Yellow Lily

Yellow Lily
Bab 13: Mancing Bareng



Apa sih kegiatan wajib selama liburan tahun baru di keluarga Jaysha? Tentu saja, memancing di kolam empang keluarganya yang ada di belakang rumahnya. Apalagi sekarang, si kepala keluarga sedang sibuk menyiapkan peralatan memancingnya, bersama si anak bungsu kesayangan keluarga. Sedangkan Jaysha bersama ibunya sedang memasak di dapur.


Gadis itu sedang sibuk menghaluskan bumbu-bumbu yang sudah diracik ibunya. Tapi ada yang aneh dengan penampilannya. Bukan karena ia masih memakai kaos oblong dan celana kulot selutut, bekas ia tidur semalam. Kalau yang itu bukan hal aneh lagi, karena gadis berambut sedikit kemerahan itu memang malas kalau disuruh mandi pagi-pagi, terlebih lagi saat  liburan.


Tetapi hal yang menjadi aneh dan lucu adalah, gadis itu menghaluskan bumbu di cobek dengan mata yang memerah karena menahan rasa perih di mata. Untuk ukuran gadis yang mendekati usia 17 tahun, seharusnya ia sudah handal untuk urusan dapur. Tapi, memang ia yang jarang sekali menghaluskan bumbu yang lumayan banyak seperti saat ini, makanya ia tidak kuat untuk menahan perih karena aroma bawang merah yang menyengat.


Karena tak kuat menahan rasa perih, ia berhenti sebentar, memejamkan matanya supaya tidak terasa perih lagi. Ibunya yang tak sengaja berbalik untuk mengambil pisau di dekat Jaysha, seketika tertawa melihat anak gadisnya menangis.


"Anak gadis cap opo kamu itu? Melakukan itu saja sudah nangis duluan" ejek ibunya dengan tawa kecil dan juga tangan yang sibuk menggoreng.


"Ini namanya menghayati, bun! Biar yang makan merasakan kalau aku melakukan hal ini dengan penuh perjuangan!"


Terdengar suara ringisan kesakitan dari mulut gadis itu. Bagaimana tidak, kepalanya yang tak bersalah dipukul oleh ibunya dengan centong nasi.


"Jangan lebay kamu! Kamu hanya berurusan dengan bumbunya saja, bukan sambil memasak juga! Lagian, jika bunda menyuruhmu menggoreng ikan juga gak mau kan?"


Jaysha tertawa kikuk, "Nah, ternyata udah tahu gitu lho~ Jadi, aku mancing aja ya sama ayah, boleh kan bundaku yang cantiknya mengalahkan bidadari?" pintanya.


"Gombal mulu kamu ya, kayak bapakmu! Ya udah sana pergi ke empang, jangan balik sekalian!"


Jaysha mengacungkan jempolnya sembari tersenyum manis. Ia meletakkan uleg-uleg yang ia gunakan tadi dan menyusul ayahnya ke empang. Langkah kakinya berhenti di pohon mangga dekat empang. Disana nampak ayahnya yang menyiapkan umpan da adiknya yang sudah memulai aktivitas memancingnya.


"Yah!! Ikut dong!" teriak gadis itu dari posisinya saat ini. Ayahnya menggelengkan kepalanya dari seberang sana.


Gadis itu merengut kesal. "Kok gak boleh?! Padahal Alvin boleh? Biasanya juga yang ikutan mancing kan aku yah, daripada si kucing kecil itu!"


"Woi Kak Rena, aku dibawa-bawa!" teriak Alvin—adiknya—tak terima.


Ayahnya menggeleng kecil dari seberang sana. Tangannya menyerahkan kail pancing yang sudah diberi umpan pada Alvin, menyuruhnya untuk memegangnya sebentar. Kemudian pria paruh baya itu menghampiri anak gadisnya yang masih cemberut karena kesal


"Kalo mau ikutan mancing, bawa calon mantu ayah itu kesini dulu"


Gadis itu menaikkan sebelah alisnya dengan pandangan yang bertanya-tanya. Kenapa Juna harus dibawa kesini juga? Kan ini hanya acara keluarga biasa, pikirnya bingung.


"Kenapa harus bawa kak Juna juga? Dia kan juga punya acara sendiri di rumahnya yah"


"Mau ayah tes, apa ia jago mancing apa gak? Kalo gak jago, ayah batalkan restu ayah buat dia jadi calon mantu di keluarga kita" 


Dan bolehkah gadis itu memukul kepalanya sekarang? Ia menyesal telah menanyakan pertanyaan itu pada ayahnya yang super menyebalkan jika sudab berurusan dengan anak laki-laki.


****


Suara bel yang memenuhi ruangan mengusik perhatian Jasyah akan tontonan film di layar Tv keluarga. Disusul adiknya yang ikut nimbrung di sofa dengan sepiring makanan yang ia bawa dari dapur. Matanya mengisyaratkan supaay kakaknya segera membukakan pintu.


"Kamu aja vin, aku mager buat ke depan bukain pintu" Jaysha memencet remote tv ogah-ogahan. Tangan kanannya usil mencomot ikan bakar milik Alvin, yang dihadiahi tepukan keras di tangannya.


"Udah sana, kak! Bukain pintunya! Kalo aku yang buka, nanti malah kuusir dia karena mengganggu acara makanku"


Jaysha mendengus kasar. Kakinya ia langkahkan menuju pintu depan dengan wajah yang cemberut. Ia membuka pintu, mendapati sosok pemuda yang tersenyum menyapanya.


Wajah cemberut gadis itu digantikan dengan senyuman manis. Ternyata yang memencet bel sedari tadi yaitu Juna, yang ia kirimi pesan untuk segera kemari. Matanya melirik ke barang bawaan di tangan kiri kekasihnya.


"Apaan tuh kak? Sogokan buat ayah?"


Juna melirik barang bawaannya, lalu mengangguk kecil. "Cuman gorengan doang kok, mungkin aja ayahmu suka"


Gadis itu membuka pintu lebih lebar, mempersilahkan pemuda itu supaya masuk. Mereka berjalan beriringan menuju ruang keluarga. Disana sudah berkumpul ibu dan ayahnya juga, yang sedang menonton tv. 


"Pagi Om, tante"


Mereka bertiga berbalik, hanya untuk mendapati Juna yang menyapa mereka. Ibunya Jaysha tersenyum simpul, sedangkan ayahnya sudah beranjak berdiri dari duduknya.


"Nak Juna, ayo ke kolam empang. Aku akan mengetesmu"


Juna menatap Jaysha dengan tatapan khawatir. Gadis itu menenangkannya dengan mengelus pelan tangan Juna.


"Semangat!" gumamnya tanpa suara. Juna menganggukkan kepalanya. Ia mengikuti ayah Jaysha dari belakang.


Jaysha menatap mereka berdua dengan tatapan yang tak kalah khawatirnya. Jujur saja, ia khawatir kalau Juna tidak bisa memenuhi target keinginan ayahnya. Kalau itu benar-benar terjadi, bisa-bisa ia disuruh putus duluan sama ayahnya.


"Ikuti Juna sana, bantuin dia kalo kesusahan ngadepin ayahmu itu"


Gadis itu mengangguk kecil lalu menyusul kedua orang tadi menuju kolam empang. Disana terlihat jika ayahnya seperti menyuruh Juna untuk mencari umpan di dekat pohon pisang. Ia tertawa kecil saat melihat betapa seriusnya pemuda tinggi itu mencari umpan untuk memancing.


Langkah kakinya menghampiri sang ayah yang sudah mulai memancing sendirian. Gadis itu mengambil tempat duduk di sebelah ayahnya sambil memperhatikan Juna di seberang sana.


"Yah, gak keterlaluan nih nyuruh kak Juna nyari umpan disana? Bukannya tadi udah dicariin sama Alvin?" tanya Jaysha.


"Biarkan saja, disana masih ada banyak kok umpannya" balas ayahnya cuek bebek.


Beberapa menit kemudian, Juna akhirnya bergabung bersama mereka dengan umpan yang ia bawa. Mereka memancing ikan lele di kolam empang tersebut.


Sempat terbesit di pikiran Jasyha, bukannya lebih enak langsung terjun untuk mengambil ikannya ya? Kenapa harus mancing?


Jawabannya langsung muncul saat ia mendapati Alvin, mengendap-endap di belakang tubuhnya. Pemuda yang tidak lebih tinggi darinya itu akan mengejutkan ayahnya dari belakang.


"WAH!! ADA LELE BESAR!!"


Sialnya, yang terkejut bukan ayahnya, melainkan Juna. Pemuda itu langsung terjatuh ke kolam empang itu, diiringi gelak tawa Alvin yang nampak tak merasa bersalah.


Gadis itu menjewer telinga adiknya keras. Setelah itu, ia dikejutkan dengan suara teriakan kesakitan dari Juna.


"ADUH!! TANGANKUU!!"


Yah, seharusnya memang ia tak membawa kekasih tampannya itu kesini jika tahu kejadiannya akan seperti ini. Ingatkan dia jika gadis itu harus membujuk Juna supaya tak ngambek padanya.