo, mending aku tidur lagi" gumamnya kesal sembari mengusak rambutnya kasar.


"Cepet mandi sana! Habis ini aku jemput jam setengah delapan buat jogging bareng!"


"Hmm... aku tutup ya?" Tanpa menunggu balasan dari orang di seberang sana, gadis itu menutup sambungan telepon itu.


Gadis itu—Jaysha—menguap lebar karena masih mengantuk. Matanya sesekali terpejam dengan keadaan tubuhnya yang masih dalam posisi duduk. Sungguh, ia paling benci diganggu tidurnya saat akhir pekan. Hanya pada hari itu, ia bisa tidur dengan puas. Tetapi, sahabatnya itu tiba-tiba mengajaknya untuk jogging. Tak masalah sih, ia sesekali jogging di pagi hari. Akan berbeda ceritanya kalau itu dilakukan secara mendadak. Apalagi bilangnya saat ia baru bangun tidur, itu akan sangat menyebalkan!


Matanya menatap jam dinding. Masih jam setengah enam pagi. Ia bisa tidur satu setengah jam lagi sebelum gadis berkulit pucat itu datang menjemputnya. Ia menggapai selimut bergambar karakter kucingnya yang tergeletak di lantai, lalu kembali tidur nyenyak.


****


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit. Jaysha belum menunjukkan tanda-tanda ia sudah bangun. Hingga pintu kamarnya terbuka, menampilkan gadis berambut sebahu yang memakai pakaian training. Gadis itu—Yuni—menatap seseorang di balik selimut itu dengan tatapan malas. Padahal tadi ia sudah bilang di telfon kalau ia akan menjemputnya sekitar jam setengah delapan. Dan sekarang? Gadis berambut sedikit kemerahan itu masih tidur dengan enaknya.


Kaki rampingnya berjalan mendekati ranjang. Ia berdecak sembari menatap gadis yang masih tertidur itu. Tangannya menggoyangkan bahu gadis itu pelan.


"Woi, bangun kebo! Udah jam setengah delapan nih!" teriaknya.


"Kamu pergi jogging sendiri aja deh, aku masih mau ngedate sama kasurku"


Gadis berambut sebahu itu menatap Jaysha kesal. Tangan kanannya sudah mengepal erat, bersiap untuk memukul lawannya. Sedangkan tangan kirinya mengelus dadanya pelan, berusaha sabar dengan tingkah sahabatnya sejak tk itu yang sungguh menyebalkan kalau sedang tidur.


Matanya melirik ke atas, memikirkan suatu cara untuk membangunkan gadis jelmaan kerbau itu. Kemudian ia tersenyum miring memikirkan rencananya.


Yuni berjalan menuju kamar mandi di dalam ruangan tersebut. Semenit kemudian, ia membawa segayung air dingin. Setelah itu...


Byur!!!


"YUNI!!!!"


...hanya terdengar teriakan cempreng dari seseorang yang terbangun tidurnya, menggema di dalam kamar tersebut.


****


Kini dua gadis itu bersiap-siap di taman dekat rumah Jaysha. Yuni melakukan pemanasan sebentar. Sedangkan Jaysha sedang mengerucutkan bibirnya kesal dengan tangan bersendekap di depan dada. Sejak berangkat dari rumahnya, gadis itu sudah melakukan 'aksi' ngambeknya kepada Yuni atas insiden 'mari menyiramkan air ke Jaysha yang sedang tidur.' Sudah tahu benci kalau disiram air, masih saja dilakukan. Dasar menyebalkan!


Yuni yang sudah selesai pemanasan kecil, menoleh ke arah bangku taman. Di penglihatannya, gadis berambut kemerahan itu masih saja melakukan aksi ngambeknya. Ia sebenarnya ingin tertawa sih, mengingat kalau dirinya iseng menyiramkan segayung air dingin ke badan gadis itu. Melihat wajahnya yang basah dan kemudian berteriak kesal, itu merupakan kesenangan tersendiri ketika membangunkannya.


Kaki pucatnya melangkah mendekati gadis itu. Ia mengambil tempat duduk di sampingnya.


"Jaheku yang imut-imut kayak garfield... jangan ngambek dong" Yuni menoel dagu gadis itu pelan. Harapannya sih, supaya gadis itu gak lama-lama ngambeknya. Biasanya jika ia menggodanya sedikit, gadis berambut sedikit kemerahan itu langsung tersenyum. Tetapi karena memang sudah sangat kesal, Jaysha tidak tersenyum disaat ia menggodanya.


"Jahe... jangan lama-lama ngambeknya, hmm? Aku gak betah kalo didiemin sama kamu seharian" bujuk Yuni dengan menggoyangkan bahu gadis itu pelan. Jaysha melirik Yuni sebentar, kemudian menggeleng cepat.


Yuni berdecak melihat kelakuan gadis itu. Ia berencana membujuknya kembali, sebelum ada seseorang memanggilnya.


Gadis berambut sebahu itu menoleh ke belakang. Tampak pemuda berambut sedikit keriting—Tama—sedang berjalan menghampirinya dengan seseorang juga. Gadis itu melambai ke arah mereka. Kemudian matanya mengerjap pelan. Tunggu? Dia mengajak kak Juna?!


"Hei, ngapain bengong?" tanya Tama bingung.


Yuni menyenggol lengannya pelan, "Bukannya tadi lo bilang kalo lo kesini sendirian? Lha kok ini malah ngajak kak Juna?" bisik gadis itu pelan.


"Oh, emang tadi gue kesini sendirian. Tapi tadi ketemu Juna di jalan, ya udah dia sekalian bareng jogging. Ya kan, Jun?"


Pemuda bersurai hitam legam itu mengangguk pelan. Yuni memandangnya dari atas ke bawah. Pemuda itu hanya memakai kaos polos hitam dan celana training selutut berwarna hitam, denga handuk kecil menggantung di bahu kirinya. Sumpah, terlihat tampan dari segi manapun.


"Kenapa tuh si Jahe? Ngambek dia sama lo" tanya Tama menunjuk seseorang di bangku dekat mereka berdiri. Yuni mengangguk pelan.


"Dia ngambek gara-gara gue siram dia pas enak-enaknya tidur. Salahnya sendiri, dibangunin pake cara baik-baik gak mempan" ujar Yuni kesal.


"Kalian mulai jogging duluan sana, gue coba bujuk dia" sahut Juna dengan mata yang menatap Jaysha dari kejauhan.


"Yakin lo, Jun?"


Juna mengangguk yakin. Akhirnya Tama dan Yuni melakukan jogging berdua. Sedangkan Juna berjalan menghampiri Jaysha yang masih duduk disana. Ia mengambil tempat duduk di dekat gadis itu.


"Gak mau tahu ya, pokoknya masih aku ngambek sama kamu. Kalo kamu mau aku ngambeknya kelar, beliin mie ayam depan kompleks" omel Jaysha, tanpa melihat siapa yang diomelinya.


"Oh, jadi kepengin mie ayam ya Jay?"


Gadis itu menoleh ke sampingnya. Mata sipitnya melotot kaget melihat Juna yang kini tersenyum menyapanya.


"Lho? Yuni kok berubah jadi kak Juna? Apa kamu jelmaan jin ya?"


Juna menjitak dahi gadis itu pelan, menimbulkan ringisan pelan keluar dari mulut sang korban. "Ini emang gue, Jay. Masa' disamain sama benda tak kasat mata itu" omelnya. Pemuda itu beranjak dari duduknya. Ia mengulurkan tangannya ke arah gadis itu.


"Ayo jogging bareng, biar badanmu sehat"


Jaysha menatap uluran itu sebentar, kemudian ia beranjak dari duduknya. Gadis itu mengangguk kemudian mereka berdua berlari bersama.


Tetapi, masih selang tiga puluh menit kemudian, gadis berambut sedikit kemerahan itu sudah berhenti duluan. Ia berjongkok dan menetralkan nafasnya. Matanya menatap Juna yang berada jauh di depannya.


"Kak.. Juna... berhenti dulu kak.. hah.. capekhh.."panggilnya dengan nafas ngos-ngosan. Juna menoleh ke belakang, kemudian tersenyum tipis. Ia menghampiri gadis itu yang masih sibuk berjongkok di bawahnya.


"Nih, diminum dulu airnya" Juna menyodorkan botol minumnya yang masih utuh. Gadis itu menerimanya dan menenggaknya rakus.


"Kak, istirahat dulu ya? Dah laper, pengin makan mie ayam" pinta gadis itu yang langsung ditolak dengan gelengan dari Juna.


"Habis olahraga jangan makan mie dulu. Gue beliin buah potong aja gimana?" tawar Juna.


Gadis itu akhirnya mengangguk pasrah. Kemudian mereka berjalan untuk membeli buah potong buat Jaysha.


"Tahu begini gak usah makan deh" gumam gadis itu pelan.


"Jay!!" tegur Juna dengan pelototan tajam


"Iya deh iya kak, aku makan buah dulu!!" jawab Jaysha dengan wajah cemberut kesal.